Feeds:
Pos
Komentar

PURE LOVE

Mungkin istilah ini sering kita dengar, pure love atau cinta suci. Namun kita sendiri bingung untuk menerjemahkan kata ini dalam relita sosial kita. Hal ini mungkin menjadi rumit setelah kita mendengar arti cinta yang diselewengkan. Sex bebas, adalah salah satu penafsiran miring yang kadang-kadang menjadi tolak ukur untuk menakar sejauh mana cinta itu sendiri. Tentu saja hal ini jauh dari apa yang dimaksud dengan pure love. Lantas, apa yang dimaksud dengan pure love?

Bagi seorang muslim, penafsiran cinta tidak berhenti kepada seseorang yang kita kasihi. Cinta juga berarti cinta kita kepada Allah. Cinta inilah yang sebetulnya mengajari kita pada arti pure love itu sendiri.

Sejak awal Allah telah mengajari kita untuk bercinta, bagaimana kita menilai sesuatu untuk kemudian kita cintai. Tauhid memiliki makna agar kita tidak mendua, agar kita selalu percaya pada apa yang kita cintai. Kata-kata indah dalam cinta adalah syahadat yang berarti pengakuan yang maknanya kemudian berubah menjadi janji setelah kita ada di dalamnya.

Cinta kepada Allah adalah cinta yang gaib. Sebab objek yang kita cintai tidaklah berbentuk fisik bahkan kita tidak pernah melihatnya, namun cinta itu terus ada dan tumbuh dalam hati kita. Hal ini juga mengisyaratkan kita bahwa tidaklah cinta diukur dengan keindahan fisik, tidak juga dengan cantik. Cinta merupakan iman, di mana keyakinan dan kepercayaan melahirkan kesetiaan.

Saat cinta telah menjadi iman, segala cobaan akan dilewati dengan kesabaran. Selalu ada kesetiaan dan jauh dari pengkhianatan. Saat seperti inilah kita harus benar-benar bijak dalam menghadapi cinta. Meski kita bukan Tuhan, namun kejujuran, kasih sayang dan segala sifat yang ditiupkan-Nya ke dalam diri kita merupakan bekal kita untuk bisa menjaga cinta. Cinta suci yang didambakan hamba-hamba ilahi.

Mungkin inilah yang sebaiknya dijadikan pertimbangan bagi mereka yang ingin berkeluarga, memilih calon pasangan hidup hendaknya dengan pure love di mana keimanan menjadi dasar dari cinta yang akan dan terus tertanam dalam diri kita. Semoga Allah tetap menunjukan hidayah-Nya kepada kita. Amien..

 

GambarJudul Buku     :    Udah Putusin Aja!

Penulis            :    Felix Y. Siauw

Visual              :    Emeralda Noor Achni

Kategori          :    Non Fiksi

Penerbit           :    Mizania

Kota Terbit     :    Bandung

Harga              :    Rp. 59.000,-

Felix Yanwar Siauw adalah seorang Islamic Inspirator yang pada awalnya bukanlah seorang muslim. Pria kelahiran Palembang, 31 Januari 1984 lahir dahulu berada di lingkungan keluarga Katholik Tionghoa. Kegelisahan dan pencariannya akan Tuhan dan nilai-nilai ketuhanan akhirnya menuntunnya untuk menjadi seorang muslim ketika ia menjalani masa kuliah di Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB). Ustad Felix bertemu dengan sang istri di IPB, menikah di tahun ke empatnya menjadi muallaf dan saat ini beliau dikaruniai 3 putra dan putri.

Felix Yanwar Siauw juga seorang ustad sekaligus penulis buku dengan gaya kiasan twitternya dan karya-karya motivasional dan sejarah yang inspiratif. Karya-karyanya yang best seller antara lain, Beyond The Inspiration (April 2010), Muhammad Al-Fatih (Agustus 2011), How To Master Your Habits (Maret 2012), Udah Putusin Aja! (Februari 2013), Yuk Berhijab! (Juni 2013). Buku-bukunya ini laris manis di pasaran, selain mengandung motivasi juga mengandung banyak ilmu yang bermanfaat bagi pembaca.

Udah Putusin Aja!, salah satu buku best seller karya Felix Y. Siauw. Melihat covernya saja, buku ini sudah terlihat berbeda dari buku yang lain. Warna pink begitu mencolok dan dominan. Hal tersebut nampaknya cukup wajar jika melihat segmen dan target buku ini memang kalangan remaja. Terlebih lagi remaja putri. Ditambah lagi, buku ini merupakan sebuah graphic book. Di dalamnya berisi cukup banyak hiasan grafis dan rangsangan visual yang menarik. Hampir di setiap lembar halaman.

Dengan sangat apik dan gaya tulisan selayaknya membaca kicauan di twitter, Felix Y. Siauw menuntun kita untuk tidak salah kaprah dengan gaya namanya cinta. Bahasanya sangat renyah dan sarat ilmu tanpa terkesan menggurui. Argumennya masuk akal dan masuk di hati. Terkadang lembut memberikan kita pemahaman, sering juga menusuk tanpa ragu membeberkan kesalahan dan mengangkat kebenaran. Salah satunya adalah, “Tau nggak, “cuma” itu kata yang berbahaya. Karena semua kemaksiatan awalnya juga “cuma”. Selingkuh itu awalnya, ya “cuma” teman. Hamil itu juga awalnya “cuma” pegangan.”(hlm.49).

Dan dengan gayanya yang “blak-blakan”, beliau memasukkan sebuah pesan elektrik yang masuk ke e-mailnya di halaman awal buku pesan ini dari seorang wanita yang curhat kepada beliau, menurut saya kisah tersebut terlalu vulgar namun ustad memberikan contoh konkret akan masalah-masalah dan dampak yang ditimbulkan ketika pacaran.

Buku ini berujar tentang cinta, cinta sebagai fitrah manusia yang selayaknya tidak dikotori dengan perbuatan-perbuatan yang tidak seharusnya. Bahwa cinta adalah pemberian Allah dan karunia-Nya. Allah menanamkan rasa cinta pada jiwa kita sebagai bentuk dari rasa cinta-Nya kepada kita agar kita berpikir tentang-Nya. Hal-hal kecil yang sering disepelekan namun mengotori makna cinta itu sendiri, serta alasan-alasan yang sering digunakan para pasangan yang sedang berpacaran sebagai pembenaran atas perbuatan mereka juga dijabarkan dan disanggah dalam buku ini.

Salah satunya yaitu: “Saya nggak bisa bayangin. Gimana bisa pernikahan tanpa pacaran? Kan nggak saling mengenal? Lha yang sudah kenal aja bisa cerai, apalagi yang nggak pacaran?emanganya kita beli kucing dalam karung?” (hlm. 110)

Buku setebal 180 halaman ini bukan hanya membahas alasan-alasan mengapa kita tidak boleh menjalin hubungan yang tidak seharusnya dengan orang yang bukan mahram, tapi juga memberi solusi untuk menjalankannya agar tidak terjadi “galau”. Selain solusi bagi yang belum siap untuk menikah agar meninggalkan proses pacaran, dipaparkan pula solusi tentang bagaimana cara membuat hubungan yang tidak halal menjadi halal, tentunya bagi orang-orang yang sudah siap untuk melakukannya.

Tampilan buku ini sangatlah menarik, selain karena buku ini full color, isinya juga bukan dengan teks yang panjang-lebar seperti buku-buku lain, tetapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang menarik dan kalimat-kalimat singkat namun mengena saat dibaca. Dengan penampakan seperti ini, apalagi warna covernya yang pink, buku ini seolah hanya ditujukan bagi para remaja putri. Padahal buku ini juga cocok dibaca oleh kaum Adam, agar mereka mengerti bagaimana seharusnya bertindak dan tidak berprasangka buruk kepada para perempuan yang ingin menjaga jarak dengan lelaki yang bukan mahramnya. Di dalamnya juga berisi kisah – kisah yang mengispirasi dan menjadi cermin untuk anak muda generasi Islam.

Buku ini tidak sekedar provokasi untuk mengakhiri pacaran, tetapi berisikan pengetahuan yang dalam. Ringan, tetapi nilai-nilai Islam sebagai dasar menjalani cinta dapat kita temukan di buku ini.

Kelugasan yang berpadu dengan kejenakaan menjadi keunggulan buku ini tampilan warna merah jambu yang cerah, menjadi penarik agar pembaca segera merasakan nuansa cinta sebagian tema yang dibicarakan buku ini. Sebagian pelengkap, terdapat pula ilustrasi-ilustrasi menarik yang di buat oleh Emeralda Noor Achni, termasuk ilustrasi Ustad Felix, yang akan membuat pembaca seakan sedang beriteraksi langsung dengan penulis. Ilustrasi imutnya menjadi ‘senjata’ yang membuat pembahasannya terasa lebih ‘bersahabat’ pancaran versus menikah menjadi tema yang dijelaskan dengan gamlang dan tidak kaku. Jika buku tentang pacaran lainnya kebanyakan menjelaskan lewat rahasia, kalau buku ini ada selipan dialog yang digambarkan dengan bentuk komik sehingga remaja yang membacanya lebih mudah menyerap pesan yang disampaikan.

Kedinamisan tampilan di dalamnya dapat menjadi kekurangan dari buku ini, apabila pembaca tidak mengerti urutan dari tulisan yang ada. Adapun hal lain yang kurang dari buku ini adalah tidak ada daftar pustaka sebagai rujukan, index, dan glosarium. Mungkin penerbit melupakannya karena ini buku untuk remaja dan mengira remaja tidak memerlukannya. Semoga pada ketik ulang berikutnya sudah disertakan.

Udah Putusin Aja!, sebab apapun namanya, kelak akan bersaksi seluruh bagian tubuh di hadapan Allah. Karenanya, sedari dini mari kita mendidik cinta, mengajarnya agar ia bersemi dalam taat, bukan direndahkan oleh maksiat. Ajarkan cinta agar ia benar hingga membuat pemiliknya terhormat, bukan nista yang ditanggung karena terbuai cinta yang terlaknat.

Udah Putusin Aja! pantas menjadi koleksi Anda, dan rasakan sendiri isi buku ini.

Ditulis oleh: Anita Putri Lesmana

Judul               : Tak Sempurna

Editor              : Fahd Djibran dan Bondan Prakoso & Fade2Black

Penerbit           : Kurniaesa Publishing

Harga              : Rp 46.000,00

Tebal Buku      : i x 245 halaman

Tahun Terbit    : 2013

ISBN               : 978-602-7618-15-2

Gambar Karya sastra adalah hasil sebuah perenungan yang mendalam dari seorang pengarang dengan media bahasa. Pengarang menuangkan pikiran, perasaan, pengalaman, ide-ide, dan semangat keyakinan dan kepercayaannya yang diekspresikan ke dalam sebuah karya sastra. Karya sastra mampu memberikan kesadaran dan pengalaman batin bagi pembacanya. Menurut Sumardjo dan Saini (1991: 10), pengalaman manusia merupakan akumulasi yang utuh karena meliputi kegiatan pikiran, nalar, kegiatan perasaan, dan khayal. Kenyataan adalah sesuatu yang dapat merangsang atau menyentuh kesadaran manusia, baik yang ada dalam dirinya, maupun yang ada di luar dirinya.

Dunia pendidikan atau dunia sekolah merupakan dunia yang sangat kompleks yaitu miniatur kehidupan manusia. Pendidikan membutuhkan sebuah sistem yang dapat mengatur jalannya pendidikan dengan baik. Sistem pendidikan yang tak ramah anak, hanya akan menciptakan generasi-generasi robot, yaitu penurut namun tanpa kecerdasan kreativitas dan kecerdasan moral. Akhirnya generasinya akan tergelincir dengan melakukan korupsi, seks bebas, tindak kekerasan dan kejahatan. Keadaan ini tergambar dari novel karya Fahd Djibran dan Bondan Prakoso & Fade2Black yang berjudul Tak Sempurna.

Tak sempurna ini bercerita tentang sistem pendidikan yang salah yang ada di suatu kota di Indonesia. Sebuah kota yang anak-anaknya tumbuh tanpa memperoleh kasih sayang dari keluarganya karena mayoritas mereka tumbuh dari keluarga broken home. Akan tetapi, mereka tetap bisa merasakan sekolah. Namun, sekolah hanya dijadikan tempat “penitipan anak” bagi orang tua yang sibuk atau “tempat pembuangan anak” bagi orang tua yang tak peduli pada mereka dan ajang adu gengsi.

Dalam cerita ini, ada seorang anak yang bernama Rama Aditya Putra, yang biasa dipanggil Rama. Dia bersekolah di SMA Lazuardi. Saat di sekolah, dia menemukan hal-hal yang seharusnya tidak ditemukan di sekolah, seperti; berkata-kata kotor, guru-guru munafik, menonton video porno, seks bebas, narkoba, minum-minuman keras, dan sebagainya dapat mereka lakukan dengan bebas tanpa ketahuan guru dan orang tua. Selain itu, mereka juga  dididik untuk berkelahi oleh senior-seniornya agar mereka dapat melawan musuh saat tawuran antarsekolah. Di sinilah mereka tidak pernah menghargai guru atau orang yang lebih tua sehingga mereka bisa melawan orang-orang yang lebih tua dari dirinya tanpa segan dan merasa bersalah.

SMA Lazuardi sering sekali melakukan tawuran dengan SMK Citra Bangsa yang penyebabnya hanya hal-hal kecil, seperti: saling mengejek antarpelajar yang berbeda sekolah, rebutan wanita,dan hal lainnya. Menurut mereka tawuran ini sebagai wujud mempertahankan harga diri. Walaupun tawuran ini sering sekali memakan korban. Namun, hal ini tidak membuat mereka jera. Masing-masing sekolah ada seorang siswanyanya yang meninggal saat tawuran berlangsung. Mereka terus memiliki rasa dendam antarsekolah sehingga tawuran terus terjadi dan tidak bisa dihindari.

Sampai suatu ketika kedua sekolah itu mengadakan rekonsiliasi, yaitu semacam perjanjian untuk berdamai antarsekolah. Meskipun sudah dilakukan hal seperti itu, tawuran pun masih tetap terjadi. Akhirnya, antarsekolah membuat keputusan jika siswanya masih ada yang melakukan tawuran akan dikeluarkan dari sekolah dengan tidak hormat dan polisi akan menindaknya secara tegas sesuai hukum yang berlaku. Semoga peristiwa ini bisa membuat para siswa jera.

Cerita ini memberikan pesan kepada para pembaca khususnya para peserta didik bahwa untuk mempertahankan harga diri tidak dengan berkelahi atau tawuran antarpelajar sebab dengan berkelahi atau tawuran tidak ada untungnya dan tidak menyelesaikan masalah, bahkan hanya menimbulkan masalah-masalah baru dan menciptakan musuh yang banyak. Seharusnya peserta didik tidak menyelesaikan suatu masalah dengan emosi dan jangan sampai emosi menguasai diri kita sehingga kita melakukan hal-hal asusila. Masalah yang terjadi diselesaikan dengan kepala dingin dan memikirkan risiko-risiko yang akan terjadi agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.  Inilah tugas para pendidik untuk dapat mampu menanamkan ilmu agama yang baik kepada peserta didik agar mereka  memiliki moral dan akhlak yang baik juga.

Kelebihan dari novel ini, dilihat dari segi fisiknya yaitu: cover buku yang menarik, sebab gambar covernya seragam sekolah yang berdarah dengan maksud menggambarkan isi dari cerita novel tersebut yaitu terjadinya tawuran yang menyebabkan para siswa luka-luka bahkan sampai meninggal. Tulisan dan lembaran-lembaran kertas utuh dan jelas (tidak ada bagian yang hilang). Dilihat  dari segi isinya, alur yang digunakan dalam cerita ini jelas karena ceritanya saling berkesinambungan antara bagian pertama ke bagian selanjutnya, “Aku tak ingin bel tanda pelajaran berakhir membunyikan babak permulaan sebuah “peperangan” (hal. 47). Di bagian selanjutnya menceritakan risiko dari tawuran “kehilangan satu kaki benar-benar tak pernah kubayangkan sebelumnya” (hal. 89), di bagian selanjutnya juga menyatakan penyesalan atas perilaku yang telah dilakukannya yaitu tawuran “Rama bener-bener nyesel dan Rama pengen minta maaf sama mama” (hal. 107). Gaya bahasa yang digunakan dalam cerita ini gaya bahasa anak muda sehingga mudah dipahami oleh para pembaca.

Hal yang menarik dari cerita ini juga terlihat dari  isi ceritanya, menceritakan realita yang terjadi dalam pendidikan masa kini mengenai tawuran, seks bebas, tidak menghargai orang yang lebih tua, memakai narkoba, dan lain sebagainya. Semua itu dapat dilakukan dengan bebas tanpa ada guru atau orang tua yang mengetahuinya.  Oleh sebab itu, sistem pendidikan harus diperbaiki agar tidak menciptakan generasi penerus yang hancur yaitu dengan tidak memiliki moral yang baik. Jika sudah dapat menciptakan sistem pendidikan dan para pendidik yang baik maka akan memperoleh generasi penerus yang baik juga.

Selain itu, latar/setting yang digunakan dalam cerita ini juga jelas dan detail. Khususnya, latar waktu dalam cerita ini disertai dengan tanggal, pukul, atau bahkan tahun “14 September 2011, setahun lalu, salah satu teman kami, Andri terbunuh di jalan ini, Jalan Bypass…” (hal.63).  Sudut pandang yang digunakan dalam cerita ini yaitu orang pertama sebagai tokoh utama karena dia menceritakan dirinya sendiri dan menggunakan kata ganti aku, “sekarang, mungkin semua  yang kuceritakan ini terdengar berlebihan” (hal.13). Akan tetapi, ada beberapa hal yang membuat cerita ini kurang lengkap yaitu tidak menceritakan mengenai akhir dari cerita ini, apakah para siswa jera untuk tidak tawuran lagi  sehingga pembaca tidak mengetahui perasaan dari akhir cerita ini. Dalam cerita ini, pengarang menggunakan bahasa anak muda, sehingga muncul kata-kata yang kotor atau kasar, seperti: “tai, lo!” (hal. 67), “Anjing! Chibabanx udah deket!”.

Cerita ini memiliki tingkat keterbacaan yang cukup tinggi sebab mudah dipahami oleh para pembaca. Selain itu juga bahasa yang digunakan oleh pengarang bahasa anak muda sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Cerita ini menceritakan tentang realita yang terjadi dalam sistem pendidikan saat ini sehingga para siswa dapat  melakukan pergaulan bebas, narkoba, para pendidik yang memaksa para siswa untuk menjadi apa yang para guru inginkan, mereka tidak diberikan kebebasan untuk mempunyai mimpi dan harapan sesuai dengan keinginan mereka, “pak guru, bu guru! Saya  ingin menciptakan pohon baru. Pohon yang tidak dipunyai oleh siapapun” (hal. 42). “Tidak boleh kamu hanya boleh menanam pohon yang benihnya telah kami siapkan” (hal. 43). Setelah peristiwa itu, siswa tersebut menjadi generasi yang hancur sebab dia tidak mempunyai pohon impian sesuai apa yang dia inginkan.

Cerita ini cocok dibaca oleh para orang dewasa, khususnya orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan agar mereka dapat memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia dan menciptakan generasi penerus yang baik moralnya, akhlaknya, dan berkualitas dalam segala hal. Selain buku ini cocok dibaca untuk orang dewasa, buku ini juga cocok digunakan oleh para remaja agar ia dapat mengambil banyak pelajaran yang diceritakan di dalam buku ini.  Dengan membaca cerita ini dijamin pembacanya akan merasa ikut terbawa dalam situasi yang mencekam dan dapat memetik banyak manfaat dari ceritanya. Selamat membaca!!

Ade Hikmat

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Pascasarjana Uhamka, Jakarta

Abstak

Kegiatan menulis adalah upaya dalam mengaktualisasikan diri setiap individu. Penelitian tindakan kelas ini ingin melihat meningkatkan kemampuan menulis paragraph siswa SMA dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Introduction. Keberhasilan model pembelajaran problem based introduction memberikan manfaat yang sangat besar untuk meningkatkan kemampuan menulis paragraf. Kemampuan tersebut dapat dicapai jika di antara siswa dalam kelompok tersebut kooperatif untuk melakukan pemecahan masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran problem based introduction sangat besar untuk meningkatkan kemampuan menulis paragraf.

Kata Kunci: menulis paragraph, problem based Introduction, PTK.

Untuk mengunduh artikel karya Dr. Ade Hikmat, M. Pd. ini, dapat mengklik di sini.

Pembelajaran apresiasi sastra, khususnya apresiasi cerpen memerlukan beberapa unsur yang dapat meningkatkan kemampuan para pembacanya dalam hal apresiasi. Buku ini menjelaskan tentang keterkaitan antara kreativitas, kebiasaan membaca, dengan kemampuan apresiasi cerpen. Bagi Anda yang hendak mengetahuinya, maka bacalah buku karangan Dr. H. Ade Hikmat, M. Pd. yang merupakan Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UHAMKA. Untuk mengunduhnya, klik di sini.

112

Dian Fitri Magfiroh                                      1101055024

Eka Nurjanah                                               1101055028

Irawan                                                           1101055052

Laelathul Qomariah                                     1101055131

Siti Syafaah                                                   1101055145

Judul              : Bersiap Kecewa Bersedih Tanpa Kata-kata

Penulis          : Putu Wijaya

 

 

Cerpen ini merupakan salah satu cerpen dari sekian banyak karya cerpen yang telah dibuat oleh Putu Wijaya. Putu Wijaya yang bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya lahir di Tabanan, Bali, 14 April 1944. Cerpen ain karya Putu Wijaya Setan 2002, Doa 2011, Keadilan 2012, dll. Cerpen ini bercerita tentang sosok seorang bapak yang memiliki ketetapan hati untuk memiliki karangan bunga padahal sang pemilik toko bunga tersebut sudah menegaskan bahwa karangan bunga tersebut tidak dijual tetapi si tokoh bapak tetap bersikukuh untuk membeli karangan bunga tersebut demi untuk memuaskan hasratnya. Di dalam ceren ini Putu Wijaya juga mengutip puisi karya Goenawan Muhammad yang berjudul “Di Beranda itu Angin Tak Berhembus Lagi”. Puisi karangan Goenawan Muhammad tersebut seakan memberi nyawa pada cerpen tersebut dengan kata-kata indah yang tersirat di dalamnya.

Cerpen ini menceritakan tentang seorang bapak yang sedang mencari bunga untuk hadiah ulang tahun. Sudah lama dia mencari bunga yang cocok untuk hadiah ulang tahunnya tetapi belum juga diperoleh. Dia baru mendapatkannya ketika seorang gadis pemilik toko bunga menawarkan bunga hasil rangkaiannya yang tidak di jual, bapak tersebut membeli bunga untuk hadiah ulang tahunnya sendiri. Bukan sesuatu yang sulit untuk mengucapkan selamat ulangtahun, ucapan selamat ulang tahun bisa membuat bahagia untuk seseorang yang sedang ulang tahun. Ucapan selamat sebenarnya tidak mengganggu kesibukan si pemberi selamat sama sekali, seperti percakapan di bawah ini.

”Kamu tak mau mengucapkan selamat ulang tahun buat aku?” Dia bengong.

”Aku memang tak pantas diberi ucapan selamat.”

”Jadi, bunga ini untuk Bapak?”

”Ya.”

”Bapak membelinya untuk Bapak sendiri?”

”Ya.Apa salahnya?”

”Bapak yang ulang tahun?”

”Ya.”

Dia menatapku tak percaya.

”Kenapa?”

”Mestinya mereka yang mengirimkan bunga untuk Bapak.”

”Mereka siapa?”       

”Ya, keluarga Bapak. Teman-teman Bapak. Anak Bapak, istri Bapak, atau pacar Bapak…”

”Mereka terlalu sibuk.”

”Mengucapkan selamat tidak pernah mengganggu kesibukan.”

”Tapi itu kenyataannya. Jadi aku beli bunga untuk diriku sendiri dan ucapkan selamat untuk diriku sendiri karena kau juga tidak mau!”

Gadis pemilik toko bunga itu langsung mengembalikan uang bapak pembeli bunga dan mengatakan bahwa bunga itu hadiah untuk dia untuk hadiah ulang tahunnya dan mengantarkan dia pulang dengan mobil ferrarinya.

Kelebihan dari cerpen ini adalah Dapat membawa pembacanya untuk sadar pada hal-hal sepele yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Masalah-masalah kecil yang sesungguhnya memberikan pengaruh yang besar seringkali dilupakan. Gaya bahasa yang lugas dan mudah dimengerti, alur dan setting yang sederhana, dan kesederhanaan tokoh yang hadir dalam cerpen namun semua itu memiliki makna tersendiri yang mendalam. Toko bunga yang menandakan berbagai keindahan dan kenyamanan, namun hadirnya sosok aku yang justru tak dapat meniknati keindahan dan kenyamanan itu. Sementara pemilik toko, yaitu tokoh gadis cantik yang dapat menarik hati tokoh aku. Di sini menggambarkan bahwa meskipun berada di lingkungan yang serba indah dan nyaman, hanya ada satu yang membuatnya merasa bahagia, nyaman dan semangat menjalani hidup. Hingga ia merelakan semua yang ia miliki untuk membeli kebahagiaan itu.

Namun disamping kelebihan pasti ada kekurangan, begitu pun dengan cerpen ini. Kekurangan dari cerpen ini kalimat “Aku menoleh dan menemukan seorang gadis cantik usianya di bawah 25 tahun. Atau mungkin kurang dari itu.”
kalimat diatas rancu karena  usia di bawah 25 tahunsudah pasti kurang dari 25 tahun. Tidak perlu lagi ditambah kalimat “Atau mungkin kurang dari itu.”.  Akhir cerita yang dibuat menggantung membuat pembaca memikirkan sendiri akhir cerita tersebut. Terserah mereka membuat akhir ceritanya seperti apa.

Cerpen yang dihasilkan oleh Putu Wijaya bukan hanya ini saja. Masih banyak cerpen-cerpen lain yang tidak kalah bagus. Tetapi, untuk cerpen Bersiap Kecewa Bersedih Tanpa Kata-kata ini cukup membuat pembaca menjadi lebih semangat untuk membacanya. Toko bunga yang menandakan berbagai keindahan dan kenyamanan, namun hadirnya sosok aku yang justru tak dapat meniknati keindahan dan kenyamanan itu. Sementara pemilik toko, yaitu tokoh gadis cantik yang dapat menarik hati tokoh aku. Di sini menggambarkan bahwa meskipun berada di lingkungan yang serba indah dan nyaman, hanya ada satu yang membuatnya merasa bahagia, nyaman dan semangat menjalani hidup. Hingga ia merelakan semua yang ia miliki untuk membeli kebahagiaan itu, inilah kondisi kejiwaan yang digambarkan tokoh aku dalam cerpen “Bersiap Kecewa, Bersedih Tanpa Kata-kata” karya Putu Wijaya. Dari cerpen ini dapat diambil satu nilai berharga yaitu betapa besarnya pengaruh setitik perhatian dari satu orang untuk semangat hidup seseorang.

halo, matahari yang sedih. awan yang baru saja mandi dan sikat gigi. pagi ini aku menyimpan kenangan di saku waktu. sengaja untuk menjaga agar ia tidak hilang, jika suatu hari dibutuhkan. tapi sebetulnya kenangan itu adalah penggaris. tempat kita mengukur, sejauh mana kita melangkah. seperti matahari hari ini yang sudah dikantongku. ia akan terus bercahaya dan berpijar dalam detik yang kutinggalkan. ia tinggal bersama sebatang angkot yang mencium bokong mioku. Mioku menangis, tapi aku lebih miris. knalpot berdarah-darah dengan sisa ciuman mesra angkot biru yang menyisakan lipstiknya di bibir knalpotku. sesungguhnya ciuman tak selamanya bahagia, ia bisa saja hanya tersekat lembar perih dan cinta. sehingga, memuncratkan rasa yang warnanya serupa daun kamboja. pekat.pekat….

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.