Catatan

CERMIN PENDIDIKAN, FOKUS PADA INTELEKTUAL LUPA PADA MORAL

Ditulis oleh: Anita Putri Lesmana

Judul               : Tak Sempurna

Editor              : Fahd Djibran dan Bondan Prakoso & Fade2Black

Penerbit           : Kurniaesa Publishing

Harga              : Rp 46.000,00

Tebal Buku      : i x 245 halaman

Tahun Terbit    : 2013

ISBN               : 978-602-7618-15-2

Gambar Karya sastra adalah hasil sebuah perenungan yang mendalam dari seorang pengarang dengan media bahasa. Pengarang menuangkan pikiran, perasaan, pengalaman, ide-ide, dan semangat keyakinan dan kepercayaannya yang diekspresikan ke dalam sebuah karya sastra. Karya sastra mampu memberikan kesadaran dan pengalaman batin bagi pembacanya. Menurut Sumardjo dan Saini (1991: 10), pengalaman manusia merupakan akumulasi yang utuh karena meliputi kegiatan pikiran, nalar, kegiatan perasaan, dan khayal. Kenyataan adalah sesuatu yang dapat merangsang atau menyentuh kesadaran manusia, baik yang ada dalam dirinya, maupun yang ada di luar dirinya.

Dunia pendidikan atau dunia sekolah merupakan dunia yang sangat kompleks yaitu miniatur kehidupan manusia. Pendidikan membutuhkan sebuah sistem yang dapat mengatur jalannya pendidikan dengan baik. Sistem pendidikan yang tak ramah anak, hanya akan menciptakan generasi-generasi robot, yaitu penurut namun tanpa kecerdasan kreativitas dan kecerdasan moral. Akhirnya generasinya akan tergelincir dengan melakukan korupsi, seks bebas, tindak kekerasan dan kejahatan. Keadaan ini tergambar dari novel karya Fahd Djibran dan Bondan Prakoso & Fade2Black yang berjudul Tak Sempurna.

Tak sempurna ini bercerita tentang sistem pendidikan yang salah yang ada di suatu kota di Indonesia. Sebuah kota yang anak-anaknya tumbuh tanpa memperoleh kasih sayang dari keluarganya karena mayoritas mereka tumbuh dari keluarga broken home. Akan tetapi, mereka tetap bisa merasakan sekolah. Namun, sekolah hanya dijadikan tempat “penitipan anak” bagi orang tua yang sibuk atau “tempat pembuangan anak” bagi orang tua yang tak peduli pada mereka dan ajang adu gengsi.

Dalam cerita ini, ada seorang anak yang bernama Rama Aditya Putra, yang biasa dipanggil Rama. Dia bersekolah di SMA Lazuardi. Saat di sekolah, dia menemukan hal-hal yang seharusnya tidak ditemukan di sekolah, seperti; berkata-kata kotor, guru-guru munafik, menonton video porno, seks bebas, narkoba, minum-minuman keras, dan sebagainya dapat mereka lakukan dengan bebas tanpa ketahuan guru dan orang tua. Selain itu, mereka juga  dididik untuk berkelahi oleh senior-seniornya agar mereka dapat melawan musuh saat tawuran antarsekolah. Di sinilah mereka tidak pernah menghargai guru atau orang yang lebih tua sehingga mereka bisa melawan orang-orang yang lebih tua dari dirinya tanpa segan dan merasa bersalah.

SMA Lazuardi sering sekali melakukan tawuran dengan SMK Citra Bangsa yang penyebabnya hanya hal-hal kecil, seperti: saling mengejek antarpelajar yang berbeda sekolah, rebutan wanita,dan hal lainnya. Menurut mereka tawuran ini sebagai wujud mempertahankan harga diri. Walaupun tawuran ini sering sekali memakan korban. Namun, hal ini tidak membuat mereka jera. Masing-masing sekolah ada seorang siswanyanya yang meninggal saat tawuran berlangsung. Mereka terus memiliki rasa dendam antarsekolah sehingga tawuran terus terjadi dan tidak bisa dihindari.

Sampai suatu ketika kedua sekolah itu mengadakan rekonsiliasi, yaitu semacam perjanjian untuk berdamai antarsekolah. Meskipun sudah dilakukan hal seperti itu, tawuran pun masih tetap terjadi. Akhirnya, antarsekolah membuat keputusan jika siswanya masih ada yang melakukan tawuran akan dikeluarkan dari sekolah dengan tidak hormat dan polisi akan menindaknya secara tegas sesuai hukum yang berlaku. Semoga peristiwa ini bisa membuat para siswa jera.

Cerita ini memberikan pesan kepada para pembaca khususnya para peserta didik bahwa untuk mempertahankan harga diri tidak dengan berkelahi atau tawuran antarpelajar sebab dengan berkelahi atau tawuran tidak ada untungnya dan tidak menyelesaikan masalah, bahkan hanya menimbulkan masalah-masalah baru dan menciptakan musuh yang banyak. Seharusnya peserta didik tidak menyelesaikan suatu masalah dengan emosi dan jangan sampai emosi menguasai diri kita sehingga kita melakukan hal-hal asusila. Masalah yang terjadi diselesaikan dengan kepala dingin dan memikirkan risiko-risiko yang akan terjadi agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.  Inilah tugas para pendidik untuk dapat mampu menanamkan ilmu agama yang baik kepada peserta didik agar mereka  memiliki moral dan akhlak yang baik juga.

Kelebihan dari novel ini, dilihat dari segi fisiknya yaitu: cover buku yang menarik, sebab gambar covernya seragam sekolah yang berdarah dengan maksud menggambarkan isi dari cerita novel tersebut yaitu terjadinya tawuran yang menyebabkan para siswa luka-luka bahkan sampai meninggal. Tulisan dan lembaran-lembaran kertas utuh dan jelas (tidak ada bagian yang hilang). Dilihat  dari segi isinya, alur yang digunakan dalam cerita ini jelas karena ceritanya saling berkesinambungan antara bagian pertama ke bagian selanjutnya, “Aku tak ingin bel tanda pelajaran berakhir membunyikan babak permulaan sebuah “peperangan” (hal. 47). Di bagian selanjutnya menceritakan risiko dari tawuran “kehilangan satu kaki benar-benar tak pernah kubayangkan sebelumnya” (hal. 89), di bagian selanjutnya juga menyatakan penyesalan atas perilaku yang telah dilakukannya yaitu tawuran “Rama bener-bener nyesel dan Rama pengen minta maaf sama mama” (hal. 107). Gaya bahasa yang digunakan dalam cerita ini gaya bahasa anak muda sehingga mudah dipahami oleh para pembaca.

Hal yang menarik dari cerita ini juga terlihat dari  isi ceritanya, menceritakan realita yang terjadi dalam pendidikan masa kini mengenai tawuran, seks bebas, tidak menghargai orang yang lebih tua, memakai narkoba, dan lain sebagainya. Semua itu dapat dilakukan dengan bebas tanpa ada guru atau orang tua yang mengetahuinya.  Oleh sebab itu, sistem pendidikan harus diperbaiki agar tidak menciptakan generasi penerus yang hancur yaitu dengan tidak memiliki moral yang baik. Jika sudah dapat menciptakan sistem pendidikan dan para pendidik yang baik maka akan memperoleh generasi penerus yang baik juga.

Selain itu, latar/setting yang digunakan dalam cerita ini juga jelas dan detail. Khususnya, latar waktu dalam cerita ini disertai dengan tanggal, pukul, atau bahkan tahun “14 September 2011, setahun lalu, salah satu teman kami, Andri terbunuh di jalan ini, Jalan Bypass…” (hal.63).  Sudut pandang yang digunakan dalam cerita ini yaitu orang pertama sebagai tokoh utama karena dia menceritakan dirinya sendiri dan menggunakan kata ganti aku, “sekarang, mungkin semua  yang kuceritakan ini terdengar berlebihan” (hal.13). Akan tetapi, ada beberapa hal yang membuat cerita ini kurang lengkap yaitu tidak menceritakan mengenai akhir dari cerita ini, apakah para siswa jera untuk tidak tawuran lagi  sehingga pembaca tidak mengetahui perasaan dari akhir cerita ini. Dalam cerita ini, pengarang menggunakan bahasa anak muda, sehingga muncul kata-kata yang kotor atau kasar, seperti: “tai, lo!” (hal. 67), “Anjing! Chibabanx udah deket!”.

Cerita ini memiliki tingkat keterbacaan yang cukup tinggi sebab mudah dipahami oleh para pembaca. Selain itu juga bahasa yang digunakan oleh pengarang bahasa anak muda sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Cerita ini menceritakan tentang realita yang terjadi dalam sistem pendidikan saat ini sehingga para siswa dapat  melakukan pergaulan bebas, narkoba, para pendidik yang memaksa para siswa untuk menjadi apa yang para guru inginkan, mereka tidak diberikan kebebasan untuk mempunyai mimpi dan harapan sesuai dengan keinginan mereka, “pak guru, bu guru! Saya  ingin menciptakan pohon baru. Pohon yang tidak dipunyai oleh siapapun” (hal. 42). “Tidak boleh kamu hanya boleh menanam pohon yang benihnya telah kami siapkan” (hal. 43). Setelah peristiwa itu, siswa tersebut menjadi generasi yang hancur sebab dia tidak mempunyai pohon impian sesuai apa yang dia inginkan.

Cerita ini cocok dibaca oleh para orang dewasa, khususnya orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan agar mereka dapat memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia dan menciptakan generasi penerus yang baik moralnya, akhlaknya, dan berkualitas dalam segala hal. Selain buku ini cocok dibaca untuk orang dewasa, buku ini juga cocok digunakan oleh para remaja agar ia dapat mengambil banyak pelajaran yang diceritakan di dalam buku ini.  Dengan membaca cerita ini dijamin pembacanya akan merasa ikut terbawa dalam situasi yang mencekam dan dapat memetik banyak manfaat dari ceritanya. Selamat membaca!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s