Catatan

Bukan Perempuan

bukan-perempuanAku bukan perempuan. Tetapi mengapa kau menciumiku? Aku tidak sedang bermimpi. Tetapi ini tak dapat kupercaya dengan akal sendiri. Aku masih pura-pura terlelap ketika seseorang mulai menciumiku, memelukku bagai sebuah boneka yang tak berdaya. Ingin kuberontak. Tapi entah mengapa aku tak bisa. Aku takut. Takut menghadapi kenyataan bila orang yang memperlakukanku dengan begitu hina ini adalah seseorang yang amat aku kagumi.

“Kau sudah terbangun?” ia membisiku.

Aku terdiam. Hatiku berdetak lebih cepat. Rasa takut menghantuiku. Tidak salah lagi. Aku mengenal suara ini. Ini suara Ardi. Tidak salah lagi.

“Tenang saja. Kau akan nyaman bersamaku. Aku akan memelukmu. Kau pasti kedinginan ya? Malam ini memang angin laut begitu kencang,” lanjutnya. Aku masih terdiam. Aku hanya ingin malam ini cepat selesai. Tetapi Ardi malah memelukku dengan pelukan yang lebih kencang.

Mataku kupejam dalam-dalam. Ini pasti mimpi. Aku ingin ini hanya terjadi dalam mimpi. Tapi, ah… Sentuhan Ardi terasa begitu nyata begitu pula dengan ciumannya. Berusaha membangkitkan nafsu purbawi. Tapi aku tak memedulikannya.

“Mengapa kau diam saja? Malam ini begitu indah. Kau buka matamu, lihatlah dari balik jendela. Bulan bercahaya dengan sempurna. Langit cerah. Bukalah matamu, ini akan menjadi malam yang indah,” ia masih mendawai kemudian membelai kepalaku dengan sesekali menciumiku. Aku muak. Ingin berontak. Tapi lagi-lagi aku tak berdaya, aku tahu siapa yang memelukku. Aku tahu benar siapa yang memperlakukanku dengan hina ini. Seorang santri yang sangat pintar. Mendapat nilai selalu mumtaz[1], mahir dalam berbahasa Arab dan Inggris dengan fasihnya, dan dinobatkan sebagai santri teladan.

Dan kini, aku berada dalam pelukannya. Ah, sungguh aku tak pernah berpikir kedekatanku dengannya akan berakhir seperti ini. Aku memang selalu belajar banyak hal dengannya. Hingga keberadaanku di dalam ruangan ini pun karena niatku untuk belajar bersamanya. Tetapi, mengapa Ardi berubah?

Aku tak mendapatkan jawaban apa-apa selain tubuh Ardi yang terus-menerus mengamitku.

***

Pagi-pagi aku hanya terpekur di depan kamarku. Aku memikirkan kejadian semalam. Hatiku rasanya terpukul. Pergumulan semalam telah membuatku merasa sebagai makhluk paling hina. Tuhan pasti tahu, karena Allah Maha Mengetahui. Ah, aku tak sanggup memikirkan dosa itu. Sesak sekali dadaku. Ingin kumenangis. Tapi aku bahkan tak dapat mengeluarkan air mata.

Aynal Ihsan?[2]” tanya temanku Ridwan yang kemudian membuyarkan lamunanku.

Ma kuntu bi ‘arif,[3]jawabku singkat.

Wah, fasih sekali bahasamu. Biasanya juga jawab ma fi[4],” ejek Ridwan.

“Kau seperti tidak tahu saja. Diakan dekat dengan Ardi, santri kelas akhir itu,” timpal teman Ridwan. Entah mengapa hatiku sesak mendengar nama Ardi disebut-sebut. Rasanya aku ingin enyahkan nama itu dari muka bumi ini.

“Oh, ya. Pantas kamu jadi pintar begini. Kalau ketemu Ihsan nanti beritahu ia mudif.[5] Kami mau ke masjid dulu, ada bersih-bersih masjid. Ok?” lanjut Ridwan kemudian.

Aku hanya menganggukan kepalaku dan kembali terpekur dengan lamunanku. Tapi tak lama, dari kejauhan aku lihat Ardi berjalan menuju ke arah kamarku. Aku segera masuk ke dalam. Aku tak mau bertemu dengannya. Aku beri tahu temanku untuk tidak memberi tahu keberadaanku dan aku bersembunyi di balik lemari.

Aku lihat dari jendela, Ardi tampak kecewa dan pergi meninggalkan kamarku. Tak lama berselang, temanku datang padaku.

“Wah beruntung sekali kau! Kau dipilih mewakili pondok untuk ikut lomba pidato bahasa Arab. Nanti malam disuruh ke diwan[6]. Kau akan dilatih oleh orang yang paling hebat di pondok ini!” terangnya dengan suara menggebu-gebu.

Tetapi sebaliknya denganku. Tubuhku terasa lemas. Karena aku tahu, orang itu adalah Ardi.

“Ada apa? Mukamu mengapa cemas begitu? Takut kalah? Ah, itu biasa. Menang kalah dalam lomba itu biasa.”

Aku hanya tersenyum kecil dan menundukan kapalaku. Dia tak tahu, orang yang dibanggakannya itu adalah orang yang paling hina bagiku. Lebih hina dari hewan manapun! Aku menggerutu. Ah, datangkah aku nanti malam? Entah mengapa, aku merasa sesak di dadaku makin bertambah.

***

Aku terbangun ketika kurasakan tubuhku terasa berat seperti ada yang menindih. Aku segera sadar. Bahwa seseorang telah memelukku dan tidur tepat di atas tubuhku. Aku tahu orang itu adalah Ardi.

Aku teringat, pukul dua belas malam aku masih berlatih pidato dengannya. Saat itu masih ada teman-temanku yang lain. Tapi sekarang, aku tak tahu. Aku tertidur mungkin saat latihan dan yang lain telah pulang.

Ardi masih tertidur. Nampak nyenyak sekali bahkan ketika aku pura-pura berpaling dan membiarkan tubuh setengah telanjang itu tergeletak di antara kitab-kitab. Aku menatap miris. Entah berapa lama. Sedih pada nasibku, perih sekali. Seperti ada yang menusuk. Tajam sekali mengiris hati.

Ya, Allah… sampai kapan aku harus terus begini? Berikan jalan yang terbaik bagiku, hatiku membatin.

Ah, rasanya aku ingin berhenti dari pesantren ini. Berlari dari kenyataan pahit ini. Tapi aku tak tega pada Bapak. Telah susah payah Bapak membiayaiku hingga aku telah lima tahun di pondok ini. Aku tahu, Bapak membiayai semua ini dengan meminjam uang ke mana-mana. Tak tega rasanya, bila aku memupuskan impiannya begitu saja apalagi aku hanya tinggal satu tahun lagi di sini. Dan aku yakin, ini hanya masalah waktu.

***

“Pidatomu itu bagus sekali. Pantas kamu juara,” puji seorang perempuan. Ia juga utusan pesantren kami dari pondok putri yang kini berada dalam sebuah bis yang sama.

“Terima kasih. Kau juga. Aku yakin seharusnya kau juara satu. Tapi sayang jurinya banyak yang tuli,” jawabku.

Kami tertawa.

“Kau menyindirku?”

“Tidak, aku serius.”

Perempuan itu bernama Shaleha. Entah mengapa aku merasa jatuh hati padanya. Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Sumenep yang lebih dari empat jam itu menjadi tak terasa. Tapi entah mengapa Ardi melirikku berkali-kali. Cemburukah ia padaku?

***

Jumat ini seperti menjadi jumat terakhir bagi kyai kami, ia duduk di antara kami para santrinya. Aku lihat berkali-kali Kyai Mustofa terbatuk-batuk. Banyak yang menduga penyakitnya itu akan membawanya kepada kematian. Sudah banyak isyarat yang ditunjukan kyai, misal saja dengan berkali-kali menyebut agar manjaga pesantren ini.

Semua sudah tahu, kyai anti dokter. Menurutnya, kesembuhan hanya datang dari yang memberi penyakit. Itu sudah menjadi watak Kyai Mustofa. Meski anak-anaknya sudah berkali-kali menganjurkan untuk membawa ke dokter. Tapi Kyai Mustofa bersikeras untuk tidak berobat.

“Anak-anakku…,” suara Kyai Mustofa terpotong dengan batuk-batuknya yang membuat tubuh tua itu bergoncang-goncang. Meski dalam keadaan seperti itu, kyai tampak masih berusaha menjawab pertanyaan santrinya.

“Orang yang baik itu hanya untuk orang baik Nak. Telah jelas dalam surat An-Nur[7] hal itu dipaparkan. Jadi tidak mungkin ada seorang mukmin menikahi seorang pelacur,” terang Kyai Mustofa.

Kami semua menunduk. Termasuk temanku yang bertanya. Mungkin dalam hatinya, segala pikiran tengah berkecamuk sebab temanku itu mencintai seorang yang kini telah hamil tiga bulan karena menjadi pelacur.

“Jika kalian ingin mendapatkan istri yang shalehah, maka kalian harus menjadi seorang yang shaleh terlebih dahulu…” suara kyai terdengar agak serak dan begitu berat. Tak lama kyai mengakhiri ceramahnya pagi itu.

Ketika keluar masjid. Dalam hati kubertanya pada diriku sendiri. Aku bukan orang baik, dapatkah aku mendapatkan istri yang baik?

***

Abah menginginkanku cepat mendapatkan penggantinya. Abah mau, aku cepat menikah. Aku berharap, kamu yang menjadi suamiku.

Demikian kutipan surat yang aku terima saat aku bersiap-siap menyapu halaman kamar yang kotor. Aku terima surat itu dengan segala ketakjubanku. Pertama, surat itu dari Shaleha; perempuan yang mampu menggetarkan hatiku. Kedua, Shaleha adalah anak Kyai Mustofa yang sungguh aku tak mengira sebelumnya. Ketiga, Shaleha memilihku menjadi pendampingnya. Ini lebih dari suatu mimpi yang indah. Aku tak pernah membayangkannya. Tetapi entah mengapa surat itu malah membebani diriku. Sebab, pantaskah aku menjadi suami Shaleha?

Aku ingat pergumulanku dengan Ardi. Aku terlalu hina untuk menjadi seorang suami dari anak kyai. Terlalu hina untuk menjadi generasi penerus dari pesantren yang begitu besar namanya ini. Bukan tidak mampu, tapi aku malu. Malu pada kehinaan yang memeras hatiku hampir dalam setiap sujudku.

Lama aku berpikir. Cinta yang bermekaran di hatiku, harumnya bercampur dengan busuknya diriku. Aku sungguh tak tahan pada keadaan seperti ini. Pada akhirnya aku memutuskan salah satu keputusan terberat dalam hidupku. Menolak tawaran Shaleha.

***

Aku sungguh tak mengira kalau pada akhirnya Shaleha memilih Ardi untuk menjadi suaminya sedang Ardi begitu bangga bercerita padaku.

“Kyai Mustofa memanggilku. Ia berniat menjodohkanku dengan Shaleha,” terang Ardi. Aku muak mendengar kata-kata itu. Aku menatap Ardi dengan tatapan yang begitu benci.

“Mengapa? Kau cemburu?” nada suaranya seperti mengejekku.

“Tenang saja. Aku akan tetap mencintaimu,” bisiknya di telingaku. Aku geram. Sangat geram dan ingin menghajar mukanya.

“Kau itu tak pantas untuk Shaleha!” bentakku padanya. Tapi Ardi malah tersenyum dan pergi meninggalkanku seperti tak mendengar kata-kataku.

Aku segera menghubungi Shaleha.

“Kau ingin menikah dengan Ardi?” tanyaku.

“Iya,” jawabnya di seberang telfon sana.

“Kau jangan pilih dia. Pilih saja yang lain. Ada banyak lelaki yang lebih baik dari dirinya. Jangan pilih Ardi!” terangku berusaha menyakinkan Shaleha.

“Memang kenapa?” tanyanya heran.

“Dia itu…,” aku ragu ingin mengungkapkan semua kehinaan ini.

“Dia itu apa?” Shaleha mendesakku. “Dia itu lebih baik darimu bukan? Kau bahkan tak peduli pada nasibku,” Shaleha terdengar terisak.

“Bukan itu masalahnya.”

“Lantas apa? Aku tak butuh penjelasanmu.”

Telfon ditutup. Aku berusaha menghubungi kembali tapi tak diangkat. Aku putus asa.

***

“Ardi itu begitu beruntung mendapatkan Shaleha. Anak Kyai Mustofa itu selain cantik, juga sangat pintar,” ujar salah seorang temanku, entah siapa.

“Tapi Ardi itu memang yang terbaik di pesantren ini. Ardi memang yang paling pantas mendapatkannya,” ujar yang lain.

“Tentu saja karena dia yang paling pintar dan paling layak dipanggil Kyai.”

Entah mengapa hatiku menjadi begitu sesak. Aku ingin berteriak. Ingin sekencang-kencangnya. Agar semua orang tahu bahwa Ardi itu tidak lebih dari kaum Nabi Luth! Seorang homo yang hanya suka pada lelaki.***

Catatan:

Cerpen ini merupakan cerpen karya Syarif Hidayatullah yang meraih juara I dalam Lomba Menulis Cerita Pendek Antar Mahasiswa Se-Indonesia yang diselenggarakan oleh STAIN Purwokerto Tahun 2010. Diterbitkan dalam antologi cerpen Bukan Perempuan (Yogyakarta: Obsesi Press, 2010) dan dimuat kembali dalam antologi tunggal bertajuk Bukan Perempuan (Jakarta: Qalam Media Group, 2011).

[1] Predikat setara dengan cumlude dari bahasa Arab

[2] Dimana hisan

[3] Aku tak tahu

[4] Tidak ada. Dalam bahasa arab penggunaan kata ini tidak tepat karena tidak memiliki kaedah yang benar

[5] Menerima tamu

[6] Kantor (bahasa Arab)

[7] Lihat ayat tiga. Berikut kutipan artinya: Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.

 

Iklan

2 thoughts on “Bukan Perempuan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s