Catatan

PENGEMBANGAN KETERAMPILAN MENULIS

Pendahuluan

Kemampuan berbahasa adalah kemampuan menggunakan bahasa. Kemampuan itu terlihat di dalam empat aspek keterampilan. Keempat aspek itu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Kemampuan mendengarkan dan membaca disebut kemamampuan reseptif sedangkan kemampuan berbicara dan menulis dinamakan kemampuan produktif. Kemampuan reseptif dan kemampuan produktif dalam berbahasa merupakan dua sisi yang saling mendukung, saling mengisi, dan saling melengkapi. Seseorang yang ingin mengembangkan kemampuan berbicara dan menulis, mestilah banyak mendengar dan membaca.

 

Menulis termasuk aspek kegiatan berbahasa yang dianggap sulit. Hal itu dikeluhkan oleh banyak orang. Peserta didik di pendidikan dasar dan menengah, mahasiswa di pendidikan tinggi, dan bahkan orang-orang yang sudah menamatkan perguruan tinggi pun mengeluhkan sulitnya menulis. Akibat keluhan itu akhirnya menjadi opini umum, bahwa menulis itu memang sulit. Apakah memang menulis itu sulit? Inilah pertanyaan yang perlu dijawab sebenarnya.[1]

Menulis seperti halnya kegiatan berbahasa lainnya, merupakan keterampilan. Setiap keterampilan hanya akan diperoleh melalui berlatih. Berlatih secara sistematis, terus menerus, dan penuh disipilin merupakan resep yang selalu disarankan oleh praktisi untuk dapat atau terampil menulis. Tentu saja bekal untuk berlatih bukan hanya sekedar kemauan, melainkan juga ada bekal lain yang perlu dimiliki. Bekal lain itu adalah pengetahuan, konsep, prinsip, dan prosedur yang harus ditempuh dalam kegiatan menulis. Jadi, ada dua hal yang diperlukan untuk mencapai ketrampilan menulis yakni pengetahuan tentang tulis-menulis dan berlatih untuk menulis karena menulis merupakan sebuah keterampilan berbahasa yang terpadu, yang ditujukan untuk menghasilkan sesuatu yang disebut tulisan.

 

Menulis bukan pekerjaan yang sulit melainkan juga tidak mudah. Untuk memulai menulis, setiap penulis tidak perlu menunggu menjadi seorang penulis yang terampil. Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untuk mempraktikkannya tidak cukup sekali dua kali. Frekuensi latihan menulis akan menjadikan seseorang terampil dalam bidang tulis-menulis.[2]

Sebagai motivasi bahwa orang-orang yang sukses dari aktivitas menulis cukup baanyak, sebagai contoh JK Rowlin, seorang janda miskin yang saat ini telah menjadi orang paling kaya nomer 3 di dunia karena novelnya laris di pasaran. Kemudian Margaret Mitchell menulis hanya sekali seumur hidupnya, yaitu Gone with the Wind, suatu karya sastra yang spektakuler. Bahkan Margaret Mitchell memulai menulis novel itu ketika usia 50 tahun.

Dengan menulis kita meninggalkan monumen dalam kehidupan ini bahkan ketika kita menulis karya kita akan abadi walau kita telah meninggal dunia. Untuk itu saat ini mulai dengan memiliki buku catatan yang mencatat hal-hal menarik yang kita temui di jalan, di kantor atau di rumah. Langkah berikutnya mencoba mengelola emosi kepada teman, dosen, atasan maupun pasangan dalam bentuk kalimat, puisi  maupun prosa. Maka kita akan terbiasa untuk menulis dan mengasah ketajaman kemampuan menulis kita.

Pengertian

 Menurut Jago Tarigan (1995:117) menulis berarti mengekpresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan. Sarana mewujudkan hal itu adalah bahasa. Isi ekspresi melalui bahasa itu akan dimegerti orang lain atau pembaca bila dituangkan dalam bahasa yang teratur, sistematis, sederhana, dan mudah dimengerti. Menulis bukan sesuatu yang diperoleh secara spontan, tetapi memerlukan usaha sadar “menuliskan” kalimat dan mempertimbangkan cara mengkomunikasikan dan mengatur (Donn Byrne,1988:1)

Sejalan dengan itu, menurut Lado (1964:14) menulis adalah meletakkan simbol grafis yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain. Jadi, orang lain dapat membaca simbol grafis itu, jika mengetahui bahwa itu menjadi bagian dari ekspresi bahasa. SemI (1990:8)juga mengatakan bahwa menulis pada hakikatnya merupakan pemindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang bahasa.

Menurut Gere (1985:4), menulis dalam arti komunikasi ialah menyampaikan pengetahuan atau informasi tentang subjek. Menulis berarti mendukung ide. Byrne (1988: 1), mengatakan bahwa menulis tidak hanya membuat satu kalimat atau hanya beberapa hal yang tidak berhubungan, tetapi menghasilkan serangkaian hal yang teratur, yang berhubungan satu dengan yang lain, dan dalam gaya tertentu. Rangkaian kalimat itu bisa pendek, mungkin hanya dua atau tiga kalimat, tetapi kalimat itu diletakkan secara teratur dan berhubungan satu dengan yang lain, dan berbentuk kesatuan yang masuk akal. Crimmon (1984.191), berpendapat bahwa menulis adalah kerja keras, tetapi juga merupakan kesempatan untuk menyampaikan sesuatu tentang diri sendiri mengkomunikasikan gagasan kepada orang lain, bahkan dapat mempelajari sesuatu yang belum diketahui.

Lebih lanjut Rusyana (1984:191), memberikan batasan bahwa kemampuan menulis atau mengarang adalah kemampuan menggunakan pola-pola bahasa dalam tampilan tertulis untuk mengungkapkan gagasan atau pesan. Kemampuan menulis mencakup berbagai kemampuan, seperti kemampuan menguasai gagasan yang dikemukakan, kemampuan menggunakan unsur-unsur bahasa, kemampuan menggunakan gaya, dan kemampuan menggunakan ejaan serta tanda baca.[3]

Dengan demikian maka menulis merupakan suatu proses kreatif yang banyak melibatkan cara berpikir divergen (menyebar) daripada konvergen (memusat) (Supriadi, 1997). Menulis tidak ubahnya dengan melukis. Penulis memiliki banyak ide, gagasan, pendapat, pikiran, perasaan, serta obsesi yang akan dituliskannya. Walaupun secara teknis ada kriteria-kriteria yang dapat diikutinya, tetapi wujud yang akan dihasilkan itu sangat bergantung pada kepiawaian, imajinasi, dan kreativitas penulis dalam mengungkapkan gagasan. Jadi, keterampilan menulis adalah salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang mesti dimiliki dan dikuasai oleh seorang guru bahasa, karena keterampilan ini merupakan keterampilan yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana keterampilan lainnya yaitu menyimak, berbicara, dan membaca.

 

Tujuan Pembelajaran Menulis

Tujuan pengajaran setiap mata pelajaran dapat diklasifikasikan atas tiga aspek, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Setiap mata pelajaran atau bagiannya tentu saja memiliki karakteristik yang berbeda. Titik berat tujuannya pun juga berbeda-beda. Mata pelajaran bahasa Indonesia misalnya dapat menitikberatkan pada keterampilan tanpa mengabaikan segi kognitif dan afektifnya.

Pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan diharapkan: (1) siswa dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbukan penghargaan terhadap hasil karya dan hasil intelektual bangsa sendiri, (2) guru dapat memusatkan perhatian pada pengembangan kompetensi bahasa siswa dengan menyediakan keragaman kegiatan berbahasa dan sumber belajar, (3) guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan siswanya, (4) orang tua dan masyarakat terlibat secara aktif dalam pelaksanaan program di sekolah, (5) sekolah dapat menyusun program pendidikan sesuai dengan keadaan siswa dan sumber belajar sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah/sekolah.

Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia (termasuk di dalamnya pembelajaran menulis) di SD berdasarkan standar isi adalah agar peserta didik memiliki kemampuan :

  1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
  2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
  3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
  4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan  intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
  5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
  6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Dalam standar kompetensi lulusan Sekolah Dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia pada aspek menulis, diharapkan peserta didik memiliki kompetensi melakukan berbagai jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk, surat, pengumuman, dialog, formulir, teks pidato, laporan, ringkasan, parafrase, serta berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun.

Tujuan Menulis

 

Seseorang termotivasi menulis salah satunya karena memiliki tujuan objektif yang harus dipertanggungjawabkan kepada publik atau pembacanya.Karena tulisan adalah sarana komunikasi yang efektif dapat menjangkau masa yang lebih luas. Maka tujuan menulis adalah sebagai berikut.

 

  1. Menginformasikan segala sesuatu, baik itu fakta, data maupun peristiwa termasuk pendapat dan pandangan terhadap fakta, data dan peristiwa agar khalayak pembaca memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru tentang berbagai hal yang dapat terjadi di muka bumi ini.
  2. Membujuk; melalui tulisan seorang penulis mengharapkan pula pembaca dapat menentukan sikap, apakah menyetujui atau mendukung yang dikemukakan. Penulis harus mampu membujuk dan meyakinkan pembaca dengan menggunakan gaya bahasa yang persuasif. Oleh karena itu, fungsi persuasi dari sebuah tulisan akan dapat menghasilkan apabila penulis mampu menyajikan dengan gaya bahasa yang menarik, akrab, bersahabat, dan mudah dicerna.
  3. Mendidik adalah salah satu tujuan dari komunikasi melalui tulisan. Melalui membaca hasil tulisan wawasan pengetahuan seseorang akan terus bertambah, kecerdasanterus diasah, yang pada akhirnya akan menentukan perilaku seseorang. Orang-orang yang berpendidikan misalnya, cenderung lebih terbuka dan penuh toleransi, lebih menghargai pendapat orang lain, dan tentu saja cenderung lebih rasional.
  4. Menghibur; fungsi dan tujuan menghibur dalam komunikasi, bukan monopoli media massa, radio, televisi, namun media cetak dapat pula berperan dalam menghibur khalayak pembacanya. Tulisan-tulisan atau bacaanbacaan “ringan” yang kaya dengan anekdot, cerita dan pengalaman lucu bisa pula menjadi bacaan penglipur lara atau untuk melepaskan ketegangan setelah seharian sibuk beraktifitas.
  5. Seorang guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang menulis. Karena menulis merupakan keterampilan produktif dan ekpresif. Konsep dasar dan tujuan menulis menjadi salah satu faktor pembelajaran bahasa. Demikan juga halnya seorang guru, agar pembelajaran menulis bahasa Indonesia di kelas dapat meningkat, salah satu caranya adalah guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang konsep dan tujuan menulis.

 

Manfaat Menulis
Kemampuan menulis diperlukan semua lapangan pekerjaan. Misalnya seorang dokter perlu menuliskan resep obat bagi pasiennya. Seorang polisi perlu menuliskan detil suatu insiden berupa sebuah laporan penyelidikan atau introgasi untuk digunakan dalam persidangan. Seorang sekretaris perlu menuliskan surat atau laporan untuk disimpulkan kepada pemimpin perusahaan. Seorang direktur perlu menuliskan memori, hasil evaluasi, atau instruksi. Seorang kontraktor perlu menuliskan suatu perincian dana pembangunan sebuah pekerjaan secara lengkap dan teliti agar mendapatkan kesempatan memenangkan suatu tender proyek. Sampai munculnya pendapat bahwa keberhasilan suatu jabatan atau pekerjaan ditenttukan oleh kemampuan yang bersangkutan berkomunikasi secara efektif, khususnya komunikasi tulis. Adapun manfaat menulis dapat kita lihat dari berbagai segi yaitu.

  1. Secara psikologis menulis sangat bermanfaat dan bisa membuat kita sehat bahkan mampu membuat kita untuk mampu mengontrol diri. Melepaskan segala persoalan hidup.
  2. Secara metodologis menulis bermanfaat untuk melatih kita berpikir secara teratur untuk melakukan suatu tindakan yang sesuai yang dikehendaki, bahkan untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
  3. Secara filosofis bermanfaat untuk melatih kita berpikir secara radikal atau berpikir secara mendalam.
  4. Secara pendidikan mampu mempengaruhi kita untuk melakukan proses belajar. Maka sesering kali kita menulis atau seberapa banyak kita menulis, maka sesering itu pula kita telah melakukan proes pendidikan atau proses belajar.

 

Berdasarkan hal tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa manfaat keterampilan menulis dari berbagai segi dan bidang pekerjaan sangat dibutuhkan oleh seseorang, apalagi bagi seorang guru. Untuk itu, perlu diperhatikan bahwa sekurang-kurangnya, ada tiga komponen yang tergabung dalam perbuatan menulis, yaitu: (1) penguasaan bahasa tulis, yang akan berfungsi sebagai media tulisan, meliputi: kosakata, struktur kalimat, paragraf, ejaan, pragmatik, dan sebagainya; (2) penguasaan isi karangan sesuai dengan topik yang akan ditulis; dan (3) penguasaan tentang jenis-jenis tulisan, yaitu bagaimana merangkai isi tulisan dengan menggunakan bahasa tulis sehingga membentuk sebuah komposisi yang diinginkan, seperti esai, artikel, cerita pendek, makalah, dan sebagainya.

Meningkatkan Keterampilan Menulis

Untuk meningkatkan keterampilan menulis di kalangan pelajar, perlu diketahui faktor penyebab menurunnya kemampuan menulis, di antaranya:

a) Faktor Internal (dari dalam) yaitu faktor yang berasal dari diri kita sendiri atau timbul secara spontan dari hati nurani kita.

Macam-macam faktor internal yang mempengaruhi keterampilan menulis yaitu:
1) Kurangnya minat menulis para pelajar
2) Kesulitan menuangkan ide
3) Malas membaca, jika seseorang sudah tidak tertarik untuk membaca maka sulit

b) Faktor Eksternal (dari luar) yaitu faktor yang berasal dari luar atau lingkungan sekitar. Kita sebagai makhluk sosial tidak akan lepas dari interaksi dengan sesama,baik langsung maupun dengan alat komunikasi lainnya seperti: handphone,surat,

Upaya-upaya meningkatkan keterampilan menulis

Untuk meningkatkan keterampilan menulis sebenarnya tidak sulit, tetapi hanya membutuhkan ketelatenan dan kiat-kiat, diantaranya :

  1. harus banyak membaca. Karena dengan membaca kita dapat menuangkan ide-ide yang kita miliki ke dalam sebuah karya.
  2. Melatih kemampuan menulis agar dapat menghasilkan karya yang baik dan benar.
  3. Mempelajari kaidah-kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan mempelajari kaidah-kaidah penulisan tersebut kita dapat memahaminya dan bisa langsung mempraktekannya ke dalam tulisan yang kita buat.
  4. Mempublikasikan hasil tulisan yang kita buat, seperti media elektronik dan cetak. Agar kita dapat mengetahui seberapa besar kemampuan kita.
  5. Selalu percaya diri dengan apa yang kita tulis. Jika kita tidak percaya dengan apa yang kita tulis maka kita tidak akan puas dengan hasilnya.

Selain itu, ada enam jurus yang bisa dilakukan agar seseorang semakin terampil menulis dan piawai merangkai kata. Berikut ini enam jurus yang bisa dipraktekkan.

Pertama, punya tradisi membaca buku.

Pater Bolsius SJ, seperti dikutip Wishnubroto Widarso dalam bukunya Pengalaman Menulis Buku Non-Fiksi pernah berucap, “If you don’t read, you don’t write”. Jikalau engkau tak (punya kebiasaan) membaca, engkau tak bisa menulis.

Jose Daniel Parera dalam Konggres Bahasa ke-5 di Jakarta mengatakan, banyak-banyaklah Anda membaca, biarkan ia mengendap dalam benak Anda, suatu saat pemahaman Anda semakin luas, dan akan tiba saatnya Anda harus menulis.

Hernowo, dalam bukunya Mengikat Makna menyatakan, ibarat Anda buang hajat besar lantaran kekenyangan, seseorang akan gampang mengungkapkan apa saja yang diingininya lewat tulisan. Jadi, membacalah sebanyak-banyaknya, suatu ketika hasrat menulis akan timbul pada diri Anda secara alami. Dan pengetahuan yang luas yang Anda dapatkan dari membaca akan memudahkan Anda untuk menuangkannya ke dalam tulisan.

Kedua, membaca alam dan peristiwa kehidupan.

Membaca tak semata-mata membaca buku, tapi juga membaca alam. Fenomena alam akan menjadi inspirasi sebagai bahan tulisan. Termasuk, membaca alam adalah membaca peristiwa kehidupan. Di panggung kehidupan ini ada banyak peristiwa yang bisa digali untuk bahan penulisan.

Ketiga, mempunyai blog.

Ibarat pelari, perlu jogging harian. Penulis juga begitu, memerlukan media untuk menuliskan ide-ide yang bekerjapan dan lalu lalang setiap harinya. Maka, buku harian (saat ini bisa digantikan oleh blog/website pribadi) merupakan media yang tepat untuk itu. Milikilah buku harian, atau buatlah blog di internet atau buatlah akun di citizen media seperti Kompasiana, lalu tulislah informasi yang Anda peroleh dan ide-ide Anda setiap hari. Hal itu akan berguna untuk mengasah ketrampilan menulis dan melatih kepekaan kepada kata-kata.

Keempat, mencintai bahasa.

Bahasa adalah alat komunikasi. Dari bahasa, indikasi dari tingkat intelektualitas seseorang akan tampak. Apakah dia seorang yang memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi atau tidak. Kekayaan kosakata-lah yang membedakaannya. Karenanya, cintailah bahasa. Buka-bukalah kamus Bahasa Indonesia. Ternyata ada banyak kata yang bagus yang dapat kita gunakan dalam tulisan kita, tapi selama ini kita belum mengetahuinya karena itu kita tidak menggunakannya.

Kelima, hobi meneliti.

Minat meneliti merupakan sarana yang akan semakin meningkatkan kedalaman dan luasnya jangkauan tulisan kita. Ia akan menjadi inspirasi yang hebat untuk bahan tulisan kita. Menurut Eka Budianta, sebelum menulis Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa, YB Mangunwijaya mendalami masyarakat Maluku dan pola hidup Maritim di sana. Begitu juga novel Para Priyayi Umar Kayam, yang ditulis dengan mengadakan berbagai penelitian dan dukungan perguruan tinggi di Amerika Serikat.

Ke-enam, suka diskusi.

Diskusi merupakan ajang tukar pendapat. Dalam diskusi akan banyak pendapat dari luar diri kita yang dapat menimbulkan letikan ide atau inspirasi untuk bahan tulisan kita.

Itulah enam jurus yang bisa dicoba, untuk mengasah ketrampilan menulis dan melejitkan kepiawaian kita dalam merangkai kata atau kalimat. Ingatlan selalu ‘petuah’ Prof. Dr. Floyd G. Arpan yang mengatakan, “Kecakapan menulis tak akan begitu saja jatuh dari langit. Tapi kecakapan itu baru bisa dicapai dengan jalan berlatih”.[4]

Berbagai Kegiatan Menulis

Keterampilan menulis dapat diklasifikasikan berdasarkan dua sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang tersebut adalah kegiatan atau aktivitas dalam melaksanakan keterampilan menulis dan hasil produk menulis itu. Klasifikasi keterampilan menulis berdasarkan sudut pandang kedua menghasilkan pembagian produk menulis atas empat kategori, yaitu: karangan narasi, eksposisi, deskripsi, dan argumentasi.

Berdasarkan dua acuan tersebut di atas dapat disusun jenis-jenis kegiatan dalam pembelajaran keterampilan menulis tersebut dengan susunan dari yang mudah menuju kepada yang sukar adalah sebagai berikut.

  • Menyusun karangan bersama
  • Menyusun kembali karangan yang diacak
  • Menyelesaikan cerita tertulis
  • Meringkas (sinopsis) bacaan
  • Reka cerita gambar
  • Memerikan atau mendeskripsikan sesuatu
  • Mengembangkan judul
  • Menulis surat
  • Menyusun dialog
  • Menyusun laporan
  • Menyusun iklan, slogan, poster, dan spanduk
  • Meresensi buku
  • Menyusun karangan ilmiah

Uraian jenis-jenis kegiatan menulis di atas menunjukkan kepada guru bahasa Indonesia ada banyak pilihan dalam merencanakan pembelajaran keterampilan menulis, di bawah ini dijelaskan secara singkat jenis-jenis tulisan berdasarkan isi tulisan.

Menulis Deskripsi

Deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata atas suatu benda, tempat, suasana atau keadaan. Seorang penulis deskripsi melalui tulisannya mengharapkan pembaca dapat melihat, mendengar, mencium bau, mencicipi dan merasakan hal yang sama dengan penulis. Deskripsi pada dasarnya merupakan hasil dari pengamatan melalui panca indera yang disampaikan dengan kata-kata.

Menulis Narasi

Narasi pada dasarnya adalah karangan atau tulisan yang berbentuk cerita.    Seperti kalau orang bercerita tentang “mengisi liburan sekolah”, “mendaftarkan diri ke sekolah”, “pengalaman berkemah di hutan”, “kecelakaan lalu lintas di jalan raya”, atau “pertandingan olahraga”. Cerita itu tentunya didasarkan pada urut-urutan suatu kejadian atau peristiwa. Di dalam peristiwa itu ada tokoh, mungkin tokoh itu adalah penulis sendiri, teman penulis, atau orang lain, dan tokoh itu mengalami masalah atau konflik. Bisa saja dalam cerita itu menghadirkan satu konflik atau serangkaian konflik yang dihadapi oleh tokoh dalam ceritamu itu. Jadi, dalam sebuah narasi terdapat tiga unsur pokok,  yaitu : peristiwa,  tokoh, dan  konflik.  Ketiga unsur itu  diramu menjadi satu dalam sebuah jalinan yang disebut alur atau plot. Dengan demikian, narasi adalah cerita berdasarkan alur.  Sering juga narasi diartikan sebagai cerita yang didasarkan pada kronologi waktu.

Menulis Eksposisi

Eksposisi/paparan merupakan tulisan hasil peninjauan terhadap suatu hal. Penyampaian gagasan dilakukan secara analitis kronologis waktu maupun ruang. Tulisan berjenis eksposisi biasanya merupakan bagian dari karangan ilmiah. Penulisan eksposisi dilakukan dengan cara menyusun kerangka karangan yang memuat kata-kata kunci yang didukung oleh penjelasan-penjelasan, contoh-contoh, ilustrasi, maupun bukti.

Menulis Argumentasi

Argumentasi dibentuk dari kata argumen yang berarti alasan. Paragraf argumentasi adalah paragraf yang bertujuan untuk menyatakan kebenaran dengan didukung argumen atau alasan yang sesuai. Termasuk dalam bentuk ini adalah tulisan yang bertujuan mengajak, membujuk, dan mempengaruhi orang lain. Argumentasi sering pula dibedakan dengan persuasi yang lebih bertujuan membujuk atau mempengaruhi orang lain, sementara argumentasi diartikan sebagai tulisan yang isinya bersifat menyakinkan suatu hal kepada orang lain terhadap suatu hal.

Paragraf argumentasi dapat disusun dengan pola sebab-akibat. Artinya, paragraf tersebut diawali dengan kalimat utama yang merupakan sebab dan diikuti oleh beberapa akibat sebagai kalimat penjelasnya. Sebaliknya, paragraf argumentasi juga dapat disusun dengan pola akibat-sebab yang berarti paragraf tersebut diawali dengan akibat yang merupakan kalimat utama dan diikuti oleh beberapa sebab sebagai kalimat penjelasnya.

 

Pendekatan Pengajaran Menulis: Tradisional dan Proses

 Pembelajaran menulis dengan pendekatan tradisional lebih menekankan pada hasil berupa tulisan yang telah jadi, tidak pada apa yang dikerjakan pembelajar ketika menulis. Pembelajar berpraktik menulis, mereka tidak mempelajari bagaimana cara menulis yang baik. Temuan penelitian mengenai menulis menyebabkan bergesernya penekanan pembelajaran menulis dari hasil (tulisan) ke proses menulis yang terlibat dalam menghasilkan tulisan. Peran pengajar dalam pembelajaran menulis dengan pendekatan proses tidak hanya memberikan tugas menulis dan menilai tulisan para pembelajar, tetapi juga membimbing pembelajar dalam proses menulis (Tompkins, 1990: 69).

Perbedaan antara pendekatan tradisional dan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran menulis bahasa Indonesia bagi penutur asing tingkat lanjut sebagaimana dikemukakan Tompkins (1990: 70) dapat dilihat pada bagan berikut.

Pendekatan Tradisional dan Keterampilan Proses dalam Menulis

No. Komponen Pendekatan Tradisional Pendekatan Proses
1 Pilihan Topik Tugas menulis kreatif yang spesifik diberikan oleh pengajar Pembelajar memilih topik sendiri, atau topik-topik yang diambil dari bidang studi lain
2 Pembelajaran Pengajar hanya sedikit atau tidak memberikan pelajaran.

Pembelajar diharapkan menulis sebaik-baiknya

Pengajar mengajar pembelajar mengenai proses menulis dan mengenai bentuk-bentuk tulisan
3 Fokus Berfokus pada tulisan yang sudah jadi Berfokus pada proses yang digunakan pembelajar ketika menulis
4 Rasa Memiliki Pembelajar menulis untuk pengajar dan kurang merasa memiliki tulisan sendiri Pembelajar merasa memiliki tulisan sendiri.

 

5 Pembaca Pengajar merupakan pembaca utama Pembelajar menulis untuk pembaca yang sesungguhnya
6 Kerja Sama Hanya sedikit atau tidak ada kerja sama Pembelajar menulis dengan bekerja sama dan berbagi tulisan yang dihasilkan masing-masing dengan teman-teman satu kelompok/kelas
7 Draft Pembelajar menulis draft tunggal dan harus memusatkan pada isi sekaligus segi mekanik (ejaan, tanda baca, tata tulis) Pembelajar menulis draft kasar (outline) untuk menuangkan gagasan dan kemudian merevisi dan menyunting draft ini sebelum membuat hasil akhir
8 Kesalahan Mekanik Pembelajar dituntut untuk menghasilkan tulisan yang bebas dari kesalahan Pembelajar mengoreksi kesalahan sebanyak-banyaknya selama menyunting, tetapi tekanannya lebih besar pada isi daripada segi mekanik
9 Peran Pengajar Pengajar memberikan tugas menulis dan menilainya jika tulisan sudah jadi Pengajar mengajarkan cara menulis dan memberikan balikan selama pembelajar merevisi dan mengedit/menyunting
10 Waktu Pembelajar menyelesaikan tulisan dalam satu jam pelajaran Pembelajar mungkin menghabiskan waktu tidak hanya satu jam pelajaran untuk mengerjakan setiap tugas menulis
11 Evaluasi Pengajar mengevaluasi kualitas tulisan setelah tulisan selesai disusun Pengajar memberikan balikan selama pembelajar menulis, sehingga pembelajar dapat memanfaatkannya untuk memperbaiki tulisannya. Evaluasi berfokus pada proses dan hasil.

 

            Dari kedua pendekatan pengajaran menulis seperti tertera pada bagan di atas dapat diketahui kelemahan dan keunggulannya. Pada pendekatan tradisional, pengajar memberikan topik tulisan dan setelah pembelajar mengerjakan tugas tersebut selama setengah atau tiga per empat jam (satu jam pelajaran), pengajar mengumpulkan pekerjaan pembelajar untuk dievaluasi.[5]

 

Langkah-Langkah Pembelajaran Menulis dan Langkah-Langkah Menulis

 

  1. Langkah-Langkah Pembelajaran Menulis

Raimes menguraikan seperangkat pedoman pembelajaran menulis. Pedoman ini didasarkan pada prinsip-prinsip yang mencakup pertimbangan tujuan, teori, konten (isi), fokus, silabus, bahan, metodologi, kegiatan, dan evaluasi. Prinsip-prinsip tersebut dipraktikkan oleh guru dalam pembelajaran menulis di kelas. Agar dalam praktik menghasilkan manfaat belajar yang optimal, maka guru harus terus-menerus dan sistematis merekam, merenungkan, dan menganalisis apa yang telah dilakukan di dalam kelas. Guru juga dapat menggunakan pengalaman reflektif sebagai dasar untuk memperbaiki praktik pembelajaran mereka.

Menurut Raimes ada sepuluh langkah dalam perencanaan pembelajaran menulis dan dalam membantu guru untuk merencanakan pembelajaran menulis. Kesepuluh langkah tersebut sebagai berikut.

 

  1. Tujuan dan Sasaran

Di dalam merencanakan pelatihan menulis hendaknya guru dapat memastikan tujuan-tujuan yang akan dicapai. Hal ini agar pembahasan tidak terlalu luas sehingga siswa dapat memahami dan menerima pembelajaran menulis dengan baik. Dalam pembelajaran menulis kreatif, maka guru harus menentukan tujuan bahwa dalam pembelajaran tersebut siswa dapat mengetahui dan dapat menulis jenis-jenis tulisan. Dengan tujuan tersebut maka guru dalam membelajarkan menulis kreatif dapat menjelaskan dan mengarahkan siswa agar paham dan dapat menulis kreatif misalnya menulis surat pribadi, menulis buku harian, atau dalam menarasikan teks wawancara. Dengan kata lain, langkah pertama dalam pembelajaran menulis adalah menentukan tujuan pembelajaran dan indikator-indikatornya.

 

  1. Prinsip-Prinsip Teori

Setelah merumuskan tujuan pembelajaran, langkah selanjutnya adalah memilih teori yang akan digunakan. Pemilihan teori ini tentu saja yang berkaitan dengan materi pelajaran. Dalam pembelajaran menulis kreatif teori yang digunakan dan harus dikuasai siswa antara lain tentang menulis kreatif, jenis-jenis tulisan, dan langkah-langkah menulis. Guru harus memberi pemahaman siswa tentang teori-teori tersebut dengan jelas sehingga siswa dapat memahami dengan baik.

 

  1. Perencanaan Konten

Langkah ketiga dalam perencanaan dan pembelajaran menulis adalah perencanaan konten. Maksud perencanaan konten tersebut yaitu dalam pembelajaran menulis di kelas guru menggunakan pengalaman pribadi, isu-isu sosial dan budaya, sastra, atau isi dari bidang studi lain sebagai tema atau topik tulisan. Di dalam pembelajaran bahasa terutama pembelajaran menulis yang merupakan salah satu keterampilan berbahasa, guru harus aktif memberikan informasi-informasi lain baik dari bidang bahasa maupun dari bidang kajian ilmu lain. Hal ini agar siswa lebih banyak mendapat informasi, gagasan, dan ide. Jadi, agar siswa dapat menulis maka siswa perlu topik yang memungkinkan mereka untuk menghasilkan ide-ide, menemukan bentuk-bentuk agar sesuai dengan ide-ide, dan berani mengambil resiko. Artinya bahwa sebelum menulis siswa harus mempunyai ide yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan.

 

  1. Elemen

Langkah keempat adalah menimbang elemen. Menulis terdiri dari banyak bagian sehingga perlu mempertimbangkan mana yang akan menjadi yang paling penting seperti konten, organisasi, orisinalitas, gaya, kelancaran, akurasi, atau bentuk tulisan yang digunakan. Elemen yang dimaksud adalah bagian-bagian dari yang akan ditulis baik itu topik, tema, diksi, gaya bahasa, dan lain sebagainya. Tema yang dapat diambil bisa tentang sosial, budaya, pendidikan, atau tema-tema umum lainnya. Dalam pembelajaran menulis kreatif guru boleh saja menentukan tema, tetapi siswa juga bisa mencari tema bebas sesuai yang diinginkan. Tema-tema bebas tersebut misalnya tentang keluarga, pendidikan, sosial, alam, budaya, kesehatan, politik, dan tema-tema lainnya sesuai dengan perkembangan dan usia siswa.

 

  1. Silabus

Setelah memutuskan konten dan bobot elemen adalah bagaimana akan mengatur isi dan pengalaman belajar di dalam kelas. Isi dan pengalaman belajar tersebut menjadi dasar organisasi silabus dalam pembelajaran menulis dari tradisional ke modern dan inovatif, yaitu struktural (pada tingkat awal), fungsional, topikal, situasional, keterampilan dan proses, serta tugas. Oleh karena itu, langkah selanjutnya adalah mengembangkan silabus. Dengan adanya silabus dalam praktik pembelajaran, Richards menunjukkan sebuah “kombinasi pendekatan yang sering digunakan” (1990, hlm 9-10); apa yang mereka gunakan dan dalam proporsi apa tergantung pada siswa, tujuan, prinsip-prinsip teoritis, dan kendala kelembagaan. Dalam mengembangkan silabus guru hendaknya mengacu pada kurikulum yang berlaku. Silabus digunakan sebagai acuan guru dalam membelajarkan pembelajaran menulis di kelas. Silabus disusun sesuai dengan kelas dan tingkat perkembangan siswa yang berisi standar kompetensi dan kompetensi dasar.

 

  1. Bahan

Langkah yang keenam adalah pemilihan bahan. Guru dalam memilih bahan atau topik belajar dapat melalui video, perangkat lunak, dan buku. Bahan-bahan tersebut harus sesuai dengan tujuan, prinsip, isi, dan bobot yang telah diputuskan agar tidak terjadi penyimpangan atau kesalahan. Jika akan menggunakan buku, teks, atau artikel sebagai bahan belajar maka harus memperhatikan topik, jenis penulisan, peluang, dan instruksi dalam metode menghasilkan ide, instruksi pada prinsip-prinsip organisasi tulisan, kesempatan untuk kolaborasi, hal-hal yang harus direvisi, dan dalam mengoreksi dan mengedit. Selain melalui hal-hal tersebut, guru atau siswa juga dapat mencari bahan dari internet, berita, koran, majalah, atau media lainnya. Dalam memilih bahan guru harus berhati-hati dan menyesuaikan dengan perkembangan siswa. Guru jangan sampai memilih bahan yang kurang sesuai dengan perkembangan siswa karena dapat memberi efek yang kurang baik.

 

  1. Bermain Peran

Dalam merencanakan suatu pelajaran atau pelatihan, guru cenderung berpikir tentang apa yang akan mereka lakukan, apa yang harus disajikan dalam pelajaran, bagaimana cara memimpin diskusi di kelas dan sebagainya. Ada banyak pembicaraan teoretis tentang kelas yang berpusat pada siswa dan guru. Artinya bahwa guru tidak hanya berperan sebagai guru, tetapi juga berperan sebagai siswa. Itulah mengapa pentingnya siswa bagi guru dalam menulis jurnal reflektif mengajar. Secara tidak langsung guru juga pernah menjadi siswa, sehingga guru dapat mengerti kondisi dan kemampuan siswa. Oleh karena itu, agar guru lebih dekat dan mampu memahami siswa lebih jauh guru tidak hanya berperan sebagai guru, tapi juga berperan sebagai siswa.

 

  1. Jenis dan Metode Umpan Balik

Pertama, dalam kasus kelas besar tidak setiap tulisan harus diperbaiki atau bahkan dilihat oleh guru. Siswa dapat melakukan penulisan jurnal, umpan balik untuk membaca atau menulis bebas di mana tujuannya adalah untuk menghasilkan ide-ide sehingga meningkatkan kelancaran akurasi. Kedua, siapa pun yang memiliki berbagai metode fisik menanggapi komentar atau percakapan dengan penulis, umpan balik dengan perangkat lunak komputer, menggunakan fitur-fitur seperti kemampuan “comment” dan “redlining” (menulis kembali); umpan balik seperti rekaman suara; atau tanggapan tertulis. Ketiga, memilih jenis dalam memberi umpan balik dengan memperhatikan waktu dan ukuran kelas. Keempat, guru dan siswa perlu menyepakati tujuan umpan balik.

 

 

  1. Evaluasi

Guru menggunakan tes dan tes esai kalimat untuk mengevaluasi siswa. Mereka menggunakan hasil tes ini di samping kuesioner untuk mengetahui atau mengevaluasi kesuksesan mereka sendiri sebagai guru. Salah satu bentuk evaluasi dalam pembelajaran menulis sebenarnya membantu menggabungkan evaluasi siswa dan evaluasi program penggunaan portofolio. Portofolio tersebut kemudian dievaluasi. Portofolio ini mengarahkan siswa untuk merevisi dan untuk menyajikan karya terbaik mereka. Portofolio berisi kumpulan tulisan mulai dari awal semester sampai akhir. Dengan portofolio baik guru maupun siswa dapat mengetahui perkembangan keterampilan menulisnya. Portofolio juga dapat menambah nilai siswa selain nilai tes semester.

 

  1. Refleksi

Sasaran, isi, teori, silabus, bahan, kegiatan, umpan balik dan evaluasi adalah substansi yang dapat direncanakan dalam pembelajaran menulis. Guru hendaknya selalu belajar dari pengalaman dalam pembelajaran menulis di kelas agar kesalahan atau kekurangan dalam pembelajaran tidak terulang lagi. Pengalaman merupakan hal yang sangat penting bagi guru. Guru yang sudah berpengalaman akan lebih mudah dalam mengajar di kelas, baik dalam pembelajaran menulis atau pembelajaran yang lainnya. Artinya pengalaman merupakan hal yang penting dalam mendukung proses pembelajaran. Kualitas seorang guru juga dapat ditentukan dari pengalamannya.

Berdasarkan kesepuluh langkah dalam pembelajaran menulis menurut Raines dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menulis harus melalui tahap-tahap tertentu. Hal ini diperkuat dengan pendapat Seow yang menyakan bahwa proses penulisan di kelas dapat ditafsirkan sebagai sebuah program pengajaran yang memfasilitasi siswa dengan serangkaian pengalaman belajar yang direncanakan untuk membantu mereka memahami sifat penulisan disetiap poin.

 

  1. Langkah-Langkah Menulis

Seow menyatakan bahwa proses menulis sebagai kegiatan kelas menggabungkan empat tahap dasar menulis, yaitu: perencanaan, penyusunan (menulis), merevisi (redrafting) dan mengedit (editing). Ada tiga tahap lain yang diberikan oleh guru kepada siswa, yaitu menanggapi (berbagi), mengevaluasi, dan pascamenulis. Proses penulisan di dalam kelas sangat terstruktur karena memerlukan pembelajaran yang tertib dan harus melalui proses. Guru merencanakan kegiatan kelas yang tepat yang mendukung pembelajaran keterampilan menulis yang spesifik pada setiap tahap. Pengalaman belajar yang direncanakan untuk siswa dapat diuraikan sebagai berikut.

 

1)   Perencanaan (Pramenulis)

Pramenulis adalah setiap kegiatan di kelas yang mendorong siswa untuk menulis. Pada tahap ini siswa mengumpulkan ide-ide tentatif (belum pasti dan dapat berubah) dan mengumpulkan informasi untuk menulis. Untuk memberikan pengalaman belajar maka siswa melakukan tahap-tahap berikut ini.

 

(a)     Brainstorming

Dalam kegiatan ini siswa berkelompok dan saling menuangkan ide-ide tentang topik yang dibahas. Ide yang dituangkan siswa secara spontan sehingga ide-ide tersebut asli atau murni dari siswa.

 

(b)     Clustering

Pada tahap ini siswa membentuk kata-kata yang terkait dengan stimulus yang diberikan oleh guru. Kata-kata dilingkari dan kemudian dihubungkan dengan garis-garis untuk menunjukkan kelompok jelas. Clustering adalah strategi yang sederhana namun kuat: “karakter visual tampaknya merangsang aliran asosiasi … dan sangat baik bagi siswa yang tahu apa yang ingin mereka katakan tetapi tidak bisa mengatakan itu.” (Proett 1986, p.6). Setelah siswa menuangkan ide-idenya, selanjutnya siswa merangkai kata-kata yang sesuai dengan tema atau ide yang akan ditulis. Misalnya ide siswa tentang pertanian maka siswa menentukan kata-kata yang akan digunakan yang berkaitan seperti panen raya, pascapanen, agrobisnis, hama, dan lain-lain.

 

(c)      Menulis Bebas Secara Cepat

Dalam waktu terbatas satu atau dua menit masing-masing siswa secara bebas dan cepat menuliskan kata-kata tunggal dan frasa tentang topik. Batas waktu membuat pikiran para penulis berdetak dan berpikir cepat. Menulis bebas yang cepat dilakukan ketika kelompok brainstorming tidak mungkin karena sifat pribadi topik tertentu memerlukan strategi yang berbeda. Kata-kata yang akan digunakan dalam bidang pertanian tersebut kemudian dijadikan frasa untuk membantu siswa dalam mengembangkan topik tersebut menjadi sebuah karangan atau tulisan. Setelah itu siswa menulis sebisanya dari frasa-frasa yang telah disusun menjadi kalimat-kalimat. Dalam tahap ini dalam menulis siswa belum dituntut tentang organisasi isi, diksi, sistematika tulisan, keruntutan kalimat, dan lain-lain. Pada intinya siswa menulis sebisanya dari kata atau frasa yang telah disusun sebelumnya.

 

(d)     Pertanyaan-Pertanyaan

Pada tahap ini siswa membuat pertanyaan mengapa, apa, dimana, kapan, dan bagaimana tentang topik. Selain itu, ide untuk menulis dapat diperoleh dari sumber multimedia (misalnya, bahan cetak, video, film), serta dari wawancara langsung, diskusi, survei, dan kuesioner. Siswa akan lebih termotivasi untuk menulis ketika diberi berbagai cara untuk mengumpulkan informasi selama pramenulis. Pada tahap ini siswa harus sudah paham terhadap apa yang akan mereka tulis. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dibuat secara urut agar tulisan yang akan dibuat sistematis dan runtut.

 

2)   Drafting

Setelah cukup mengumpulkan ide-ide pada tahap perencanaan usaha pertama dalam menulis, yaitu menyusun draft atau kerangka tulisan. Penyusunan draft ini untuk memudahkan penulis (siswa) menuangkan ide-idenya yang lebih sistematis sehingga tulisan yang dihasilkan akan lebih mudah dipahami.

 

3)   Responding

Menanggapi tulisan siswa baik oleh guru maupun oleh teman memiliki peran sentral dalam keberhasilan pelaksanaan proses penulisan. Tanggapan dapat lisan atau tertulis setelah siswa menyusun draft pertama dan sebelum mereka melanjutkan untuk merevisi. Kegagalan dalam pembelajaran menulis di sekolah disebabkan karena tahap menanggapi dilakukan di tahap akhir ketika guru secara bersamaan merespon dan mengevaluasi dan bahkan mengedit tulisan siswa, sehingga memberikan kesan tidak ada lagi yang harus dilakukan.

 

4)   Revising

Ketika siswa merevisi, mereka meninjau teks-teks mereka berdasarkan umpan balik yang diberikan dalam tahap menanggapi. Mereka menguji kembali apa yang ditulis untuk melihat seberapa efektif mereka telah berkomunikasi (menyampaikan pesan kepada pembaca). Merevisi tidak hanya memeriksa kesalahan bahasa (pengeditan). Hal ini dilakukan untuk meningkatkan isi secara umum dan organisasi gagasan sehingga maksud penulis dapat disampaikan ke pembaca.

 

5)   Editing

Pada tahap ini siswa memperbaiki teks atau tulisan mereka saat mereka mempersiapkan draft akhir untuk dievaluasi oleh guru. Mereka mengedit karya mereka sendiri atau rekan mereka seperti tata bahasa, ejaan, tanda baca, diksi, struktur kalimat, dan akurasi dari materi tekstual pendukung seperti kutipan, contoh, dan sejenisnya. Tahap ini harus dilakukan dengan teliti agar kesalahan yang dilakukan dapat diperbaiki sehingga tulisan yang dihasilkan dapat lebih optimal.

 

6)   Evaluating

Hubungan penting antara penyusunan dan revisi yaitu menanggapi yang sering menjadi perbedaan besar untuk jenis tulisan yang akan diproduksi. Dalam mengevaluasi harus berdasarkan aspek analitis (berdasarkan aspek tertentu dari kemampuan menulis) atau holistik (berdasarkan pada penafsiran efektivitas umum). Agar efektif, kriteria evaluasi harus dibuat dan diketahui siswa sebelumnya. Mereka harus memperhatikan interpretasi keseluruhan tugas, pengembangan relevansi, organisasi ide, format atau tata letak, tata bahasa dan struktur, ejaan dan tanda baca, kesesuaian kosa kata, dan kejelasan komunikasi.

 

7)   Pascamenrulis

Pascamenulis merupakan kegiatan kelas antara guru dan siswa setelah selesai menulis. Pascamenulis meliputi penerbitan, berbagi, membaca di depan kelas, mengubah tulisan untuk pertunjukan panggung atau menampilkan tulisan pada majalah dinding sekolah atau bahkan pada majalah atau surat kabar. Bagi guru atau siswa yang suka menulis dan tulisannya berhasil diterbitkan adalah suatu kebanggaan. Dengan diterbitkannya tulisan tersebut maka dapat orang lain sehingga orang tersebut menjadi tahu.

Berkaitan dengan tahap-tahap proses menulis, Tompkins (dalam Wagiran dan Doyin 2005:7) menyajikan lima tahap, yaitu: 1) pramenulis; 2) pembuatan draft; 3) merevisi; 4) menyunting; dan 5) berbagi (sharing). Tompkins juga menekankan pada tahap-tahap menulis tidak merupakan kegiatan yang linear. Proses menulis bersifat nonlinear, artinya merupakan putaran berulang.

Langkah pertama adalah tahap pramenulis. Pada tahap ini, pembelajar menulis melakukan kegiatan sebagai berikut: a) menulis topik berdasarkan pengalaman sendiri; b) melakukan kegiatan-kegiatan latihan sebelum menulis; c) mengidentifikasi pembaca tulisan yang akan mereka tulis; d) mengidentifikasi tujuan kegiatan menulis; dan e) memilih bentuk tulisan yang tepat berdasarkan pembaca dan tujuan yang telah mereka tentukan.

Langkah kedua adalah tahap pembuatan draft. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan oleh pembelajar menulis adalah a) membuat draft kasar, dengan berbekal apa-apa yang telah dipersiapkan pada tahap pramenulis, pembelajar mulai menuliskan gagasan. Pada saat menuliskan gagasan pembelajaran menulis perlu menentukan target waktu yang akan dipergunakan untuk menulis. b) Lebih menekankan isi daripada tata tulisan, pada tahap penyusunan draft, penulisan lebih ditekankan pada pencurahan gagasan dan kelengkapan isi tulisan. Pengaturan tata tulis dan penggunaan bahasa hendaknya diabaikan kecuali yang muncul secara spontan.

Langkah ketiga adalah tahap merevisi, yang perlu dilakukan oleh pembelajar menulis pada tahap merevisi, yaitu: a) berbagi tulisan dengan teman-teman (kelompok); b) berpartisipasi secara konstruktif dalam diskusi tentang tulisan teman-teman sekelompok atau sekelas; c) mengubah tulisan dengan memperhatikan reaksi komentar baik dari pengajar maupun teman; dan d) membuat perubahan yang substantif pada draft pertama dan draft berikutnya, sehingga menghasilkan draft akhir.

Langkah keempat adalah tahap menyunting. Pada tahap menyunting ini, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain yaitu: a) membetulkan kesalahan bahasa tulisan sendiri, mulai menggunakan ejaan, pilihan kata penggunaan kalimat, sampai pengembangan paragraf; b) membetulkan kaidah tata tulis yang meliputi kaidah penulisan paragraf, penulisan judul, penomoran, kaidah, kaidah pengutipan, dan kaidah-kaidah lain yang diatur secara teknis; c) mengoreksi dan menata kembali isi tulisan, baik dari segi sistematika, kelogisan, ketajaman pembahasan, kelengkapan isi; dan d) berbagi dengan teman untuk saling memberikan koreksi.

Terakhir dalam proses menulis adalah langkah kelima, yaitu tahap berbagi (sharing) atau publikasi. Pada tahap ini, pembelajar menulis dapat melakukan hal-hal yaitu a) memublikasikan (memajang) tulisan dalam suatu bentuk tulisan yang sesuai, atau b) berbagi tulisan yang dihasilkan dengan pembaca yang telah mereka tentukan dalam forum diskusi atau seminar.

Berdasarkan uraian pendapat di atas jelas bahwa menulis merupakan suatu proses karena harus melewati tahap-tahap. Dalam pembelajaran menulis siswa dituntut untuk dapat menguasai dari masing-masing tahap menulis agar dapat menulis dengan hasil yang baik. Oleh karena itu, dalam pembelajaran menulis guru juga harus dapat mengarahkan siswa dalam mengerjakan tahap-tahap menulis tersebut dengan baik.

 

Proses Editing

Ada tujuh langkah menulis menurut Seow. Dari ketujuh langkah tersebut salah satunya adalah editing. Langkah editing merupakan langkah dalam menulis untuk memperbaiki kesalahan, baik tanda baca, penggunaan huruf atau penggunaan istilah, atau kesalahan pengetikan. Hal ini karena ketidaktepatan gramatikal mempengaruhi kualitas tulisan siswa. Oleh karena itu, guru perlu membantu siswa dalam mengedit atau memperbaiki tulisan mereka serta mengembangkan keterampilan menulisnya. Ferris kemudian menjelaskan tiga tahap pendekatan untuk mengajarkan keterampilan mengedit yang dapat membantu siswa menjadi editor tulisan mereka sendiri.

Mengedit bertujuan untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan gramatikal, leksikal, dan mekanik sebelum mengirimkan atau menerbitkan produk terakhir yang ditulis. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengajarkan cara mengedit tulisan pada siswa sebagai berikut.

 

  1. Asumsi Filosofis

Menurut Ferris prinsip-prinsip dalam proses editing, yaitu:

  1. siswa dan guru harus fokus pada pola utama kesalahan untuk memperbaiki setiap kesalahan tunggal (Bates, Lane, Lange, 1993),
  2. karena tidak semua siswa membuat kesalahan yang sama, maka perlu diperintahkan untuk mengedit kesalahan sebanyak mungkin, dan
  3. fokus kesalahan yang paling sering dan umum (mencampuri komperhensif teks) dan stigmatisasi (menyebabkan evaluasi negatif dari penutur asli) (Bates, Lane, Lange, 1993; Hendrickson, 1980).

 

  1. Proses Editing

 

Tahap 1: Fokus pada Bentuk

Siswa menganggap bahwa mengedit itu membosankan atau tidak penting atau mereka menjadi tergantung pada guru untuk mengoreksi pekerjaan mereka. Sebuah langkah penting dalam mengajari siswa untuk menjadi editor yang baik adalah untuk meyakinkan mereka tentang perlunya dilakukan editing. Untuk meningkatkan kesadaran pentingnya editing tersebut, Ferris menggunakan kalimat atau esai pendek yang mengandung berbagai masalah pengeditan. Mereka tidak hanya menemukan dan memperbaiki kesalahan, tetapi mendiskusikan bagaimana kesalahan ini menghambat pemahaman mereka terhadap teks atau tulisan yang dibaca, seperti pada tiga contoh berikut.

Orang tua saya selalu memberi saya banyak cinta.

– Sekolah adalah tempat di mana saya belajar hal-hal seperti membaca dan menulis.

– Saya suka kopi, di sisi lain, saya juga suka teh.

Bagian yang dicetak miring dari tiga kalimat mengandung kesalahan penulisan umum, masing-masing kata jamak dihilangkan, kesalahan verba, dan disalahgunakan frasa transisi. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat menyebabkan masalah dalam pemrosesan teks dan pemahaman.

Strategi lain yang digunakan Ferris dalam meyakinkan siswa tentang pentingnya mengembangkan keterampilan editing adalah dengan memberi tugas esai diagnostik dan kemudian menyediakan umpan balik tertulis tentang ide-ide mereka, informasi rinci tentang masalah dalam mengedit, dan indikasi dari nilai yang diperoleh atas kemampuan menulis mereka. Memberikan nilai akhir langsung oleh mereka bisa memotivasi mereka sendiri.

 

Tahap 2: Mengenali Jenis Kesalahan Besar

Penelitian menunjukkan bahwa fokus pola kesalahan bukan pada individu, tetapi yang paling efektif adalah bagi guru dan siswa, sehingga pada tahap ini siswa dilatih untuk mengenali berbagai jenis kesalahan. Kategori kesalahan tersebut dapat bervariasi, tergantung pada kebutuhan siswa, tetapi dipilihkan jenis kesalahan yang sering terjadi yang bersifat umum. Ferris membiarkan siswa berlatih mengidentifikasi kesalahan contoh esai yang ditulis siswa dan kemudian mencari kesalahan sebelum proses editing. Tampaknya benar bahwa lebih mudah untuk menemukan kesalahan pekerjaan orang lain daripada sendiri. Latihan dalam mengenali pola-pola kesalahan siswa membantu penulis lain menjadi lebih sadar akan masalah yang sama dalam tulisan mereka sendiri.

 

Tahap 3: Praktik Mengedit Sendiri

Pada tahap akhir Ferrish meminta siswa untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan dalam draft esai siswa mereka sendiri dan orang lain. Siswa juga disuruh menyimpan data hasil kesalahan selama satu semester untuk mengetahui kesalahan mereka dalam kategori yang berbeda sehingga mereka dapat mengamati kemajuan mereka sendiri.[6]

 

Hubungan Membaca dan Menulis

 Jika membaca adalah proses membuka jendela dunia, melihat wawasan yang ada dan menjadikannya sebagai khazanah pribadi, maka menulis adalah proses menyajikan kembali khazanah tersebut kepada masyarakat luas. Anda bisa menggabungkan sebuah khazanah dengan khazanah yang sudah dimiliki sebelumnya.

Sangat sulit bagi seseorang untuk menulis sesuatu yang di luar dirinya. Di luar apa yang pernah dia miliki sebelumnya. Seseorang harus memiliki sesuatu terlebih dahulu sebelum bisa memberikan kepada orang lain. Seseorang harus memiliki wawasan terlebih dahulu sebelum terampil dalam membaginya kepada orang lain.

Dengan demikian membaca mau tidak mau adalah proses yang harus dijalani oleh orang yang berkeinginan untuk bisa menulis. Jika selama ini Anda kesulitan menulis dan selalu berhenti pada kalimat atau paragraf pertama, bisa jadi penyebabnya karena terlalu sedikit stok informasi yang Anda miliki sebelumnya. Anda harus menambah stok tersebut agar proses menulis menjadi lancar.

Manfaat Membaca Bagi Keterampilan Menulis

Begitu besar manfaat membaca untuk mengasah keterampilan menulis seseorang. Berikut saya mencoba menyajikannya buat Anda:

  • Membaca memperluas wawasan
  • Membaca membantu melihat sudut pandang yang berbeda
  • Membaca membantu Anda belajar teknik menulis yang dipakai oleh orang yang lebih berpengalaman
  • Membaca membuat ide Anda melimpah
  • Membaca menjadikan otak dan pikiran Anda aktif
  • Membaca merangsang terbentuknya informasi baru di sistem daya ingat yang siap dipanggil kapan saja
  • Membaca membuat jalan pikiran Anda menjadi lebih lentur
  • Membaca memperkaya kosa kata, pilihan kalimat, dan cara penyajian yang bisa Anda pakai dalam menulis
  • Membaca membuat Anda mampu menganalisa, menghubungkan informasi yang terserak, dan melihat benang merah dari sebuah persoalan
  • Membaca membuat Anda punya bahan yang banyak untuk menuliskannya kembali

Dan masih banyak manfaat lain jika kita berusaha meneruskan daftar tersebut.

Rajin Membaca, Aktif Menulis

Begitu banyak contoh di sekitar kita yang menunjukkan bagaimana orang yang gemar membaca cenderung memiliki keterampilan menulis yang baik.

Buya Hamka adalah orang yang rajin membaca. Beliau juga dikenal sebagai pembaca cepat. Maka tidak heran pula jika beliau bisa menghasilkan banyak karya.

Rhenald Kasali – tokoh pemasaran Indonesia – adalah orang yang aktif membaca. Dengan demikian sangat mudah buat beliau untuk terus menulis tren terbaru dan prediksi tentang peta pemasaran di masa yang akan datang.

Yodhia Antariksa, seorang blogger produktif yang banyak menulis artikel bernas seputar strategi manajemen, mampu berbuat demikian karena punya kebiasaan membaca buku setiap petang.

Membangun Tradisi Membaca dan Menulis

Untuk itu, sudah saatnya membangun kembali tradisi membaca dan menulis. Inilah kontribusi yang bisa diberikan untuk menjadikan bangsa ini lebih maju.

Coba hitung waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi, aktif bertukar status dan komentar di Facebook, atau berkicau di Twitter. Ambil separuh dari waktu yang dihabiskan itu untuk membaca buku-buku berkualitas. Maka dalam tempo 1 bulan saja, sudah menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya.

Lewat kebiasaan membaca, bisa melatih keterampilan menulis. Punya kacamata yang mampu melihat berbagai sudut pandang. Punya amunisi kata dan kalimat yang siap dituliskan. Dan akan punya pikiran yang lebih jernih dan sehat.[7]

 

Kesimpulan

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis. Memperoleh pesan adalah proses pemaknaan yang berkaitan dengan proses berpikir atau nalar.

            Secara umum tujuan membaca adalah untuk mendapatkan informasi. Untuk itu diperlukan keterampilan. Keterampilan membaca hakikatnya adalah keterampilan intelektual. Untuk mencapainya melalui kegiatan pembelajaran. Karakteristik pembelajaran membaca memiliki tingkatan dan tingkatan paling tinggi adalah keterampilan membaca yang bersifat pemahaman.

Keterampilan membaca dapat dikembangkan dengan memilih bahan pembelajaran membaca yang tepat dan dilaksanakan dengan metode yang tepat pula.

Bila pengembangan keterampilan membaca tercapai secara optimal akan sangat membantu dalam mengembangkan keterampilan menulis.

Menulis pada dasarnya merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Untuk mengembangkan keterampilan menulis diperlukan langkah-langkah dan tahapan-tahapan. Pada pembelajaran menulis guru hendaknya mampu mengarahkan setiap tahapan menulis dengan baik dan tepat, sehingga siswa benar-benar paham dan tulisan yang dihasilakan baik. Guru juga harus pandai dalam memilih dan menggunakan pendekatan dalam proses pembelajaran menulis. Selain memilih pendekatan yang tepat, guru juga harus pandai memilih dan menggunakan media pembelajaran sehingga pembelajaran menulis dapat berjalan efektif. Baik siswa maupun guru hendaknya aktif dalam mencari informasi atau ide-ide untuk menulis agar tulisan yang dibuat semakin berkembang. Dengan semakin berkembangnya tulisan yang dibuat maka keterampilan menulis siswa dapat meningkat secara signifikan.

Keberhasilan menulis ditentukan oleh banyak faktor begitu juga dengan keberhasilan pembelajaran menulis. Hal ini dikarenakan menulis bukanlah hal yang mudah dan merupakan suatu proses. Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untuk mempraktikkannya tidak cukup sekali dua kali. Frekuensi latihan menulis akan menjadikan seseorang terampil dalam bidang tulis-menulis.Oleh karena itu, jika ingin berhasil dalam menulis maka harus sering berlatih, berlatih, dan berlatih.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arsanti, Meilan,S. Pd., Pengembangan Keterampilan Menulis Kreatif dengan Pendekatan Berbasis Genre dan Pemanfaatan Media Web Blog, Artikel Program Pascasarjana, Unes

Depdiknas. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Depdiknas.

Fathan, Abu, Enam Jurus Terampil Menulis, Piawai Merangkai Kata, http://media.kompasiana.com/new-media/2012/01/07/enam-jurus-terampil-menulis-piawai-merangkai-kata/

Kamidjan. 1996. Teori Membaca. Surabaya: JPBSI FPBS IKIP Surabaya.

Kurniawan, KhaerudinModel Pengajaran Menulis Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Tingkat Lanjut, FBS Universitas Negeri Yogyakarta

Nurhadi. 1987. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: Sinar Baru dan YA3 Malang.

Nuttal., Christine. 2005. Teaching Reading Skills: In a Foreign Language. Oxford: Macmillan.

 

Noer, Muhammad, Gemar Membaca, Terampil Menulis, Artikel pada http://www.muhammadnoer.com/2011/11/gemar-membaca-terampil-menulis/

 

Pandawa, Nurhayati, dkk. 2009. Pembelajaran Membaca. Jakarta: Depdiknas

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional N0. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk

Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. J akarta: Depdiknas.

Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, Modul Bahasa Indonesia Keterampilan Menulis, Bahan Belajar Pendidikan dan Pelatihan Pasca-Uji Kompetensi Awal bagi Guru Kelas, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012

 

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Membaca: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

 

Zuchdi, Darmiyati. (1997). “Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Proses”, Karya Ilmiah disajikan dan dibahas pada Senat Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Yogyakarta tanggal 15 November 1996 (tidak dipublikasikan). Yogyakarta: IKIP.

 

[1] Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, Modul Bahasa Indonesia Keterampilan Menulis, Bahan Belajar Pendidikan dan Pelatihan Pasca-Uji Kompetensi Awal bagi Guru Kelas, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012

[2] Khaerudin Kurniawan, Model Pengajaran Menulis Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Tingkat Lanjut, FBS Universitas Negeri Yogyakarta

 

[3] Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, op cit, hal. 4

[4] Abu Fathan, Enam Jurus Terampil Menulis, Piawai Merangkai Kata, http://media.kompasiana.com/new-media/2012/01/07/enam-jurus-terampil-menulis-piawai-merangkai-kata/

[5] Khaerudin Kurniawan, Model Pengajaran Menulis Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Tingkat Lanjut, FBS Universitas Negeri Yogyakarta

[6] Meilan Arsanti, S. Pd., Pengembangan Keterampilan Menulis Kreatif dengan Pendekatan Berbasis Genre dan Pemanfaatan Media Web Blog, Artikel Program Pascasarjana, Unes

[7] Muhammad Noer, Gemar Membaca, Terampil Menulis, Artikel pada http://www.muhammadnoer.com/2011/11/gemar-membaca-terampil-menulis/

 

Iklan

2 thoughts on “PENGEMBANGAN KETERAMPILAN MENULIS”

  1. DDTerimakasih tips pembelajarannya. Sangat membantu saya yang masih baru dalam belajar menulis.
    “Sangat bermanfaat… 😁

  2. maaf pak dosen sy punya pertanyaan yang tidak bisa di pecahkan.

    standar kompetensi apakah siswa mampu menulis berbagai jenis wacana, surat dan isi ringkasan suatu bacaan, berikan alasanya

    #terimkasih pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s