Pengumpan:
Tulisan
Komentar

menulis yang baik adalah menulis diri sendiri, karena kaulah yang lebih tahu tentang dirimu dibanding dengan hal-hal di luar dirimu

Karya sastra bukan hanya menyajikan ruang imajinasi, tetapi juga ruang-ruang lain yang bersifat multi dimensi, baik itu ruang psikologi, sosiologi, spiritual dan lain sebagainya. berbicara sastra, tentu selalu memiliki keterkaitan dengan semua itu, tidak semata sebuah karya khayalan atau fiktif.

oleh karena itu, dalam penciptaan karya sastra, sebelum menuliskan segala sesuatu tentang hidup ini (alam, orang lain, atau lingkungan sekitar), maka tuliskanlah tentang dirimu sendiri sebab dirimu sendiri daerah teritorial yang juga sama dengan karya sastra. karena dimensi seseorang tentu tidak sebatas nama dan fisik (tubuh), tetapi selalu berkaitan dengan posisi yang multi dimensi.

maka ketika berbicara karya sastra, bisa jadi seorang pengarang berbicara tentang dirinya sendiri. oleh karena itu, penting sekali bagi pemula untuk menuliskan dirinya sendiri, seperti asumsi pada umumnya, bahwa orang yang lebih mengetahui dirinya adalah dirinya sendiri. oleh karena itu, menulis tentang diri sendiri itu akan jauh lebih mudah, dibandingkan tentu saja dengan menuliskan hal lain di luar dirinya.

ketika anda menulis diri anda sendiri, yakinlah itu sudah menjadi sebuah tulisan yang bernada sastra. meski tentu saja kadar tentang nilai sastrawi suatu karya sastra harus ditinjau lagi.

kaitannya dengan hal ini, saya ingin menyampaikan pengalaman saya selama satu semester ini mengajar di kampus. ada hal-hal yang sebetulnya mengganjal dalam pikiran saya. pertama, kenapa seorang sulit menulis. kedua, kenapa seorang dapat dengan mudah menulis. kedua pertanyaan ini berputar terus dalam otak saya dan ini tentu menjadi semacam tantangan bagi saya. bagaimana bisa membuat seorang yang sulit menulis menjadi mudah, dan yang mudah menulis menjadi bagus tulisannya.

setelah melakukan pengamatan dengan melontarkan beberapa pertanyaan. barulah ditemukan bahwa, orang yang mudah menulis itu disebabkan kebiasaannya membaca. itu artinya, jika mahasiswa kesulitan menulis, maka ia adalah mahasiswa yang malas membaca.

(Episode 1)

Resepsi Pernikahan: 1 Juli 2012, Pk. 11.00-selesai di  Jln. Trikora 1, Ps. Rebo (Seberang Rumah Sakit Harapan Bunda) Kp. Rambutan, Jakarta Timur

TENTANG DOA KAMI DI HARI PERNIKAHAN

Pada sulur-sulur Rahim-Mu ya Allah

kami rukuk dan sujud

memohon dan berdoa

Jadikanlah hari ini

adalah hari yang dipenuhi oleh sayap rahim-Mu

sehingga kasihmu mengalir pula

dalam seluruh raga kami ya Allah

Jika hari esok adalah masa depan

yang harus kami hadapi

maka jadikanlah genggaman tangan kami

adalah genggaman tangan kesetian

dalam menghadapi sungai kesedihan

dan mendaki bukit harapan

Dan biarkanlah masalalu kami

seperti hujan yang menyuburkan masa depan

bukan mengkhianati kebahagiaan

Terimalah doa kami

ya Allah…

Amin.

Tuhan hanya menakdirkanmu berpasangan. Bukan pada siapa engkau berpasangan. Jika kau sekarang menggenggam tangan perempuan, kau bilang itu takdir, kau juga akan bilang takdir jika genggaman itu terlepas. Ketika kau berkata seperti itu, seakan-akan kau menyalahkan Tuhan. Itu sangat buruk.

Cahaya senja jatuh di taman itu, mewarnai pepohon, rerumput dan air yang meluncur dari patung ikan berwajah singa yang menjadikan laut itu seperti permadani bertaburkan permata. Ada bintik cahaya yang mengerlip setiap kali air yang tenang itu bergoyang ditiup angin dari selatan.

Raga merekam itu semua, lensa matanya seperti tak habis menangkap keindahan senja di Merlion Park, seperti ia tak berkesudahan menangkap keindahan perempuan bermata sipit dengan alis tebal yang selalu bergelantungan di hatinya. Perempuan itu, selalu menemaninya pada saat seperti ini. Ah, Raga selalu merasa kesepian tanpa perempuan itu.

Rara, perempuan yang dengan bibir tipis dan lesung pipit di sebelah kanan itu telah membuatnya tak bisa tidur semalaman setelah bertemu dengannya pada suatu senja di Merlion Park. Rara ketika itu mengenakan pakaian hijau muda dengan lensa tipis menghiasi wajahnya. Badannya sintal dan kulitnya bersih. Seketika Raga tak berpikir jika perempuan itu berasal dari negara yang sama dengannya, Indonesia. Ia lebih mirip dengan perempuan Jepang atau Cina jika Raga melihatnya dengan sekilas  saja.

Namun, ketika perempuan itu menikmati es krim dan agaknya kesulitan membersihkan bercak es krim yang menempel di pipinya, Raga datang dan memberikan sapu tangannya. Agak ragu Rara menerimanya. Tapi kemudian diambilnya sapu tangan berwarna biru itu untuk menghapus bercak es krim yang menempel di sebelah kanan pipi gempalnya itu.

“Terima kasih sudah membantu. Dari Indonesia kan? Jakarta atau Bandung?”  ujar Rara mengawali pembicaraan itu.

Raga sempat terheran. Tapi kemudian menguasai dirinya dengan baik.

“Jakarta,” jawab Raga. “Kamu?” tanya Raga selanjutnya.

“Surabaya,” jawab Rara singkat. Ia masih asik dengan sisa es krim yang belum habis dikunyahnya.

“Suka senja?” tanya Raga kemudian memulai percakapan.

“Tidak,” jawab Rara singkat. “Tanpa es krim,” lanjutnya kemudian sambil tertawa. Selanjutnya Rara bercerita kalau hari itu ia terburu-buru ke Merlion Park sehingga melupakan sapu tangan yang biasanya selalu terselip di saku celananya. Rara sangat suka pada es krim. Itu sebabnya, barangkali badannya menjadi terlihat berisi.

Raga mengenang pertemuan pertama mereka itu dengan senyum yang tertahan. Tertahan demikian dalam di lubuk hatinya. Sebab ia tahu, Rara tidak akan datang di senja yang ke dua puluh lima di bulan Agustus ini. Ia telah pergi, pergi untuk tidak kembali.

Raga menghela napasnya yang tertahan itu. Lalu memandang ke hamparan laut yang masih memantulkan cahaya senja yang berkilauan. Lampu-lampu gedung telah dinyalakan. Cahayanya di kejauhan seperti ribuan kunang-kunang yang berterbangan. Raga mengedarkan pandangannya kemudian duduk di undakan yang menyerupai tangga di taman itu. Ini tempat biasa Raga menghabiskan waktu dengan Rara. Tetapi kini ia sendiri sedang berpasang-pasang kekasih seperti mengasah perih di hatinya yang sepi.

Raga ingat kalau Rara selalu datang pukul empat sore dari arah taman One Fullerton dengan tentu saja sepotong es krim di tangannya. Raga kadang sengaja menunggunya dengan sedikit mengintip dari balik pohon lalu berpura-pura kebetulan bertemu dengannya. Raga masih ragu saat itu, apakah Rara juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Paling tidak mengalami apa yang selalu dialami Raga setiap malam, tak bisa tidur dan selalu terbayang wajah Rara. Apakah Rara merasakan hal yang sama?

Namun, setelah sebelas senja yang tumpah. Raga dapat membaca tanda-tanda itu. Paling tidak, Raga melihat Rara selalu gelisah ketika Raga datang terlambat yang sebetulnya merupakan rancangan yang telah tersusun rapi di dalam kepalanya. Raga sempat melihat Rara duduk tak tenang, sesekali memalingkan wajah ke kanan dan sesekali pula ke kiri. Telihat pula bosan melumuri lidahnya dengan kream manis es di tangannya. Raga seperti memenangkan perasaan itu. Raga mulai membaca, jika inilah tanda-tanda bahwa mereka saling suka, saling cinta.

Hingga akhirnya, meski jadwal kuliah mereka cukup padat, mereka selalu menyempatkan diri untuk menikmati senja di Merlion Park bersama. Warna senja seperti berubah begitu saja saat mereka bersama. Itulah paling tidak yang dirasakan Raga, Raga merasa bahwa warna cinta sebetulnya warna senja.  Bukan warna merah yang lebih terlihat seperti darah yang idientik dengan pembunuhan dan kematian.

Raga masih duduk sendiri pada undakan tangga yang menghadap ke laut. Memandang warna laut yang telah dilumuri warna senja. Di kejauhan, orang-orang sibuk berfoto dengan latar patung kepala singa berekor ikan yang merupakan ikon pariwisata di Singapura. Di antara mereka, terlihat seperti orang Indonesia. Barangkali dari Surabaya. Hmm… Surabaya? Kota itu seperti begitu melekat dalam ingatannya. Raga memang belum pernah ke kota itu. Tetapi orang yang dicintainya itu berangkali sedang mengenakan gaun putih dengan pernak-pernik yang mengilat di kota itu. Apakah ia terlihat begitu cantik? Raga meragukannya.

Beberapa bulan terakhir ini sejak senja kedua puluh lima di bulan Agustus, Raga hanya berkomunikasi lewat internet dengan Rara, terkadang mereka chating atau mengirim surat elektronik. Apapun itu bentuknya, yang jelas mereka masih saling cinta.

Pertemuan terakhir mereka di bulan Agustus itu memang tak pernah diduga sebelumnya baik oleh Rara dan Raga. Raga masih ingat betul pada senja yang hampir musnah, Rara memeluk erat tubuhnya. Ketika itu Rara berjanji akan kembali, meski sebetulnya tidak ingin berpisah saat itu. Air matanya deras mengalir di pipi tembamnya. Tapi kabar kematian ayahnya membuat Rara segera mengemasi pakaian dan memasukannya ke dalam koper. Rara anak tunggal. Kedatangannya sangat ditunggu dan dinanti. Ibunya telah menghubunginya berkali-kali, begitu juga dengan bibi dan pamannya yang segera mengabarinya tak lama setelah kematian ayahnya akibat sakit jantung akut.

“Aku tak bisa kembali,” pesan Rara ketika itu membuat jari-jemari Raga lemas untuk membalas pesan yang disampaikan Rara.

“Kenapa?” singkat Raga membalas dengan perasaan yang sesak.

“Saudara-saudaraku memaksaku  untuk segara menikah.”

“Menikah?” makin lemas Raga membacanya.

“Iya, mereka mau aku menjaga ibu dan meneruskan perusahaan Ayah. Sudah ada calon yang mereka persiapkan. Aku bingung.”

Raga terdiam cukup lama. Mencermati kata-kata yang ada di monitor komputernya dan hatinya terasa sangat sesak menahan perih yang bergejolak. Yang kemudian ia sadari adalah bahwa orang itu bukan dirinya. Raga masih akan melanjutkan kuliahnya yang tinggal beberapa semester lagi. Ia tak mau mengecewakan orang tuanya yang telah susah payah bekerja demi membiayai kuliahnya. Lulusnya Raga adalah mimpi besar kedua orang tuanya.

“Sayangku?” Rara seperti meminta pertimbangan.

Raga bingung. Ia selalu mencintai kedua orang tuanya. Seorang guru agama pernah mengajarinya untuk terus berbakti pada orang tua. Terlebih ibu. Kaki ibu adalah tempat surga itu berada. Jika untuk surga, Rara berada, Raga merasa pasrah.

“Aku harus bagaimana?” Rara menegaskan pertanyaannya.

“Menikahlah.” Entah bagaimana kata itu begitu saja ia hentakan pada key board komputernya.

“Tapi….” Rara ragu.

Raga pun sebetulnya sama ragunya. Hatinya perih dan matanya bahkan mulai berair. Sekelebat kenangan tentang senja di Merlion Park silih berganti berputar dalam otaknya. Ia bahkan masih ingat kata-kata Rara di suatu senja yang mengekal dalam kepalanya.

“Senja tak akan indah tanpamu,” ujar Rara ketika ia tidak membawa es krim yang kemudian disindir oleh Raga. Ketika itu mereka tertawa dan Raga melihat senyum paling indah di bibir Rara ketika itu. Raga bahkan telah menggantikan sesuatu yang telah tertanam demikian lama dalam hidup Rara. Ia mulai yakin ketika itu, bahwa Rara adalah orang yang kelak mendampingi hidupnya.

Namun, kini semua telah sirna. Ingatan itu ada baiknya dilemparnya ke dalam tong sampah untuk kemudian melupakannya. Tetapi adakah tempat sampah yang mau menerima ingatan, sementara aku sendiri bingung apakah semua itu adalah sampah? Batin Raga. Bahkan ia masih berdamai dengan kenangan yang selalu membuatnya tersenyum itu.

Tak ada yang dapat menghentikan waktu. Waktu adalah lipatan sejarah yang terus menderu. Rara tak punya banyak waktu untuk berpikir. Dan keputusan yang terberat itu harus dipikul. Tak ada pilihan.

“Ya, menikahlah.” Akhirnya kata-kata itu tertulis kembali yang kemudian dikirim Raga.

“Tapi aku masih sayang kamu, cinta kamu, tak akan ada senja tanpa kamu.” Rara membalas.

“Aku pun sama.”

“Lalu?”

“Menikahlah.”

“Tidak mau. Kita kawin lari saja.”

“Bagaimana dengan ibumu? Kamu tidak sayang pada ibumu?”

“Sayang.”

“Menikahlah. Itu yang terbaik. Kau akan selalu tersimpan dalam hatiku.”

“Kau juga. Selalu dalam hatiku.”

Raga menyeka air mata yang telah meleleh di pipinya. Sapu tangan yang dulu mengusap pipi Rara diusapkan pula kini ke pipinya. Semakin resah itu meraga. Hiruk-pikuk di sekeliling Merlion Park seperti tiba-tiba sunyi. Yang ada hanya kesedihan. Air mata. Raga seperti melihat patung singa itu tak meluncurkan air dari mulutnya, melainkan dari matanya. Dan cahaya senja yang merekah membuat air mata itu seperti darah. Darah yang juga membuat gaun putih seorang perempuan itu memerah. Perempuan yang terbaring tak berdaya itu menyisakan pesan belum terkirim di layar komputernya.

“Tak akan ada senja tanpamu….”***

Salah satu barometer potensi sastrawan Indonesia terkini adalah lewat daftar peserta TSI (Temu Sastrawan Indonesia) 4 yang diselenggarakan di Ternate. Siapakah mereka? berikut rilis panitia,

124 SASTRAWAN TSI 4 TERNATE

 

INILAH 124 Sastrawan Indonesia yangi dipilih/diseleksi oleh Dewan Kurator

untuk mengikutI Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 4 di Ternate, 25-29 Oktober 2011

======================================================================

 

 

I. 32 SASTRAWAN YANG DIUNDANG

PILIHAN TSI-4 SESUAI HASIL SIDANG KEDUA

DEWAN KURATORTSI-4

TANGGAL 10-11 SEPT 2011 DI JAKARTA

 

1. Arafat Nur — Aceh (Cerpen)

2. Raisya Kamila — Aceh (Puisi)

3. Hasan Al Banna — Sumatera Utara (Cerpen)

4. Heru Joni Putra — Sumatera Barat (Puisi)

5. Jumardi Putra — Jambi (Puisi)

6. Sulaiman Djaya — Banten (Puisi)

7. Anis Sayidah — Jawa Barat (Puisi)

8. Nana Riskhi Susanti — Jawa Tengah (Puisi)

9. Mahwi Air Tawar — DI Yogyakarta (Cerpen)

10. A. Muttaqin — Jawa Timur (Puisi)

11. M. Faizi — Jawa Timur (Puisi)

12. Ni Made Purnamasari — Bali (Puisi)

13. Morika Tetelepta — Maluku (Puisi)

14. M. Irfan Ramly — Maluku (Puisi)

15. Nersalya Renata — Jakarta (Puisi)

16. Irianto Ibrahim — Sulawesi Tenggara (Puisi)

17. Benny Arnas — Sumatera Selatan (Cerpen)

18. Bernard Batubara — Kalimantan Barat (Cerpen)

19. Pringadi Abdi Surya — Nusa Ternggara Barat (Cerpen)

20. Fitri Yani — Lampung (Puisi)

21. Agit Yogi Subandi — Lampung (Puisi)

22. Sunlie Thomas Alexander — Bangka Belitung (Cerpen)

23. Arman AZ — Lampung (Cerpen)

24. Eko Putra — Sumatera Selatan (Puisi)

25. Ahmad Faisal Imron — Jawa Barat (Puisi)

26. Dhenny Jatmiko — Jawa Timur (Puisi)

27. Fina Sato — Jawa Barat (Puisi)

28. Husnul Khuluqi — Banten (Puisi)

29. Pranita Dewi — Bali (Puisi)

30. Sofyan Daud — Maluku Utara (Puisi)

31. Indrian Koto — D I Yogyakarta (Puisi)

32. Gunawan Triatmojo — Jawa Tengah (Cerpen)

 

II. Cerpenis:

 

1. Eko Triono/ Penggiring Tikus / DI. Yogyakarta

2. Bamby Cahyadi/ Malaikat yang Mencintai Senja/ DKI Jakarta

3. Ria Ristiana Dewi/ Borugo/ Sumatera Utara

4. Tjak S. Parlan/ Rumah Ayah dan Kisah Lainnya/ NTB

5. Miftah Fadhli/ Tertawa, Meja Kesayangan/ Depok

6. Andika Sahara/ Bukit Patah Sembilan/ Sumatera Barat

7. Neneng Nurjanah/ Warung Kupat Tahu/ Jawa Barat

8. Muhammad Nasir Age/ Si Budog Anjing Nek Akob/ Aceh

9. Syarif Hidayatullah/ Orang Gila Dari Gang Delima/ DKI Jakarta

10. Rahmat Heldy HS/ Jebah/ Banten

11. Norman Erikson/ Kondektur/ Bekasi

 

II. Penyair:

 

1. Abdul Salam HS — Banten

2. Achmad Faqih Mahfudz — Yogyakarta

3. Adin — Jawa Tengah

4. Adri Sandra — Sumatera Barat

5. AF Kurniawan — Jawa Tengah

6. A. Faruqi Munif Jawa Timur

7. Ahmad David Kholilurrahman — Jambi

8. Ahmad Syahid — Jawa Barat

9. Alek Subairi — Jawa Timur

10. Alex R Nainggolan — Jakarta

11. Alizal Tanjung — Sumatera Barat

12. Alya Salaisha-Sinta — Bekasi

13. Amin Basiri — Jawa Timur

14. Arther Panther Olii — Sulawesi Utara

15. Bambang Widiatmoko — Jakarta

16. Boedi Ismanto SA — Yogyakarya

17. Damiri Mahmud — Sumatera Utara

18. Dedi Supendra — Sumatera Barat

19. Dedi Triadi — Malang

20. Dian Hartati — Jawa Barat

21. Dino Umahuk — Ternate

22. Doddy Kristianto — Jawa Timur

23. Doel CP Allisah — Aceh

24. Dwi Setyo Wibowo — Jawa Tengah

25. Edi Firmansyah — Jawa Timur

26. Effendi Danata — NTB

27. Esha Tegar Putra — Sumatera Barat

28. Fajar Martha — Riau

29. Fatkurrahman Karim — Jawa Barat

30. Fatih Kudus Jaelani — NTB

31. Febrie Hastiyanto — Jawa Tengah

32. Frans Ekodhanto — Jakarta

33. Galah Denawa Jawa Barat

34. Hanna Fransisca — Jakarta

35. Herdoni Syafriansyah — Sumatera Selatan

36. Herman RN — Aceh

37. Herton Maridi — Jawa Barat

38. Husen Arifin — Jawa Timur

39. Husnu Abadi — Riau

40. Idrus F Shahab — Jakarta

41. Idris Siregar — Sumatera Utara

42. I Putu Gede Pradipta — Bali

43. Ishack Sonlay — NTT

44. Jun Nizami — Jawa Barat

45. Kiki Sulistyo — NTB

46. Lailatul Kiptiyah — Jakarta

47. Lina Kelana — Jawa Timur

48. Mahmud Jauhari Ali — Kalimantan Selatan

49. Mahendra — Jawa Timur

50. Maulana Satrya Sinaga — Sumatera Utara

51. Muhammad Ibrahim Ilyas — Sumatera Barat

52. Muhammad Ridwan — Jawa Timur

53. Mario F Lawi — NTT

54. Matdon — Jawa Barat

55. Nanang Suryadi — Jawa Timur

56. Nurhayat Arief Permana — Sumatera Selatan

57. Pungkit Wijaya — Jawa Barat

58. Qizink La Aziva — Banten

59. Restu A Putra — Jawa Barat

60. Rozi Kembara — Jakarta

61. Rudi Ramdani — Jawa Barat

62. Salman Yoga S — Aceh

63. Shohifur Ridho Ilahi — Yogyakarya

64. Sindu Putra — NTB

65. Sulaiman Juned — Sumatera Barat

66. Sulaiman Tripa — Aceh

67. Sutan Iwan Soekri Munaf — Bekasi

68. Setiyo Bardono — Depok

69. Syaifuddin Gani — Sulawesi Tenggara

70. Syaiful Rahman — Jawa Timur

71. Sekar Arum –

72. Teja Purnama — Sumatera Utara

73. Tulus Wijanarko — Jakarta

74. Tina Aprida Marpaung — Sumatera Utara

75. Toni Lesmana — Jawa Barat

76. Tjahjono Widijanto — Jawa Timur

77. Umar Fauzi Ballah — Jawa Timur

78. Wachyu Prastianto — Jakarta

79. Vidy AD Daery — Jawa Timur

80. Yan Zavin Auddjand –

81. Yori Kayama — Sumatera Barat

 

Judul: Batu Betina

Tebal : vii + 106

Pengarang: Syarif Hidayatullah

Penerbit: Qalam Media Group

ISBN : 978-602-99604-0-2

Harga: 31.000

Para pembaca, umumnya bertanya apakah buku yang hendak dibelinya layak dibaca atau tidak. Pertanyaan itu sangatlah wajar, karena berkaitan dengan kualitas yang tentu pada akhirnya memuaskan hati pembaca.

Buku kumpulan cerpen “Batu Betina” ini menjawab keraguan itu. Secara kualitas, meski Syarif Hidayatullah adalah pengarang muda, ia pandai menuangkan sebuah cerita, sehingga apa yang diungkapkannya itu dalam sebuah cerpen, bukan lagi sedang mengarang, melainkan bercerita, hal inilah yang diungkapkan oleh Beny Arnas, peraih Anugerah Batanghari Sembilan (2009) dan Krakatau Award (2009 & 2010) menyatakan bahwa, “Syarif dengan lunas mengemas tema dengan garapan yang mengalir. Maka dari itu, ia seolah-olah tidak mengarang, tapi tengah bercerita.”

Tema-tema yang diolah Syarif pun bukanlah tema-tema yang berat, yang membawa pembaca keluar dari sekat-sekat imajis sehingga sulit dimengerti. Tapi, justru ia memotret keadaan sekitar, seperti pada cerpen “Sang Sarjana” yang mengisahkan tentang sulitnya mencari kerja bagi para lulusan sarjana, yang ironisnya tokoh dalam cerita tersebut justru dituduh pencuri untuk kemudian dipukuli oleh para pencuri yang sebenarnya itu untuk kemudian mengambil dompetnya seraya berbisik, “Akupun seorang sarjana.”

Ironi-ironi semacam inilah yang kemudian mewarnai cerpen-cerpen Syarif lainnya seperti pada Rel dan Tentang Tuhan Sembilan Senti. Kemarihannya memotret peristiwa dan juga mencampuradukkannya dengan imajinasi, diakui oleh Bamby Cahyadi cerpenis dan pengaran kumpulan cerpen “Tangan untuk Utik,” menurutnya, “Batu Betina, mencampuraduk unsur-unsur fiktif dan realis, sehingga di sinilah letak kekuatan bercerita Syarif. Cerpen-cerpen dalam antologi ini mencerminkan kreativitasnya sebagai cerpenis yang merespon, memotret dan merefleksikan realitas keseharian kita.”

Tak jauh berbeda dengan Bamby, Mahwi Air Tawar berpendapat bahwa, “Cerpen-cerpen Syarif, tak hanya mengajak pembacanya memandang sebelah mata dengan berbagai peristiwa sehari-hari, namun ia juga mengajak kita untuk merasakan sekaligus merenunginya.”

Meletakkan peristiwa nyata atau realitas sebagai dasar pijakan proses kreatifnya membuat Syarif memiliki banyak pilihan tema yang tentu saja pada akhirnya memperkaya kreativitasnya. Selain persoalan urban, ia juga berbicara persoalan sosial lainnya, konflik Aceh, konflik etnis Sambas, penjualan manusia (dalam hal ini TKI), dan lain sebagainya.

Cerpen-cerpen tersebut pada dasarnya memiliki suatu serat dalam membangun suatu keutuhan cerita yang disebut dengan nilai-nilai religius. Religiusitas menjadi elemen penting dalam karya-karya yang terkumpul dalam kumpulan cerpen “Batu Betina” ini. Hal inilah yang diungkapkan oleh Faisal Syahreza, bahwa, “Religiusitas dalam warna lokal menjadi cara ia (Syarif) memandang situasi yang sedang dihadapi, membuat cerpen-cerpennya hidup di benak pembaca. Dan satu lagi, ia pandai menyelesaikan ceritanya, dengan keyakinan lugunya seorang pendongeng masa depan.”

Seperti yang disinggung, Faisal, bahwa cerpen-cerpen dalam kumpulan ini menyajikan kejutan-kejutan di akhir cerita yang memberikan nilai tambah cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen ini.

Diakui Syarif, bahwa sejumlah cerpen dalam kumpulan cerpen ini sebagian besar pernah dimuat di media massa, bahkan pernah memenangkan lomba tingkat internasional dan nasional. “Ini semacam monumen, untuk menandai proses kreatif saya selama menjadi pelajar (santri) dan mahasiswa (strata satu).”

Tentu saja, pernyataan ini menjadi hal yang menarik. Masalah kualitas? Ah, bagaimana dikatakan buruk jika pernah memenangkan lomba dan dimuat di media massa?

_____________________________

Kumcer Batu Betina akan terbit pada akhir Juli 2011. Untuk para pemesan sebelum dicetak, akan mendapatkan harga pracetak dengan bonus DISKON 20% menjadi 25.000 dari harga semula 31.000. Untuk pemesanan, lebih dari lima buku, akan dibebaskan biaya ongkos kirim (Pulau Jawa). Promo pracetak ini akan berakhir pada tanggal 21 Juli 2011.

Pemesanan dapat dilakukan dengan mengirimkan pesan ke kotak masuk facebook saya atau dengan memesan melalui pesan singkat ke nomor 08563466831
Kumcer Batu Betina direncanakan hanya akan didistribusikan di toko buku Gramedia dan Gunung Agung se JABODETABEK dan lewat pemesanan yang telah tersedia.

  • Setiap cerpen mempunyai latar dan motivasi cerita yang berbeda-beda. Dengan sajian bahasa yang berbeda pula. Dari sekian kumcer yang masuk LeutikaPrio bisa menyimpulkan, di mana kreator itu berdiri, maka di situlah gaya bercerpen itu dimulai. Ada cerpen yang lebih mengutamakan konflik, ada juga yang lebih menonjolkan ending yang apik, dan ada pula yang lebih berkonflik sederhana namun bisa dikemas istimewa.
  • Semua itu adalah point positif… sebuah eskperimen dalam berkarya, dan patut mendapatkan apresiasi.
  • Hingga akhirnya LeutikaPrio memilih 5 kumcer di bawah ini dan berhak kami sebut sebagai jawara. Dengan berbagai dasar pertimbangan, termasuk adalah tidak adanya cerpen yang pernah dimuat di media massa.

 

1. Aida M Affandy, Ragil Kuning, Swastikha Maulidya Maulana (Kompilasi)

Domisili koord.: Tangerang Selatan

2. Faradina Izdhihary, Membaca Hujan

Domisili: Batu, Malang

3. Hendri Teja, Kunci Republik

Domisili: Depok

4. Royyan Julian, Sepotong Rindu dari Langit Pleiades

Domisili: Malang

5. Syarif Hidayatullah, Peluru-peluru Rindu

Domisili: Depok

  • Urutan nama di atas tidak berdasarkan klasifikasi juara. Namun lebih karena abjad berdasarkan huruf awal nama pemenang.
  • Kelima kumcer di atas, akan diterbitkan di LeutikaPrio. Masing-masing penulis kami beri hak untuk melakukan revisi, selambat-lambatnya hingga 25 Juni 2011. Silakan melakukan konfirmasi ke SMS CENTER LEUTIKA 0821 38 388 988 apabila menghendaki revisi tersebut. Dengan format: nama pena (spasi) judul kumcer. Hadiah lainnya akan kami kirim bareng dengan bukti hasil terbitnya.
  • Apabila setelah batas tanggal 25 Juni tersebut, tidak ada konfirmasi maka naskah akan kami proses, dan siap terbit pada pertengahan Agustus 2011.
  • Kabar bahagia bagi Leutikans lainnya: setiap peserta Kumcerku di LeutikaPrio akan mendapatkan diskon biaya penerbitan 20% untuk paket regular dan LeutikaPrio ProLaunching. Diskon ini tidak bisa dialihkan, dan berlaku hanya untuk naskah yang diikutsertakan dalam lomba. Berlaku hingga 30 Juni 2011.
  • Selamat kepada pemenang, untuk Leutikans lainnya, semoga kalian adalah pemenang masa depan yang kami tunggu.

(Seputar Pengumuman Lomba Cerpen STAIN Purwokerto 2011)

Pengumuman lomba cerpen se Indonesia yang diselenggarakan oleh STAIN Purwokerto pada tahun 2011 ini berlangsung meriah dan menegangkan pada kamis (26/05). Para penulis yang sudah datang sejak malam hari baik dari, Jakarta, Banten, Padang, Yogjakarta, Semarang dan lainnya itu dipanggil satu-persatu sebagai nomintaor untuk berdiri di muka Aula. Barulah kemudian disebutkan juaranya. Tampil sebagai juara I, peserta yang berasal dari Universitas Terbuka UPBJJ Padang dengan judul Lelaki yang Dibeli,  juara II ditempati oleh peserta asal STAIN Purwokerto, Angga Aryo Wiwaha dengan judul Noken Baliem, dan Sunlie Thomas Alexander dengan cerpennya yang berjudul Bunga Delapan Dewa menempati posisi ketiga.

Menyoal Lokalitas dalam Cerpen

Setelah pengumuman selesai, seperti tahun sebelumnya, para pemenang dipanggil untuk menjadi pembicara acara launching buku Lelaki yang Dibeli yang merupakan kumpulan cerpen pemenang dan nominator lomba ini. Hadir sebagai pembicara Ahmad Tohari yang terkenal dengan novelnya Ronggeng Dukuh Paruk, serta seorang esais muda berbakat, Abdul Azis Rasyid.

Mengingat tema lomba ini adalah tentang lokalitas, maka perbincangan hangat seputar lokalitas pun tak terelakkan. Sunlie berpendapat bahwa lokalitas jangan dijadikan sebagai sebuah tempelan.

“Penulis sering terjebak pada perkara ini. Padahal ini sangat berbahaya,” terangnya.

Pendapat sedikit berbeda diutarakan oleh Ahmad Tohari yang menyatakan bahwa, “Universalitas dan lokalitas merupakan satu-kesatuan. Tidak akan ada lokalitas tanpa universalitas, begitupun sebaliknya,” tandasnya.

Pendapat ini seakan menegaskan cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini, sebagai sampel cerpen pemenang lomba ini yang menceritakan benturan antara lokalitas dan universalitas. Cerpen Lelaki yang Dibeli, berisikan cerita yang merupakan problem klasik orang minang yakni pihak perempuan yang diharuskan melamar kepada lelaki. Cerita ini mencapai puncaknya pada filosofi adat minangkabau, Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah yang memiliki arti adat bersendikan agama, dan agama bersendikan kitabullah.

Peserta Bertambah Banyak dan Kompetitif

Diakui oleh dewan juri, Abdul Wachid B. S. peserta kali ini bertambah banyak. Tahun sebelumnya, diikuti oleh 473 cerpenis, tahun ini telah mencapai angka 579 cerpenis. Sayangnya peningkatan ini, tidak diimbangi oleh konsistensi seperti tahun sebelumnya. Tahun 2010, panitia lomba mengadakan tiga lomba sekaligus meliputi lomba esai, cerpen, dan puisi. Tahun ini dua kategori lomba dihilangkan, yakni esai dan puisi.

“Mudah-mudahan tahun depan, kampus tergerak melihat peserta yang membeludak seperti ini,” ujar Fakih, Presma STAIN Purwokerto dalam sambutannya.

Dalam pengantar buku ini, panitia menyatakan telah menerima naskah dari para mahasiswa yang karyanya telah dimuat di media massa nasional, seperti Majalah Sastra Horison, Kompas, Republika dan lain sebagainya. Dengan demikian, penyelenggaraan lomba ini sudah sangat kompetitif. Bahkan dapat dikatakan, lomba ini dapat dijadikan sebagai salah satu peta untuk menunjukan arah kesusastraan Indonesia mendatang.

 

Tiga Puluh Empat Cerita

Antologi cerpen Lelaki yang Dibeli ini diterbitkan oleh Obsesi Press bekerja sama dengan Buku Litera. Adapun buku itu berisikan tiga puluh empat cerpen dari pemenang dan nominator lomba ini. Keragaman berbagai asal peserta, memantik keragaman budaya dalam cerpen-cerpen yang terdapat dalam antologi ini, mulai dari pelosok Papua sampai pada budaya etnis Tionghua.

Kumpulan cerpen ini, menjadi salah satu bukti bahwa keragaman budaya tidak pernah habis untuk digali dan dieksploitasi untuk dijadikan sebuah cerita yang menarik.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.