Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Salah satu barometer potensi sastrawan Indonesia terkini adalah lewat daftar peserta TSI (Temu Sastrawan Indonesia) 4 yang diselenggarakan di Ternate. Siapakah mereka? berikut rilis panitia,

124 SASTRAWAN TSI 4 TERNATE

 

INILAH 124 Sastrawan Indonesia yangi dipilih/diseleksi oleh Dewan Kurator

untuk mengikutI Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 4 di Ternate, 25-29 Oktober 2011

======================================================================

 

 

I. 32 SASTRAWAN YANG DIUNDANG

PILIHAN TSI-4 SESUAI HASIL SIDANG KEDUA

DEWAN KURATORTSI-4

TANGGAL 10-11 SEPT 2011 DI JAKARTA

 

1. Arafat Nur — Aceh (Cerpen)

2. Raisya Kamila — Aceh (Puisi)

3. Hasan Al Banna — Sumatera Utara (Cerpen)

4. Heru Joni Putra — Sumatera Barat (Puisi)

5. Jumardi Putra — Jambi (Puisi)

6. Sulaiman Djaya — Banten (Puisi)

7. Anis Sayidah — Jawa Barat (Puisi)

8. Nana Riskhi Susanti — Jawa Tengah (Puisi)

9. Mahwi Air Tawar — DI Yogyakarta (Cerpen)

10. A. Muttaqin — Jawa Timur (Puisi)

11. M. Faizi — Jawa Timur (Puisi)

12. Ni Made Purnamasari — Bali (Puisi)

13. Morika Tetelepta — Maluku (Puisi)

14. M. Irfan Ramly — Maluku (Puisi)

15. Nersalya Renata — Jakarta (Puisi)

16. Irianto Ibrahim — Sulawesi Tenggara (Puisi)

17. Benny Arnas — Sumatera Selatan (Cerpen)

18. Bernard Batubara — Kalimantan Barat (Cerpen)

19. Pringadi Abdi Surya — Nusa Ternggara Barat (Cerpen)

20. Fitri Yani — Lampung (Puisi)

21. Agit Yogi Subandi — Lampung (Puisi)

22. Sunlie Thomas Alexander — Bangka Belitung (Cerpen)

23. Arman AZ — Lampung (Cerpen)

24. Eko Putra — Sumatera Selatan (Puisi)

25. Ahmad Faisal Imron — Jawa Barat (Puisi)

26. Dhenny Jatmiko — Jawa Timur (Puisi)

27. Fina Sato — Jawa Barat (Puisi)

28. Husnul Khuluqi — Banten (Puisi)

29. Pranita Dewi — Bali (Puisi)

30. Sofyan Daud — Maluku Utara (Puisi)

31. Indrian Koto — D I Yogyakarta (Puisi)

32. Gunawan Triatmojo — Jawa Tengah (Cerpen)

 

II. Cerpenis:

 

1. Eko Triono/ Penggiring Tikus / DI. Yogyakarta

2. Bamby Cahyadi/ Malaikat yang Mencintai Senja/ DKI Jakarta

3. Ria Ristiana Dewi/ Borugo/ Sumatera Utara

4. Tjak S. Parlan/ Rumah Ayah dan Kisah Lainnya/ NTB

5. Miftah Fadhli/ Tertawa, Meja Kesayangan/ Depok

6. Andika Sahara/ Bukit Patah Sembilan/ Sumatera Barat

7. Neneng Nurjanah/ Warung Kupat Tahu/ Jawa Barat

8. Muhammad Nasir Age/ Si Budog Anjing Nek Akob/ Aceh

9. Syarif Hidayatullah/ Orang Gila Dari Gang Delima/ DKI Jakarta

10. Rahmat Heldy HS/ Jebah/ Banten

11. Norman Erikson/ Kondektur/ Bekasi

 

II. Penyair:

 

1. Abdul Salam HS — Banten

2. Achmad Faqih Mahfudz — Yogyakarta

3. Adin — Jawa Tengah

4. Adri Sandra — Sumatera Barat

5. AF Kurniawan — Jawa Tengah

6. A. Faruqi Munif Jawa Timur

7. Ahmad David Kholilurrahman — Jambi

8. Ahmad Syahid — Jawa Barat

9. Alek Subairi — Jawa Timur

10. Alex R Nainggolan — Jakarta

11. Alizal Tanjung — Sumatera Barat

12. Alya Salaisha-Sinta — Bekasi

13. Amin Basiri — Jawa Timur

14. Arther Panther Olii — Sulawesi Utara

15. Bambang Widiatmoko — Jakarta

16. Boedi Ismanto SA — Yogyakarya

17. Damiri Mahmud — Sumatera Utara

18. Dedi Supendra — Sumatera Barat

19. Dedi Triadi — Malang

20. Dian Hartati — Jawa Barat

21. Dino Umahuk — Ternate

22. Doddy Kristianto — Jawa Timur

23. Doel CP Allisah — Aceh

24. Dwi Setyo Wibowo — Jawa Tengah

25. Edi Firmansyah — Jawa Timur

26. Effendi Danata — NTB

27. Esha Tegar Putra — Sumatera Barat

28. Fajar Martha — Riau

29. Fatkurrahman Karim — Jawa Barat

30. Fatih Kudus Jaelani — NTB

31. Febrie Hastiyanto — Jawa Tengah

32. Frans Ekodhanto — Jakarta

33. Galah Denawa Jawa Barat

34. Hanna Fransisca — Jakarta

35. Herdoni Syafriansyah — Sumatera Selatan

36. Herman RN — Aceh

37. Herton Maridi — Jawa Barat

38. Husen Arifin — Jawa Timur

39. Husnu Abadi — Riau

40. Idrus F Shahab — Jakarta

41. Idris Siregar — Sumatera Utara

42. I Putu Gede Pradipta — Bali

43. Ishack Sonlay — NTT

44. Jun Nizami — Jawa Barat

45. Kiki Sulistyo — NTB

46. Lailatul Kiptiyah — Jakarta

47. Lina Kelana — Jawa Timur

48. Mahmud Jauhari Ali — Kalimantan Selatan

49. Mahendra — Jawa Timur

50. Maulana Satrya Sinaga — Sumatera Utara

51. Muhammad Ibrahim Ilyas — Sumatera Barat

52. Muhammad Ridwan — Jawa Timur

53. Mario F Lawi — NTT

54. Matdon — Jawa Barat

55. Nanang Suryadi — Jawa Timur

56. Nurhayat Arief Permana — Sumatera Selatan

57. Pungkit Wijaya — Jawa Barat

58. Qizink La Aziva — Banten

59. Restu A Putra — Jawa Barat

60. Rozi Kembara — Jakarta

61. Rudi Ramdani — Jawa Barat

62. Salman Yoga S — Aceh

63. Shohifur Ridho Ilahi — Yogyakarya

64. Sindu Putra — NTB

65. Sulaiman Juned — Sumatera Barat

66. Sulaiman Tripa — Aceh

67. Sutan Iwan Soekri Munaf — Bekasi

68. Setiyo Bardono — Depok

69. Syaifuddin Gani — Sulawesi Tenggara

70. Syaiful Rahman — Jawa Timur

71. Sekar Arum –

72. Teja Purnama — Sumatera Utara

73. Tulus Wijanarko — Jakarta

74. Tina Aprida Marpaung — Sumatera Utara

75. Toni Lesmana — Jawa Barat

76. Tjahjono Widijanto — Jawa Timur

77. Umar Fauzi Ballah — Jawa Timur

78. Wachyu Prastianto — Jakarta

79. Vidy AD Daery — Jawa Timur

80. Yan Zavin Auddjand –

81. Yori Kayama — Sumatera Barat

 

Judul: Batu Betina

Tebal : vii + 106

Pengarang: Syarif Hidayatullah

Penerbit: Qalam Media Group

ISBN : 978-602-99604-0-2

Harga: 31.000

Para pembaca, umumnya bertanya apakah buku yang hendak dibelinya layak dibaca atau tidak. Pertanyaan itu sangatlah wajar, karena berkaitan dengan kualitas yang tentu pada akhirnya memuaskan hati pembaca.

Buku kumpulan cerpen “Batu Betina” ini menjawab keraguan itu. Secara kualitas, meski Syarif Hidayatullah adalah pengarang muda, ia pandai menuangkan sebuah cerita, sehingga apa yang diungkapkannya itu dalam sebuah cerpen, bukan lagi sedang mengarang, melainkan bercerita, hal inilah yang diungkapkan oleh Beny Arnas, peraih Anugerah Batanghari Sembilan (2009) dan Krakatau Award (2009 & 2010) menyatakan bahwa, “Syarif dengan lunas mengemas tema dengan garapan yang mengalir. Maka dari itu, ia seolah-olah tidak mengarang, tapi tengah bercerita.”

Tema-tema yang diolah Syarif pun bukanlah tema-tema yang berat, yang membawa pembaca keluar dari sekat-sekat imajis sehingga sulit dimengerti. Tapi, justru ia memotret keadaan sekitar, seperti pada cerpen “Sang Sarjana” yang mengisahkan tentang sulitnya mencari kerja bagi para lulusan sarjana, yang ironisnya tokoh dalam cerita tersebut justru dituduh pencuri untuk kemudian dipukuli oleh para pencuri yang sebenarnya itu untuk kemudian mengambil dompetnya seraya berbisik, “Akupun seorang sarjana.”

Ironi-ironi semacam inilah yang kemudian mewarnai cerpen-cerpen Syarif lainnya seperti pada Rel dan Tentang Tuhan Sembilan Senti. Kemarihannya memotret peristiwa dan juga mencampuradukkannya dengan imajinasi, diakui oleh Bamby Cahyadi cerpenis dan pengaran kumpulan cerpen “Tangan untuk Utik,” menurutnya, “Batu Betina, mencampuraduk unsur-unsur fiktif dan realis, sehingga di sinilah letak kekuatan bercerita Syarif. Cerpen-cerpen dalam antologi ini mencerminkan kreativitasnya sebagai cerpenis yang merespon, memotret dan merefleksikan realitas keseharian kita.”

Tak jauh berbeda dengan Bamby, Mahwi Air Tawar berpendapat bahwa, “Cerpen-cerpen Syarif, tak hanya mengajak pembacanya memandang sebelah mata dengan berbagai peristiwa sehari-hari, namun ia juga mengajak kita untuk merasakan sekaligus merenunginya.”

Meletakkan peristiwa nyata atau realitas sebagai dasar pijakan proses kreatifnya membuat Syarif memiliki banyak pilihan tema yang tentu saja pada akhirnya memperkaya kreativitasnya. Selain persoalan urban, ia juga berbicara persoalan sosial lainnya, konflik Aceh, konflik etnis Sambas, penjualan manusia (dalam hal ini TKI), dan lain sebagainya.

Cerpen-cerpen tersebut pada dasarnya memiliki suatu serat dalam membangun suatu keutuhan cerita yang disebut dengan nilai-nilai religius. Religiusitas menjadi elemen penting dalam karya-karya yang terkumpul dalam kumpulan cerpen “Batu Betina” ini. Hal inilah yang diungkapkan oleh Faisal Syahreza, bahwa, “Religiusitas dalam warna lokal menjadi cara ia (Syarif) memandang situasi yang sedang dihadapi, membuat cerpen-cerpennya hidup di benak pembaca. Dan satu lagi, ia pandai menyelesaikan ceritanya, dengan keyakinan lugunya seorang pendongeng masa depan.”

Seperti yang disinggung, Faisal, bahwa cerpen-cerpen dalam kumpulan ini menyajikan kejutan-kejutan di akhir cerita yang memberikan nilai tambah cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen ini.

Diakui Syarif, bahwa sejumlah cerpen dalam kumpulan cerpen ini sebagian besar pernah dimuat di media massa, bahkan pernah memenangkan lomba tingkat internasional dan nasional. “Ini semacam monumen, untuk menandai proses kreatif saya selama menjadi pelajar (santri) dan mahasiswa (strata satu).”

Tentu saja, pernyataan ini menjadi hal yang menarik. Masalah kualitas? Ah, bagaimana dikatakan buruk jika pernah memenangkan lomba dan dimuat di media massa?

_____________________________

Kumcer Batu Betina akan terbit pada akhir Juli 2011. Untuk para pemesan sebelum dicetak, akan mendapatkan harga pracetak dengan bonus DISKON 20% menjadi 25.000 dari harga semula 31.000. Untuk pemesanan, lebih dari lima buku, akan dibebaskan biaya ongkos kirim (Pulau Jawa). Promo pracetak ini akan berakhir pada tanggal 21 Juli 2011.

Pemesanan dapat dilakukan dengan mengirimkan pesan ke kotak masuk facebook saya atau dengan memesan melalui pesan singkat ke nomor 08563466831
Kumcer Batu Betina direncanakan hanya akan didistribusikan di toko buku Gramedia dan Gunung Agung se JABODETABEK dan lewat pemesanan yang telah tersedia.

  • Setiap cerpen mempunyai latar dan motivasi cerita yang berbeda-beda. Dengan sajian bahasa yang berbeda pula. Dari sekian kumcer yang masuk LeutikaPrio bisa menyimpulkan, di mana kreator itu berdiri, maka di situlah gaya bercerpen itu dimulai. Ada cerpen yang lebih mengutamakan konflik, ada juga yang lebih menonjolkan ending yang apik, dan ada pula yang lebih berkonflik sederhana namun bisa dikemas istimewa.
  • Semua itu adalah point positif… sebuah eskperimen dalam berkarya, dan patut mendapatkan apresiasi.
  • Hingga akhirnya LeutikaPrio memilih 5 kumcer di bawah ini dan berhak kami sebut sebagai jawara. Dengan berbagai dasar pertimbangan, termasuk adalah tidak adanya cerpen yang pernah dimuat di media massa.

 

1. Aida M Affandy, Ragil Kuning, Swastikha Maulidya Maulana (Kompilasi)

Domisili koord.: Tangerang Selatan

2. Faradina Izdhihary, Membaca Hujan

Domisili: Batu, Malang

3. Hendri Teja, Kunci Republik

Domisili: Depok

4. Royyan Julian, Sepotong Rindu dari Langit Pleiades

Domisili: Malang

5. Syarif Hidayatullah, Peluru-peluru Rindu

Domisili: Depok

  • Urutan nama di atas tidak berdasarkan klasifikasi juara. Namun lebih karena abjad berdasarkan huruf awal nama pemenang.
  • Kelima kumcer di atas, akan diterbitkan di LeutikaPrio. Masing-masing penulis kami beri hak untuk melakukan revisi, selambat-lambatnya hingga 25 Juni 2011. Silakan melakukan konfirmasi ke SMS CENTER LEUTIKA 0821 38 388 988 apabila menghendaki revisi tersebut. Dengan format: nama pena (spasi) judul kumcer. Hadiah lainnya akan kami kirim bareng dengan bukti hasil terbitnya.
  • Apabila setelah batas tanggal 25 Juni tersebut, tidak ada konfirmasi maka naskah akan kami proses, dan siap terbit pada pertengahan Agustus 2011.
  • Kabar bahagia bagi Leutikans lainnya: setiap peserta Kumcerku di LeutikaPrio akan mendapatkan diskon biaya penerbitan 20% untuk paket regular dan LeutikaPrio ProLaunching. Diskon ini tidak bisa dialihkan, dan berlaku hanya untuk naskah yang diikutsertakan dalam lomba. Berlaku hingga 30 Juni 2011.
  • Selamat kepada pemenang, untuk Leutikans lainnya, semoga kalian adalah pemenang masa depan yang kami tunggu.

(Seputar Pengumuman Lomba Cerpen STAIN Purwokerto 2011)

Pengumuman lomba cerpen se Indonesia yang diselenggarakan oleh STAIN Purwokerto pada tahun 2011 ini berlangsung meriah dan menegangkan pada kamis (26/05). Para penulis yang sudah datang sejak malam hari baik dari, Jakarta, Banten, Padang, Yogjakarta, Semarang dan lainnya itu dipanggil satu-persatu sebagai nomintaor untuk berdiri di muka Aula. Barulah kemudian disebutkan juaranya. Tampil sebagai juara I, peserta yang berasal dari Universitas Terbuka UPBJJ Padang dengan judul Lelaki yang Dibeli,  juara II ditempati oleh peserta asal STAIN Purwokerto, Angga Aryo Wiwaha dengan judul Noken Baliem, dan Sunlie Thomas Alexander dengan cerpennya yang berjudul Bunga Delapan Dewa menempati posisi ketiga.

Menyoal Lokalitas dalam Cerpen

Setelah pengumuman selesai, seperti tahun sebelumnya, para pemenang dipanggil untuk menjadi pembicara acara launching buku Lelaki yang Dibeli yang merupakan kumpulan cerpen pemenang dan nominator lomba ini. Hadir sebagai pembicara Ahmad Tohari yang terkenal dengan novelnya Ronggeng Dukuh Paruk, serta seorang esais muda berbakat, Abdul Azis Rasyid.

Mengingat tema lomba ini adalah tentang lokalitas, maka perbincangan hangat seputar lokalitas pun tak terelakkan. Sunlie berpendapat bahwa lokalitas jangan dijadikan sebagai sebuah tempelan.

“Penulis sering terjebak pada perkara ini. Padahal ini sangat berbahaya,” terangnya.

Pendapat sedikit berbeda diutarakan oleh Ahmad Tohari yang menyatakan bahwa, “Universalitas dan lokalitas merupakan satu-kesatuan. Tidak akan ada lokalitas tanpa universalitas, begitupun sebaliknya,” tandasnya.

Pendapat ini seakan menegaskan cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini, sebagai sampel cerpen pemenang lomba ini yang menceritakan benturan antara lokalitas dan universalitas. Cerpen Lelaki yang Dibeli, berisikan cerita yang merupakan problem klasik orang minang yakni pihak perempuan yang diharuskan melamar kepada lelaki. Cerita ini mencapai puncaknya pada filosofi adat minangkabau, Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah yang memiliki arti adat bersendikan agama, dan agama bersendikan kitabullah.

Peserta Bertambah Banyak dan Kompetitif

Diakui oleh dewan juri, Abdul Wachid B. S. peserta kali ini bertambah banyak. Tahun sebelumnya, diikuti oleh 473 cerpenis, tahun ini telah mencapai angka 579 cerpenis. Sayangnya peningkatan ini, tidak diimbangi oleh konsistensi seperti tahun sebelumnya. Tahun 2010, panitia lomba mengadakan tiga lomba sekaligus meliputi lomba esai, cerpen, dan puisi. Tahun ini dua kategori lomba dihilangkan, yakni esai dan puisi.

“Mudah-mudahan tahun depan, kampus tergerak melihat peserta yang membeludak seperti ini,” ujar Fakih, Presma STAIN Purwokerto dalam sambutannya.

Dalam pengantar buku ini, panitia menyatakan telah menerima naskah dari para mahasiswa yang karyanya telah dimuat di media massa nasional, seperti Majalah Sastra Horison, Kompas, Republika dan lain sebagainya. Dengan demikian, penyelenggaraan lomba ini sudah sangat kompetitif. Bahkan dapat dikatakan, lomba ini dapat dijadikan sebagai salah satu peta untuk menunjukan arah kesusastraan Indonesia mendatang.

 

Tiga Puluh Empat Cerita

Antologi cerpen Lelaki yang Dibeli ini diterbitkan oleh Obsesi Press bekerja sama dengan Buku Litera. Adapun buku itu berisikan tiga puluh empat cerpen dari pemenang dan nominator lomba ini. Keragaman berbagai asal peserta, memantik keragaman budaya dalam cerpen-cerpen yang terdapat dalam antologi ini, mulai dari pelosok Papua sampai pada budaya etnis Tionghua.

Kumpulan cerpen ini, menjadi salah satu bukti bahwa keragaman budaya tidak pernah habis untuk digali dan dieksploitasi untuk dijadikan sebuah cerita yang menarik.

A. Pendahuluan
Hikayat Kalilah dan Dimnah merupakan cerita karangan Abdullah Ibnu Muqaffa yang kemudian diterjemahkan oleh Ismail Jamil. Dari keterangan ini, hikayat ini berasal dari luar ranah melayu.
Secara umum, Hikayat Kalilah dan Dimnah hampir mirip dengan fabel. Yakni cerita tentang hewan-hewan yang memiliki sifat layaknya manusia, karena memang tokoh Kalilah dan Dimnah dalam cerita ini adalah hewan, yakni srigala.
Banyak nilai yang termuat dari Hikayat Kalilah dan Dimnah yang secara tidak langsung menyindir prilaku manusia. Seperti ketamakan, licik, dan menghalalkan segala cara. Hal ini terlihat pada tokoh Dimnah yang dengan liciknya rela mengadu domba sehinga saling bunuh-membunuh padahal keduanya (raja hutan dan Syatrabah) sangat baik.
Maka sangat menarik sekali membaca dan mendiskusikan cerita ini. Lewat makalah singkat ini, kami akan membahas Hikayat Kalilah dan Dimnah dari berbagai aspek.

B. Sinopsis
Dalam hikayat ini, terdapat sejumlah cerita dalam cerita. Awal cerita ini dibuka ketika seorang Baidaba yang menceritakan kepada Maharaja Dabasyalim. Dalam pembukaan cerita itu, Baidaba menceritakan tentang orang tua yang mempunyai dua anak yang senang berfoya-foya. Tetapi kemudian sadar setelah menasehati keduanya. Setelah itu, salah seorang dari mereka ada yang hendak berniaga dengan membawa dua lembu yang kemudian diberi nama Bandabah dan Syatrabah. Dalam perjalan, Syatrabah terjebak ke dalam lumpur, karena tidak dapat keluar akhirnya ditinggalkan Syatrabah karena diperkirakan akan mati di tempat itu.
Namun akhirnya Syatrabah dapat melepaskan diri dan berjalan ke hutan, di dalam hutan itu ia mendapatkan banyak rumput sehingga ia dapat hidup dan tubuhnya segar kembali, ia pun sering melengguh keras yang terdengar hingga ke segenap penjuru hutan. Suara itupun didengar oleh raja hutan, yakni singa. Ia sangat ketakutan karena tidak pernah mengenal lembu sebelumnya.
Ketakutan raja hutan dirasakan pula oleh seekor srigala yang bernama Dimnah. Hal ini kemudian diungkapkan Dimnah kepada saudaranya yang juga seekor srigala yang bernama Kalilah. Karena keinginannya untuk menjadi orang mulia dan dekat dengan raja, Dimnah akhirnya bertemu dengan raja singa dan menanyakan prihal kegundahan hati yang membuat raja singa berhari-hari tidak keluar dari kamarnya.
Setelah tahu sebabnya, Dimnah akhirnya menuju ke sumber suara itu, setelah diketahuinya bahwa suara itu berasal dari hewan pemakan rumput belaka, maka Dimnah kembali menghadap, tetapi raja masih takut dan Dimnah menawarkan diri untuk membawa Syatrabah ke raja singa.
Dimnah pun membujuk Syatrabah untuk mau menghadap pada raja. Setelah menjamin keselamatan Syatrabah, akhirnya Syatrabah mau juga. Dan pada akhirnya justru, antara raja dan Syatrabah malah menjadi dekat dan bahkan Syatrabah menjadi orang kepercayaan Raja Hutan.
Melihat hal itu, Dimnah iri dan merencanakan hal buruk pada keduanya. Ia kemudian memfitnah keduanya hendak saling membunuh. Fitnahan itu pun berhasil membuat kedua karib itu akhirnya bertengkar hingga Syatrabah mati. Namun raja kemudian menyesalkan perbuatannya itu.
Melihat hal demikian, semua penduduk hutan risau termasuk seekor harimau yang kemudian tak sengaja mendengar percakapan antara Kalilah dan Dimnah, di sanalah baru tahu bahwa itu hanya rekayasa yang dibuat Dimnah. Mendengar hal itu, harimau tersebut memberitahu kepada ibu raja singa dan akhirnya ibunya pun memberitahu anaknya. Raja terkejut mendengar itu dan memanggil Dimnah untuk diadili, karena pandainya Dimnah, Dimnah mampu membantah semua tuduhan meski demikian ia tetap dipenjara terlebih dahulu, karena hal itu, Kalilah pun meninggal. Namun pada akhirnya Dimnah pun dapat dihukum mati oleh Raja Hutan.

C. Pendekatan
Hikayat Kalilah dan Dimnah ini dapat dianalisis dengan berbagai pendekatan, namun dalam kesempatan ini kami hanya memilih beberapa pendekatan saja, adapun pendekatan itu sebagai berikut.
1. Pendekatan Obyektif
Pendekatan Obyektif adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai karya sastra yang mandiri. Adapun hal tersebut dapat dianalisis pada unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam cerita tersebut. Dalam Hikayat Kalilah dan Dimnah ini, maka unsur intrinsik ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
a) Tema: Sosial;
b) Latar: latar sosialnya adalah kehidupan kerajaan dan kehidupan binatang semacam fabel dan latar tempatnya adalah hutan dan kerajaan.
c) Penokohan:
1) Dimnah memiliki sifat yang pandai, tamak, licik, dan gila pada kekuasaan. Dalam cerita ini ia menjadi tokoh antagonis;
2) Kalilah memiliki sifat yang bijak dan baik hati. Dalam cerita ini ia menjadi tokoh tritagonis;
3) Raja Hutan (Singa) memiliki wibawa, labil, dan mudah diprovokasi. Dalam cerita ini ia menjadi tokoh protagonis;
4) Syatrabah memiliki sifat baik budi tetapi mudah diprovokasi. Dalam cerita ini ia menjadi tokoh protagonis.
d) Alur: maju
2. Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif adalah baik atau tidaknya bergantung pada kemampuan pengarang dalam mengembangkan ide dalam karya sastra. Hal inilah yang terjadi pada Hikayat Kalilah dan Dimnah, cerita ini dibungkus dengan berbagai perumpamaan dan nasihat orang tua. Selain itu, dalam cerita ini, terdapat sejumlah cerita lain yang justru malah membantu dan memberi penguatan pada inti cerita. Seperti cerita tentang kancil yang mampu membunuh singa.
3. Pendekatan Pragmatik
Hikayat Kalilah dan Dimnah ini dipenuhi dengan kata-kata bijak dan nasihat-nasihat yang patut dicontoh. Oleh karena itu pendekatan pragmatik yang memiliki pengertian bahwa karya sastra memiliki tujuan yang berupa aspek kesenian, estetika dan pendidikan. Pada hemat kami, pencapaian kesenian dan estetika dalam cerita ini sangat tinggi, bagaimana nasihat-nasihat bijak menunjang sebuah cerita. Seperti pada halaman 8, kutipannya sebagai berikut,
“Orang yang kuat,” kata Dimnah, “Tidak takut memikul beban yang berat. Tetapi orang yang lemah, jangankan beban orang lain, bebannya sendiripun tiada terpikul olehnya.”
4. Pendekatan Moral
Menurut pendekatan moral, karya sastra adalah untuk meningkatkan harkat, martabat manusia sebagai makhluk berbudaya. Hikayat Kalilah dan Dimnah sangat kuat memberikan masukan kepada kita untuk meningkatkan kualitas diri kita. Berkali-kali disebutkan dalam cerita ini, bahwa orang yang tinggi adalah orang yang berbudi dan berakal. Bahkan pada halaman 45 ditegaskan oleh penulisnya lewat tokoh Dimnah,
“…orang yang berakal dan berbudi adalah orang yang sempurna. Orang yang berakal tetapi tiada berbudi masih boleh dijadikan sahabat. Karena sekalipun kelakuannya kurang mulia, tetapi dari pada akalnya dapat engkau mengambil faedah, dan dari pada kelakuan yang jahat, mungkin engkau menjaga dirimu. Orang yang mulia budi tetapi tiada berakal boleh juga. Karena sekalipun dari pada akalnya, tak mungkin engkau mengambil faedah apa-apa, tetapi dari pada budinya ada yang dapat kau ambil dari padanya. Akan tetapi orang yang bodoh, rendah pula budinya, satupun tiada yang dapat engkau ambil dari padanya…”

D. Bentuk Cerita
1. Cerita Dalam Cerita
Jika dalam cerita konvensional, biasanya para tokoh hanya terlibat dalam alur dan konflik yang sama. Tetapi dalam Hikayat Kalilah dan Dimnah ini terdapat cerita dalam cerita. Artinya cerita utama memiliki beberapa sub cerita. Bahkan cerita tentang Kalilah dan Dimnah pun adanya dalam sebuah cerita. Yakni ketika Baidaba menceritakan pada maharaja Dabasyalim. Jika dicatat Hikayat Kalilah dan Dimnah sebagai sub cerita. Maka ada 18 cerita lain dalam satu cerita yang tentu dikisahkan oleh Baidaba sebagai tokoh pencerita dalam Hikayat Kalilah dan Dimnah. Meski demikian, cerita-cerita tersebut bukan merupakan bagian yang terpisahkan, melainkan satu kesatuan yang bahkan membangun inti cerita.

2. Perumpamaan
Selain adanya sejumlah cerita dalam cerita. Yang unik dari Hikayat Kalilah dan Dimnah ini adalah adanya berbagai perumpamaan yang diambil dari nasihat-nasihat bijak. Seperti pada halaman 8, ibarat batu yang berat, mengangkatnya dari tanah ke bahu susah, tetapi melemparkannya ke tanah, mudah saja.
E. Penutup
Dalam membahas cerita ini, memang Hikayat Kalilah dan Dimnah sangat menarik. Penulisnya mampu menyajikan suatu cerita dengan beberapa sub cerita yang justru membuat cerita ini tambah menarik. Selain itu, ada banyak nilai yang kemudian dipaparkan penulisnya, baik lewat perumpamaan maupun lewat cerita-cerita dengan maksud memberikan penjelasan bagi pembacanya.

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.