Catatan

Ketika Bokong Mioku Dicium Angkot

halo, matahari yang sedih. awan yang baru saja mandi dan sikat gigi. pagi ini aku menyimpan kenangan di saku waktu. sengaja untuk menjaga agar ia tidak hilang, jika suatu hari dibutuhkan. tapi sebetulnya kenangan itu adalah penggaris. tempat kita mengukur, sejauh mana kita melangkah. seperti matahari hari ini yang sudah dikantongku. ia akan terus bercahaya dan berpijar dalam detik yang kutinggalkan. ia tinggal bersama sebatang angkot yang mencium bokong mioku. Mioku menangis, tapi aku lebih miris. knalpot berdarah-darah dengan sisa ciuman mesra angkot biru yang menyisakan lipstiknya di bibir knalpotku. sesungguhnya ciuman tak selamanya bahagia, ia bisa saja hanya tersekat lembar perih dan cinta. sehingga, memuncratkan rasa yang warnanya serupa daun kamboja. pekat.pekat….

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s