Catatan

Cara Menyusun Profil Lulusan pada KKNI

Banyak program studi yang keliru menyusun profil lulusan hanya menyandarkan pada jenis bidang studi. Misalnya, menulis profil lulusan Guru Bahasa Indonesia karena Program  Studinya adalah Pendidikan Bahasa Indonesia. Padahal dari program studi tersebut masih memungkinkan dengan profil lulusan lainnya. Misalnya, penyuluh bahasa, peneliti bahasa, dan lain-lain.

Bagaimana Cara Menentukan Profil  Lulusan

Langkah termudah adalah mengidentifikasi hal-hal berikut:

  1. Menentukan level KKNI, jika S1 maka level KKNInya adalah level 6, jika S-2 level 8, S-3 level 9
  2. Menentukan profil lulusan dengan melakukan studi pelacakan alumni. Hasilnya akan didapat lulusan program studi bekerja di bidang apa saja.
  3. Meminta masukan dari asosiasi program studi. Saat ini di Indonesia sudah banyak asosiasi yang menjurus kepada program studi sehingga asosiasi ini biasanya telah melakukan penelitian terkait deskripsi lulusan sesuai dengan jenjang pendidikan.
  4. Melakukan analisis kebutuhan pasar terkait dengan lulusan yang akan dihasilkan serta melakukan penyebaran angket terhadap stakeholders atau pemangku kepentingan untuk mendapatkan profil yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
  5. Dalam mendeskripsikan profil lulusan baiknya memperhatikan visi dan misi universitas.

Berdasarkan hal tersebut, maka untuk menentukan profil lulusan dapat meminta mengacu pada:

  1. Asosiasi
  2. Stake holders
  3. KKNI
  4. Universitas

Contoh Perumusan Profil Lulusan untuk S1 Pendidikan  Bahasa Indonesia

  1. Calon Guru Bahasa Indonesia
  2. Peneliti di Bidang Bahasa Indonesia
  3. Penyuluh Bahasa Indonesia
  4. Wirausahawan
Iklan
Catatan

Wajah Fiksi Warkat

FOTO ALAMINSetiap tahun sebelum liburan panjang Ramadhan, di antara yang paling saya nantikan selama menjadi santri adalah membaca Warkat. Warkat di tangan saya tidak semata-mata reportase yang memajang kilatan sejarah lama dan baru, bukan pula kegiatan-kegiatan penting selama setahun. Di tangan saya, Warkat telah berubah menjadi karya fiksi yang menaburkan berbagai alur protagonis dengan saya sebagai tokoh utamanya. Misalnya ketika melihat daftar santri berprestasi atau daftar pengurus ISMI, saya melihatnya dengan mata berbinar sambil mengimajinasikan nama saya ditulis sebagai seorang juara atau seorang pengurus dengan jabatan yang sering dikagumi oleh kawula santri sejagad Al-Amien Prenduan.

Namun, santri-santri yang ditulis namanya di Warkat bukanlah santri biasa. Bukan santri yang hanya mengikuti seluruh kegiatan pesantren dari bangun tidur sampai tidur lagi. Bukan. Apalagi mereka yang keluar-masuk mahkamah lughoh atau konon. Bukan sama sekali. Mereka adalah santri-santri hebat yang bekerja mengembangkan diri dengan cara yang tak biasa. Juara-juara yang ditulis dengan kategori mumtaz adalah makhluk-makhluk ajaib yang memiliki kekuatan kognitif di atas rata-rata. Mereka belajar dengan cara pintar. Belajar sambil mengajar. Saya baru sadar setelah saya membaca laporan dari National Training Laboratories, yang menunjukkan efektivitas pembelajaran tertinggi adalah belajar sambil mengajar yang memiliki retensi hingga 90%. Untuk mencapai gelar mumtaz seperti mereka, rasanya bagi saya imajinasi itu sangat absurd. Saya meneropong diri saya amat teliti, semua nilai yang ada dalam raport jauh dari kata jayyid jiddan, apalagi mumtaz.

Akan tetapi Warkat tak hanya menampilkan tokoh semacam itu, lakon protagonis yang memungkinkan bagi saya adalah juara di berbagai bidang yang sering dilombakan baik tingkat lokal maupun nasional. Dalam Warkat tersebut secara jelas ditulis nama dan prestasi mereka yang berhasil membawa piala-piala ke perut lemari prestasi di Idaroh Ammah. Mereka yang mampu mengharumkan nama almamater tingkat lokal dan nasional dalam berbagai bidang, seperti, olahraga, pidato, debat, pramuka, qori, dan tulis-menulis. Mereka yang ditulis namanya pada bagian ini bahkan lebih hebat lagi, disebutkan namanya dalam Apel Tahunan, dan siapapun yang pernah juara akan terlihat demikian tegap jalannya karena rasa bangga yang memenuhi rongga dada. Mereka yang disebutkan namanya menjadi bintang terkenal sehingga namanya tak pernah asing di telinga para santri, ustaz, dewan kyai, atau bahkan sampai ibu dapur pun kadang tahu siapa mereka. Sehingga bila sewaktu-waktu ada lomba A, maka si A akan menjadi orang pertama yang disebutkan namanya. Demikian terus terjadi hingga ada generasi penerus yang berada disampingnya.

Untuk sampai di sana. Tak ada jalan yang mudah. Tak ada. Pasalnya, mereka yang dapat berprestasi merupakan mereka yang memiliki kemampuan yang lebih unggul dibandingkan yang lain di bidangnya. Seleksi paling berat bahkan dimulai ketika harus mengalahkan mereka. Mereka ada di mana-mana. Di setiap sudut Kompil (Kompetensi Pilihan), pasti ada makhluk ajaib yang paling berkuasa di bidang itu. Syarat mutlak. Menaklukkannya atau berada sebahu dengannya. Singkat kata, perjalanan untuk menjadi tokoh utama yang protagonis harus mampu mengatasi antagonis. Mereka yang baik-baik itu telah diantagoniskan dalam semesta pikiran penulis.

Demikianlah, perjalanan awal tak ada yang berlangsung mulus. Masuk Kompil bahasa Inggris dalam setahun. Tak mampu berkembang dengan baik. Dengan teman seangkatan saja tak mampu mengungguli, apalagi mengungguli sang Juara. Saya kemudian banting setir ke jalan lain. Melihat membuat kerajinan tangan menggunting kertas untuk membentuk huruf tertentu dirasa sangat menantang dan ada bakat di sana, dipilihlah kompil “Letter”. Namun, setali tiga uang dengan Kompil sebelumnya, di sini bahkan tak mampu dengan baik menggunting huruf-huruf, meski teknik dasar dapat dikatakan mampu. Dibandingkan dengan sang juara, sangatlah jauh dan tak pantas berpikir semacam itu.

Kompil tahun berikutnya, pilihan saya jatuhkan pada menggambar komik. Kompil baru yang spiritnya sangat menggebu dan menjadi primadona lantaran hampir di semua mading dan majalah membutuhkan orang yang pandai mengomik.  Sampai jadi tim inti pengembang Dr. Comics. Namun runtuh lantaran keperkasaan mengomik kalah jauh dengan teman seangkatan. Saya hanya mampu menggambar komik manga dari kepala sampai tubuh saja. Bagian lain. Tak pernah benar-benar bagus.

Di tengah kegalauan yang melanda, sebuah majalah Horison yang ditemukan secara tidak sengaja di perpustakaan terminal (dulu letaknya di sebalah kiri dari pintu masjid) tiba-tiba membuka tabir bahwa, “Kok, nulis puisi mudah ya?”

Berkat majalah itu, saya tulis sepuluh puisi pendek dalam waktu yang juga pendek. Puisi itu saya kirim untuk melamar menjadi anggota Sanggar Sastra Al-Amien. Beruntung. Saya diterima. Di sana saya menemukan karakter antagonis maha dahsyat. Antagonis dalam peran yang sempurna. Mereka orang-orang yang gila menulis. Mereka bahkan berada di lini utama dalam tim Mading paling bergengsi yang dikirim ke Surabaya, redaktur Majalah Qalam, dan redaktur majalah Qowiyyul Amien.  Namun keantagonisan semacam itu telah menjadi jalan hijau bagi saya. Mereka benar-benar membutuhkan kader penerus.

Berbekal semangat dan motivasi kuat, proses menjadi pemeran utama sepertinya akan berjalan dengan lancar. Belum lagi, para antagonis itu memberi ruang yang sangat besar untuk mengembangkan diri. Namun proses menjadi penulis tak seinstan yang dibayangkan. Ustaz Hamzah menunjuk, kalau mau pandai menulis, habiskan semua buku di lemari itu. Ia menunjuk sebuah lemari yang penuh dengan buku. Lalu buku-buku itu dengan berbagai rasa yang aneh, saya telan pelan-pelan. Dibaca meski tak mengerti. Begitu pesannya. Walhasil, sebuah buku saya baca sampai habis tanpa saya mengerti, bahkan baru dimengerti setelah pembacaan kedua atau ketiga kali. Demikian terus, hingga puluhan lebih buku saya baca dalam setahun itu.

Ujian juga tak sampai di sana. Selain membaca, latihan menulis juga rutin dilaksanakan. Kadang hasil tulisan dikritik bukan main hingga membuat telinga panas, namun jika bagus tak segan membumbungkan perasaan ke langit luas. Belum lagi, setor naskah 20 puisi atau 2 cerpen setiap minggu menjadi semacam menu tambahan yang memang harus dilakoni bagi siapapun yang ingin menjadi santri berbeda. Ya, santri berbeda akan berbuat lebih dari yang biasa. Mereka yang telah pandai silat, latihan fisiknya pasti lebih giat. Mereka yang pandai pidato bahasa Arab, hafalan naskah, olah vokal, dan latihannya sangat berlipat. Mereka yang juara  Pramuka, bekerja keras mengatur bentuk barisan, menghafal berbagai sandi, dan melatih simpul agar terikat kuat. Mereka… pasti akan dituliskan namanya di Warkat. Akan menggema namanya saat Apel Tahunan berjalan khidmat.

Kesadaran itu membuat saya tak ragu untuk menaklukkan semua itu. Membaca buku dan menulis sebanyak yang saya bisa. Menjaga semangat dan asa. Mengambil peluang dan kesempatan yang ada. Akhirnya, berbagai prestasi dalam menulis cerpen dan puisi saya mampu berikan untuk almamater tercinta, baik tingkat lokal, nasional, dan internasional. Pada akhirnya, nama saya dapat menjadi tokoh protagonis di sebuah buku nonfiksi, bernama Warkat. Ya, tokoh protagonis yang siap menjadi antagonis yang baik yang memberikan kesempatan bagi siapapun yang mau menjadi santri berbeda.

Begitulah Al-Amien Prenduan mengajarkan santri-santrinya untuk Ber-fastabiqul khoirot. Santri tak hanya dibekali ilmu, namun diberikan berbagai kecakapan hidup atau life skill. Kecakapan hidup tersebut tercermin dalam Kompetensi Pilihan (Kompil) yang menjadi pilihan wajib bagi seluruh santri. Mereka saling bersaing dan menjatuhkan untuk menjadi yang disebut juara lewat berbagai program Kompil yang disertai dengan pengukuran obyektif melalui perlombaan semacam Porseni. Pada akhirnya mereka menjelma nama-nama yang diingat berkat keahlian atau kecakapan yang dimilikinya. Saat banyak lembaga pendidikan lain berupaya mencari formulasi agar lulusan dapat memiliki kecakapan hidup.  Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan telah memiliki arah dan jalan yang jelas, tinggal bagaiman para santi mampu membaca arah tersebut dan berjalan di jalannya. Seperti kata pepatah, man saara alad darbi wasala.***

Catatan, Ruang Bahasa

MENGEMBALIKAN HAKIKAT PANTUN DENGAN METODE CALL

  1. Latar Belakang

Khazanah kesastraan melayu nusantara sangat kental pada jenis puisi lama yakni pantun dan ternyata pantun lebih diterima di masyarakat sampai saat ini dibandingkan dengan bentuk lain seperti mantra, hikayat, dan gurindam. Kenyataan ini tentu saja membanggakan, karena paling tidak tradisi lisan dan kebudayaan luhur mengenai bahasa dan sastra kita tetap terjaga. Hal ini jika kita bandingkan, akan berbanding terbalik dengan produk budaya masa lampau lain, seperti tari-tarian yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat saat ini, bahkan yang membuat tercengang akhir-akhir ini justru tarian-tarian itu diakui sebagai kekayaan budaya negara lain.

Namun bentuk pantun yang saat ini sangat mudah kita temukan dalam ruang-ruang publik seperti televisi, acara pernikahan, seminar, dan sebagainya sungguh memprihatinkan. Pantun hadir dalam bentuk yang cacat karena polanya yang sudah berubah. Pakem morfologis pantun dilanggar begitu saja baik secara pola rima ab-ab maupun pola baris yang hadir dengan dua baris. Selain itu, bahkan pesan-pesan moral yang berkaitan dengan ajaran tentang kehidupan dan berbudi pekerti yang baik di dalam pantun seakan diabaikan. Fakta ini bisa kita lihat pada acara televisi yang saling mengejek dengan pantun. Menyebut fisik yang tidak sempurna sebagai bahan untuk membuat penonton tertawa. Seperti hal berikut, “Hai penonon, jalan-jalan ke kramat jati beli jambu biji, eh dasar lo gak punya gigi udah kayak lidi.”

Jika dianalisis, pantun ini memiliki beberapa kecacatan. Pertama pantun ini hanya berbentuk dua baris. Jika merujuk pembagian puisi lama, maka ini biasa disebut sebagai karmina bukan pantun. Hal ini dikarenakan karmina dan pantun memiliki struktur tersendiri dan digolongkan menjadi bentuk lain, terlepas dari pantun. Kedua, pola pantun tersebut adalah aa dan ini jelas menyalahi kaidah penulisan pantun. Ketiga, pesan yang terkandung dalam pantun tersebut adalah untuk mengejek. Hal inilah yang tidak ada dalam pantun lama. Memang ada bentuk pantun jenaka, tetapi kejenakaan tersebut bukan untuk menertawakan kekurangan orang lain.

Pantun dalam tradisi melayu sangat ditinggikan bahkan untuk dijadikan sebagai media untuk mengajarkan agama, ini bisa dilihat lewat pantun berikut ini,

Untuk apa orang bertenun

Untuk membuat pakaian anak

Untuk apa orang berpantun

Untuk mengingat ajaran syarak

Selain tataran pragmatis tersebut, secara morfologis pantun memiliki kosmologi yang bisa dibilang rumit. Ini diungkapkan oleh Soemarjo dalam Hadi bahwa pantun memiliki kaitan dengan dunia mikro manusia dan dunia makro alam semesta. Hal ini dikarenakan pada sampiran sebuah pantun membahas makro alam semesta dan pada isi berisi mikro manusia. Pola ab-ab adalah jembatan untuk mengkaitkan elemen mikro dan makro pada pantun tersebut. Sehingga makna pantun tidak hanya didapatkan dengan cara membaca pantun secara linear saja melainkan juga secara  sirkuler (2012: 311). Dengan demikian, pantun memiliki dua makna yang berbeda. Proses mendapatkan maknanya pun dengan cara yang berbeda pula.

Maka membentuk pantun dengan asal, tidak hanya merusak pantun secara pragmatis tetapi juga secara morfologis. Pembelajaran bahasa Indonesia memiliki tugas besar untuk mengubah paradigma dangkal semacam itu. Hal ini mengingat kompetensi mengenai memahami dan menuli puisi lama yang dalam hal ini pantun merupakan salah satu kemampuan yang harus dipenuhi oleh siswa SMA kelas X.

Namun pada kenyataannya, guru sering menganggap pembelajaran mengenai pantun adalah semata proses interaksi benda kuno dengan peserta didiknya. Pandangan semacam ini yang justru menempatkan guru bukan sebagai pendidik, akan tetapi seperti seorang pemandu wisata yang sering didapati di museum dan cagar budaya lainnya. Layaknya seorang pemandu wisata, guru dalam hal ini hanya berceramah dengan menyampaikan konsep-konsep mengenai pantun, sedangkan siswa hanya mendengarkan tanpa terlibat secara aktif dalam proses tranfer ilmu tersebut. Di sini pembelajaran terpusat pada guru, sedangkan murid begitu pasif.

Melihat fenomena tersebut, tentu yang harus diubah adalah metode pembelajarannya. Metode yang baik akan menghasilkan produk yang baik. Mendidik tidak jauh berbeda dengan memasak, salah cara mengolahnya bisa jadi masakan tersebut tidak enak, dikarenakan terlalu banyak bumbu yang diberikan atau bahkan terlalu lama memanggang sehingga gosong. Dalam pembelajaran pantun ini, antara anak, teks pantun, serta guru dapat membangun suatu interaksi. Interaksi yang dimaksud adalah bahwa setiap unsur dalam pembelajaran pantun tersebut harus saling berkontribusi. Anak harus memahami teks pantun, teks pantun disajikan guru dalam bentuk yang mudah dipahami siswa, sementara guru dapat memfasilitasi siswa dalam memahami pantun.

Salah satu metode pembelajaran yang mengomunikasikan ketiga unsur tersebut adalah metode pembelajaran Computer Assisted Language Learning atau biasa disebut dengan CALL. Hal inilah yang disampaikan oleh Kunlun (2007:82) bahwa metode CALL dapat meningkatkan interaksi pembelajaran, baik siswa dengan guru, atau siswa dengan siswa maupun dengan bahan belajar (enhance interactivity). Hal ini tentu saja memungkinkan karena dengan metode pembelajaran CALL, maka media pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa untuk dapat berinteraksi dengan siswa. Terlebih dengan CALL, siswa dimungkinkan untuk menyaksikan secara audio visual tentang bagaimana pantun diterapkan. Hal ini tentu saja sangat membantu, mengingat pembelajaran menulis pantun bukan sekedar mengetahui struktur pantun dan menuliskannya, namun hal yang juga tak kalah pentingnya adalah bagaimana pantun tersebut dapat disampaikan sesuai dengan konteks.

Konteks dan pantun sebetulnya suatu bagian yang tidak terpisahkan. Hal ini mengingat bahwa pada dasarnya pantun berakar dari tradisi sastra lisan, yang tentu saja penggunaannya memang menjadi salah satu piranti berkomunikasi. Sehingga jika kita melihat, tradisi palang pintu, sejatinya pantun merupakan bagian dari komunikasi tersebut.

 

  1. Tujuan

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tulisan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode CALL terhadap pembelajaran menulis pantun.

 

  1. Tinjauan Pustaka

3.1 Hakikat CALL

Teknologi berkembang demikian pesat. Perkembangan tersebut bukan saja terjadi di perkotaan, tetapi juga masuk hingga ke ruang-ruang pedesaan. Hal ini bisa dilihat dari mudahnya akses internet di tempat-tempat tersebut yang diindikasikan dengan banyaknya warung internet. Selain itu, harga gadget dan pulsa yang terjangkau membuat orang semakin mudah untuk mengakses internet.

Fenomena ini tentu saja berimbas pada pola komunikasi yang selama ini bergantung pada telepon dan sms. Komunikasi tidak lagi dibangun dengan teks saja, tapi komunikasi itu dibangun pula dengan gambar dan vidio. Pendidikan yang selama ini dibangun dengan pola komunikasi tradisional (lisan dan teks) pun kini berubah haluan. Pembelajaran menjadi jauh lebih variatif. Guru dapat mencontohkan proses terjadinya hujan bukan saja dengan gambar, namun bahkan dengan vidio.

Hal-hal tersebut yang pada akhirnya membuat sekolah melengkapi sarana dan prasarananya untuk mendukung proses pembelajaran yang jauh lebih efektif. Selain pemasangan Wi-Fi untuk kemudahan akses internet, LCD pun disediakan untuk penayangan presentasi ataupun vidio.

Fasilitas yang lengkap tentu saja membuat aktifitas pembelajaran dengan CALL dimungkinkan. Sebab, hal inilah yang dibutuhkan dalam pelaksanaan CALL, secara definitif (Bancheri, 2006:72) menyatakan bahwa CALL merupakan suatu metode yang dalam pengajaran dan penyampaiannya menggunakan teknologi baik sebagai sarana presentasi maupun hal yang lainnya. Serta dapat membantu dalam penyampaian serta penafsiran materi yang diajarkan dan dimasukkan unsur interaksi dengan penggunaan program.

Dalam pengertian Bancheri ini paling tidak ada dua hal yang perlu digaris bawahi, pertama, bahwa metode CALL harus menggunakan teknologi. Kedua, pemanfaatan teknologi untuk kegiatan presentasi atau memasukkan unsur interaksi dengan penggunaan program. Secara mendasar, pelaksanaan CALL yang sederhana sudah banyak dilakukan oleh tenaga pengajar di Indonesia, terlebih tenaga pengajar di perguruan tinggi. Akan tetapi, untuk membentuk suatu program intraksi masih sangatlah minim.

Namun demikian, dengan CALL dalam bentuk presentasi atau penayangan vidio sudah banyak membantu. Paling tidak ini yang disampaikan oleh Warschauer (1996:20) bahwa keuntungan CALL adalah pesan dan materi yang dikomunikasikan menjadi lebih standar,penyajian pesan dan materi lebih menarik, kualitas pesan dan materi lebih baik, danmemungkinkan terjadinya proses belajar yang indiviual. Hal ini tentu saja akan jauh lebih baik, jika metode CALL yang dilakukan dengan menggunakan program interaksi, tentu hal ini akan memberikan beberapa kelebihan seperti yang diungkap oleh Khamkien (2012:95) bahwa CALL memiliki beberapa kelebihan, yaitu 1) Fun: memberikan rasa senang untuk belajar pada siswa, 2) Responsibility: memberikan kesempatan siswa bertanggung jawab atas penguasaan materi-materi, yaitu dengan mengerjakan tugas-tugas yang dikerjakan, 3) Active: Siswa akan berperan aktif di setiap kegiatan selama pembelajaran, 4) Communicative: banyak hal imajinatif yang sulit dipikirkan siswa dapat dipresentasikan memudahkan dan melalui simulasi komputer sehingga keadaan yang demikian itu akan lebih menyederhanakan jalan pikiran siswa dalam memahami bahasa.

Jika membandingkan dua kelebihan tersebut, tentu saja metode pembelajaran CALL dengan menggunakan pemrograman jauh lebih efektif untuk diterapkan. Oleh karena itu, ada baiknya guru memahami bagaimana cara untuk membuat pemrograman yang baik. Menurut Hartoyo (2012: 89) ada tujuh langkah untuk menyusun program CALL yakni, 1) perencanaan awal, 2) penentuan tujuan, 3) memilih tipe program, 4) memilah materi, 5) memilih software, 6) menentukan tugas, 7) merancang struktur program.

 

3.2. Hakikat Pantun

Pantun merupakan salah satu akar khazanah perpuisian Indonesia. Meski jejak tersebut kini sulit ditemukan pada persajakan kekinian, seperti sajak Abdul Hadi WM, Ahmadun Yosi Herfanda, Zawawi Imron, Soni Farid Maulana, maupun Acep Zamzam Noor. Namun demikian, nuansa rima yang ketat tetap ada dan menjadi ciri perpuisian mereka sehingga secara morfologis, sampiran dan isi sudah tidak ada lagi sehingga yang ada hanya isi.

Ini tentu saja melanggar pengertian pantun seperti yang diungkap oleh Markasan dalam Hadi dkk. yang menyatakan bahwa pantun memiliki unsur sampiran dan isi, masing-masing terdiri dua baris, yang satu di awal dan yang lain di akhir. Selain itu, berpola ab ab yang menjadi ciri khas dari pantun (2012: 73).

Dalam perkembangannya pantun dalam kehidupan masyarakat melayu menjadi tradisi lisan. Oleh karena itu pantun digunakan oleh semua umur, baik anak, remaja, maupun orang tua. Hal inilah yang membuat pantun terbagi menjadi berbagai jenis. Menurut Yuli, pantun anak-anak memiliki jenis-jenis seperti, pantun berdukacita dan pantun bersukacita. Adapun pantun remaja atau anak muda terdiri dari pantun perkenalan, pantun berkasih-kasihan, dan pantun perpisahan. Sedangkan pantun orang tua terdiri dari pantun nasihat, pantun adat, pantun budi, pantun kepahlawanan, dan pantun agama.  Selain pembagian berdasarkan usia tersebut, pantun juga terbagi dalam pola, yakni pantun jenaka dan pantun teka-teki (2013).

 

3.3. Penelitian yang Relevan

Penelitian tentang CALL sudah cukup banyak dilakukan, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Widiawati, D.N., Sukadi, dan Warpala, I W. S. Dengan judul Penerapan Computer Assisted Language Learning Berbantuan Media Video Untuk Meningkatkan  Hasil Belajar Berbicara. Hasil dari penelitian ini adalah data yang dikumpulkan selama pelaksanaan pre test pada siklus I menunjukkan nilai rata-rata hasil belajar siswa sebesar 48,56 dan hasil belajar pada post test yang dilakukan pada akhir siklus I menunjukkan nilai rata-rata siswa sebesar 73,21 dengan ketuntasan klasikal sebesar 50%. Pelaksanaan pre test pada siklus II menunjukan nilai rata-rata siswa sebesar 71,07 dan hasil post tes yang dilaksanakan pada akhir siklus II menunjukan nilai rata-rata siswa sebesar 86,07 dengan ketuntasan klasikal 100% dan tanggapan siswa terhadap penerapan CALL berbantuan video berada pada kategori positif.

 

  1. Analisis dan Pembahasan

            Penerepan metode CALL dalam pembelajaran pantun dapat dilakukan dengan membuat programnya terlebih dahulu. Dalam membuat program tersebut dapat mengikuti langkah-langkah yang disampaikan oleh Hartoyo (2012: 89) yang meliputi 1) perencanaan awal, 2) penentuan tujuan, 3) memilih tipe program, 4) memilah materi, 5) memilih software, 6) menentukan tugas, 7) merancang struktur program.

Dalam menyusun program, guru bisa menggunakan softwere adobe flash, atau jika kesulitan, maka menggabungkan beberapa softwere pun bisa menjadi alternatif. Misalnya, materi dapat disampaikan secara menarik dengan powerpoint, untuk menyampaikan pantun, maka bisa mengunduh vidio berkaitan dengan pantun ini, seperti palang pintu yang bisa diunduh di youtube dan untuk kegiatan evaluasi, guru dapat menggunakan hotpotatoes 6.

Setelah program dibuat. Maka guru perlu menyiapkan hardware atau perangkat fisiknya, berupa komputer/laptop dan LCD. Setelah semua perangkat sudah siap. Maka guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Dalam menyusun RPP ini hendaknya guru memperhatikan program yang telah dibuat sehingga terjadi singkronisasi yang efektif.

Dalam pelaksanaan pembelajaran pantun dengan metode CALL, kegiatan awal bisa disampaikan dengan memutar powerpoint tentang pantun, untuk selanjutnya diberikan contoh simulasi lewat vidio. Setelah itu, berikanlah simulasi menjawab soal dengan menggunakan hotpotatoes 6. Setelah itu, diakhir kegiatan guru dapat mengetahui hasil pembelajaran pantun dengan cepat.

 

4.1 Kelebihan Pembelajaran Pantun dengan CALL

Pembelajaran pantun dengan menggunakan CALL memiliki berbagai kelebihan. Kelebihan tersebut, di antaranya:

  • Siswa tidak jenuh, karena dihadapkan pada visual grafis yang menarik, selain itu mereka pun menyaksikan vidio.
  • Dengan menyaksikan vidio siswa mampu memahami penggunaan pantun dan bagaimana pantun telah menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
  • Metode CALL membuat anak tertantang untuk menyelesaikan tugas. Mengingat program CALL tidak memungkinkan siswa untuk mencontek, terlebih program tersebut membuat anak tidak dapat melihat soal sebelumnya serta diberikan waktu yang terbatas. Hal ini membuat evaluasi menjadi lebih efektif.

 

4.2 Kekurangan Pembelajaran Pantun dengan CALL

Selain kelebihan tersebut, tentu saja pembelajaran pantun dengan metode CALL bukan tanpa catatan. Catatan-catatan yang menjadi kekurangan pelaksanaan pembelajaran ini adalah.

  • Program CALL akan berhasil jika infrastruktur baik. Jika, jumlah siswa tidak sesuai dengan jumlah komputer yang ada. Maka yang menjadi kendala adalah evaluasi tidak dapat berjalan dengan efektif.
  • Tidak semua guru dapat membuat program untuk melaksanakan CALL ini. Dengan fakta ini, tentu saja, pelaksanaan metode CALL tidak dimungkinkan jika tidak memanfaatkan program-program yang sudah matang.
  • Menarik tidaknya sebuah pembelajaran dengan metode CALL bergantung pada programnya. Jika program minim grafis, audio, dan vidio, tentu saja kegiatan CALL tidak akan berjalan menarik.

 

  1. Kesimpulan dan Rekomendasi

5.1 Kesimpulan

Pantun saat ini perlu dikembalikan kepada hakikatnya, selain mengembalikan kepada pakem strukturnya, juga perlu upaya mengembalikan pantun dalam konteks budaya. Dengan menggunakan metode CALL, maka kedua hal tersebut dapat dilakukan. Hal ini dimungkinkan karena metode CALL membuat siswa mampu memahami hakikat mendasar mengenai pantun dan mengetahui bagaimana pantun digunakan dalam konteks budaya Nusantara.

Metode CALL sangat bergantung pada program yang dibuat. Oleh karena itu, jika program yang disusun baik, maka pembelajaran dengan metode CALL pun akan berhasil. Keberhasilan membuat program CALL dapat memperhatikan tujuh langkah dalam menyusun program, yakni1) perencanaan awal, 2) penentuan tujuan, 3) memilih tipe program, 4) memilah materi, 5) memilih software, 6) menentukan tugas, 7) merancang struktur program.

 

5.2 Rekomendasi      

Untuk mengembalikan hakikat pantun dengan metode CALL ini, maka ada beberapa rekomendasi yang perlu di perhatikan, di antaranya sebagai berikut,

  1. Pantun saat ini sudah jauh melewati pakem pantun. Untuk mengembalikan hakikatnya, maka perlu metode yang efektif. Salah satu metode efektifnya adalah CALL.
  2. Dalam menggunakan metode CALL, guru harus lebih kreatif khususnya dalam menyusun program, sebab keberhasilan metode ini bergantung pada programnya.
  3. Agar pembelajaran dengan metode CALL berlangsung efektif, yang perlu diperhatikan adalah infrastruktur yang harus mempertimbangkan jumlah siswa.


DAFTAR PUSTAKA

 

Khamkien, A. 2012. Computer Assisted Language Teaching in Thailand. Mediterranean Journal of Social Science.

Warschauer, M. 1996. Computer Assisted  Language Learning. Multimedia  Language Teaching. 3(3). Tokyo: Logos International.

Bancheri, S. 2006. Computer assisted language learning. Context and Conceptualization. Oxford University Press.

Hartoyo. 2012. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Dalam Pembelajaran Bahasa. Semarang: Pelita Insani.

Abdul Hadi WM dkk. Mengangkat Batang Terendam: Telaah Perpuisian Melayu Nusantara Mutakhir. (Jambi: Dewan Kesenian Jambi, 2012) hlm. 73.

Nunung Yuli. “Pengertian, Ciri-ciri, dan Jenis Pantun.” Dikutip dari http://id.shvoong.com/humanities/ theory-cirticism/2322071-pengertian-ciri-ciri-dan-jenis/ pada 28 Desember 2013.

 

Catatan

​Mengecup Keningmu

Sepertinya baru semalam aku pertama kali menciummu, menanggalkan kesedihan di keningmu dan membalurinya dengan mimpimimpi kecil tentang rumah yang akan kita bangun dari kepingan kenangan dan sepasang kebahagiaan yang kita rawat dengan kasih sayang yang kita sirami setiap hari

Sepertinya baru semalam aku pertama kali melukaimu, menghujamkan resah pada dada dan kepalamu, seperti semua hujan yang pernah memaki dahan, tak henti menyakiti hingga awan meninggalkan jejaknya dipermukaan kolam

Sepertinya semua yang kita lewati hanya semalam. Sehingga kerinduan dan kebencian kita dekat. Tanpa sekat. Berpeluk erat.

Catatan

Siapakah

Siapakah yang meletakkan kebahagian pada sebuah bantal sehingga ia terasa empuk ketika lelah kepalaku menidurinya?

Siapakah yang meletakkan kebahagiaan pada sebuah kancing sehingga aku tak malu menggunakan baju kenangan untuk berjalan bersamamu?

Siapakah yang meletakkan kebahagiaan pada sebuah luka sehingga aku tak lupa pada jalan menuju rindu?

Catatan

Cara Sederhana Sapardi Menulis Puisi

“Cara menulis puisi itu ya ditulis,” ujar Sapardi Djoko Damono dalam kegiatan Festival Literasi Uhamka yang diselenggarakan oleh HIMA PBSI di UHAMKA (24/03). Tips menulis itu disampaikan dengan cara yang sangat sederhana. Menurutnya, menulis puisi bukanlah kegiatan yang dipelajari di ruang-ruang kelas, namun lebih pada berapa banyak buku yang dibaca oleh seorang penyair. 

“Mana ada penyair Indonesia yang lahir dari kurikulum?” Tegasnya seraya menyindir bahwa pembelajaran bahasa Indonesia harusnya lebih banyak pada proses membaca dan menulis, bukan pada hafalan terhadap struktur bahasa.

Senada dengan Sapardi, Hasan Aspahani yang juga bertindak sebagai pembicara dalam acara tersebut menyampaikan bahwa proses pembacaan yang baik terhadap puisi akan memunculkan kreativitas dalam menulis puisi. Salah satu puisi yang dapat dijadikan sebagai model berlatih adalah puisi Aku Ingin karya Sapardi. Menurutnya puisi itu sangat lengkap baik metafor maupun permainan bunyinya. 

Hasan yang belum lama menerima hadiah hari puisi 2016, juga mengatakan bahwa puisi-puisi Sapardi telah membuka jalan bagi kepenyairannya. Sebaliknya, Sapardi merendah dengan menyatakan bahwa kini penyair-penyair muda memberi harapan baru dalam persoalan pengungkapan bahasa puisi yang cendrung kaya, ujarnya seraya membandingkan puisinya dengan kumpulan puisi Norman Erikson Pasaribu, Segius Mencari Bachus.