Cerpen

Gelang

Kalau bukan dipaksa mertuanya, mungkin Farah tak akan pernah datang ke tempat pengajian ini. Lihat saja, semuanya hanya ibu-ibu yang mungkin menginjak umur lanjut usia. Tapi, baginya menghormati permintaan mertua sama saja menghormati kedua orang tuanya. Tentu saja, karena ia masih ingat betul bagaimana kedua orang tuanya menyerahkan dirinya kepada Bu Asih, orang tua Jamal, lelaki yang dikasihinya itu.

Beberapa hari terakhir ini memang Bu Asih sakit, badan Bu Asih panas dan mukanya tampak begitu pucat. Makanya kemudian Farahlah yang disuruh hadir untuk datang ke Majlis Taklim.

Baginya, pengajian Majlis Taklim tak jauh berbeda dengan arisan. Hanya saja, ibu-ibu itu masih mengaji Al-Quran dan sesekali mendengarkan ceramah ustadz maupun ustadzah yang sengaja diundang. Karena jauh di luar itu, ibu-ibu itu selalu saja memamerkan dirinya atau mungkin keluarganya.

“Anak saya baru diterima di UI lho!” ujar seseorang.

“Gaji anak saya sebulan bisa tiga juta. Bayangkan Bu? Sebulannya saya dikasih lima ratus ribu, enak tidak Bu?” lanjut yang lain tak kalah sengitnya.

“Biar hanya mantu, Kasim itu berbakti sekali padaku, tak jarang ia memberikan sepatu atau baju baru,” kata yang lain.

Kalau sudah begini Farah jadi pusing. Makanya ia tak mau ambil bagian dalam omongan-omongan yang tak sesuai dengan forumnya ini. Setidaknya, bukankah ini Majlis Taklim? Seharusnya kita menuntut ilmu bukan malah menelanjangi ilmu yang kita dapat dengan mengumbar riya, ujub atau bahkan ghibah seperti yang ibu-ibu pengajian itu lakukan. Farah menjadi begitu muak.

Namun, akhirnya Farah tidak tahan dengan Bu Haji yang duduk di sampingnya itu, sejak awal Farah mengaji, ia tak henti memamerkan gelangnya.

“Ini harganya mahal lo Bu! Masnya murni, dari Mekkah al-mukarromah pula. Coba lihat Bu!” ujarnya terus. Farah masih tak menggubrisnya.

Namun, Bu Haji itu seakan tak patah arang begitu saja. Ia masih saja terus menyerocos.

“Ini dari calon memantu saya. Wah, calon menantu saya itu bukan main tampannya, baik hati pula.”

Farah mulai tidak tahan, ia pun memandang gelang emas yang sedari tadi diperlihatkan di hadapannya itu. Bu Haji tampak puas, tapi kemudian kecewa setelah Farah berkata.

“Saya tahu, itu gelang mahal. Saya percaya pada Ibu, calon mantu ibu tampan. Tapi ingat lho Bu! Tak semua yang mahal itu bagus dan tak semuanya yang indah itu di dalamnya mutiara.”

Mungkin karena merasa terseinggung, Bu Haji langsung pergi meninggalkannya dengan muka masam. Farah hanya tersenyum memandangnya. Dalam hati Farah merasa sungkan karena telah berkata sedemikian kasarnya. Farah jadi merasa bersalah. Tapi akhirnya farah memutuskan untuk kembali melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda beberapa saat tadi, yakni malafalkan kalam Allah.

***

Minggu yang lalu Farah sengaja tak hadir ke Majlis Taklim, penyakit Bu Asih semakin parah, berkali-kali orang tua itu mengeluarkan isi dalam perutnya. Tampak begitu payah sekali keadaan Bu Asih sehingga untuk meninggalkan barang sejenak pun Farah tidak tega. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk tidak mengaji minggu lalu.

Karena Bu Asih masih sakit, tetapi tak terlalu parah seperti minggu lalu, maka Farah akhirnya memutuskan kembali mengaji. Namun, sesampainya di Majlis Taklim, ibu-ibu memandang aneh ke arah diri Farah. Entah apa yang terjadi. Namun seperti biasa Farah tetap tak peduli hingga pada akhirnya seorang ibu yang Farah kenal cukup akrab datang menghampirinya.

“Kamu mencuri gelang?” tanyanya pelan.

“Mencuri?” Farah malah balik bertanya seakan tidak percaya.

“Bu Haji menuduhmu mencuri! Karena tidak ada yang tahu gelang itu, selain kamu!” ujarnya lagi.

Farah malah memandangnya heran. Bagaimana aku bisa mencuri? Untuk apa aku mencuri? Gaji suamiku sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi hasil menulisku, tentu saja menambah pemasukan keluarga. Kalaupun kemarin mertuaku harus banyak ke dokter. Semua biayanya hasil dari honorarium menulisku cukup menutupinya. Lantas untuk apa aku mencuri? Ujar Farah dalam hati.

“Jangan dekat-dekat. Ada pencuri!” bisik seseorang yang mungkin sengaja agak dikeraskan agar Farah mendengar bisikan itu. Namun Farah berusaha tak menggubrisnya.

“Awas gelangmu nanti hilang,” ujar yang lain, suara itu terdengar sama seperti suara yagn lain.

“Mungkin juga kalungmu,” ujar yang lain menimpali.

“Hati-hatilah,” lanjut yang lain.

Bisik-bisik para ibu di Majlis Taklim itu pada akhirnya menyakiti perasaan Farah. Ingin sekali Farah menjelaskan, namun mereka seakan tak peduli dan memandang sinis terlebih dahulu. Ya Allah bantulah hambamu ini menjelaskan semua ini, ujar Farah di dalam hati.

Ia pandang Bu Haji yang baru masuk, namun Bu Haji tak segera menghampirinya. Menurut cerita tetangga yang kini duduk di sampingnya itu, kemarin ia teriak-teriak menyebut nama Farah, sambil mencak-mencak bahwa Farahlah yang mencuri gelang seharga tiga juta setengah itu.

Namun entah mengapa kini Bu Haji malah duduk memojok dan tak berkata sedikitpun. Mungkin Bu Haji malu karena kehadiran Farah. Tentu saja Farah dapat membaca itu di raut wajahnya yang tadi sempat berbenturan. Tapi kenapa malu? Apakah dia sudah tahu hal yang sebenarnya terjadi bahwa gelang itu bukan Farah yang mencurinya? Kalau hal itu terjadi, Farah amat bersyukur. Terlebih ia tidak mau Bu Asih mendengar perkara ini, karena bisa saja hal ini membuat sakit Bu Asih bertambah parah, hal itulah yang tidak diinginkan Farah.

Seorang ustadzah yang diundang sudah memulai ceramahnya. Suaranya menggaung ke seluruh penjuru ruangan. Namun, tetap saja sebagian ibu-ibu masih saja asyik menceritakan cincin barunya, kerudung indahnya, cucu-cucunya yang cantik dan pintar dan entah masih banyak lagi yang lainnya. Semakin banyak Farah mendengarnya, semakin mual ia pada mereka.

“Hendaknya kita menjaga mulut kita. Semakin banyak kita bicara, bisa saja semakin banyak dosa kita. Kenapa saya bilang demikian? Sebab saat ini, banyak yang kita ucapkan adalah kesombongan, kebohongan atau bahkan fitnah maupun ghibah. Ingat Bu! Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,” ujar ustadzah itu membungkam mulut ibu-ibu yang sedari tadi bicara. Sebagian mungkin merasa tersinggung dan bersalah, sehingga tertunduk begitu saja setelah mendengar kata-kata itu. Kata-kata ustadzah tadi tidak ubahnya seperti mata pisau yang telak menusuk ulu hati mereka.

“Bukan mustahil, mulut kitalah yang pada akhirnya membawa kita ke neraka. Ingat, ke nerakah! Untuk itu, marilah jaga mulut kita! Ucapkanlah kalimat thoyyibah, biar berbuah pahala. Karena mulut pulalah yang bahkan kelak dapat membawa kita ke surga!” lanjut ustadzah itu.

Ibu-ibu masih diam. Khusuk mendengarkan. Tanpa sengaja Farah memandang Bu Haji. Di pipi perempuan tambun itu penuh air mata. Entah apa yang terjadi padanya hingga pipinya menjadi begitu basah, melunturkan bedak tebalnya. Namun Farah berusaha tak menggubris kejadian itu, Farah memfokuskan diri untuk mendengarkan kembali kata-kata ustadzah sambil sesekali berdoa semoga dirinyalah salah satu penghuni surga-Nya. Karena tujuan hidup adalah ibadah dan jalan satu-satunya menuju surga adalah ibadah. Farah berdecak kagum dengan ustadzah itu, mudah-mudahan mampu menyadarkan ibu-ibu di sini.

***

Pertemuan selanjutnya, Farah tak melihat Bu Haji datang ke Majlis Taklim. Namun, tetap saja pengajian ini ramai dengan perkataan-perkataan yang tak Farah harapkan. Farah hanya mengaji di sudut seperti biasa. Hingga akhirnya Farah mendengar kisah Bu Haji dari mulut tetangganya.

“Kau tak bersalah,” ujarnya mengawali pembicaraan.

“Memang ada apa?” tanya Farah kembali.

Kemudian tetangga itu bercerita tentang Bu Haji yang tertipu oleh calon mantunya itu. Ternyata yang mencuri gelang adalah calon mantunya, atau mungkin tepatnya mengambilnya kembali setelah ia juga mencuri beberapa cincin dan gelang emas milik Bu Haji. Selain itu, sekitar tiga juta lebih uangnya juga ikut amblas.

Farah seperti tak lagi mendengar kata-kata tetangganya itu, ia hanya mengingat kembali bagaimana air mata Bu Haji jatuh. Apakah air mata itu yang kelak membawa Bu Haji ke surga?

Entahlah, Farah hanya membaca kembali kalam-Nya, semakin dalam ia membaca, semakin teguh ia menjadi alif-Nya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s