Feeds:
Pos
Komentar

Sepertinya baru semalam aku pertama kali menciummu, menanggalkan kesedihan di keningmu dan membalurinya dengan mimpimimpi kecil tentang rumah yang akan kita bangun dari kepingan kenangan dan sepasang kebahagiaan yang kita rawat dengan kasih sayang yang kita sirami setiap hari

Sepertinya baru semalam aku pertama kali melukaimu, menghujamkan resah pada dada dan kepalamu, seperti semua hujan yang pernah memaki dahan, tak henti menyakiti hingga awan meninggalkan jejaknya dipermukaan kolam

Sepertinya semua yang kita lewati hanya semalam. Sehingga kerinduan dan kebencian kita dekat. Tanpa sekat. Berpeluk erat.

Kesetiaan

Kepergiaan taimu 

kususul dengan taiku 

yang baru

Siapakah

Siapakah yang meletakkan kebahagian pada sebuah bantal sehingga ia terasa empuk ketika lelah kepalaku menidurinya?

Siapakah yang meletakkan kebahagiaan pada sebuah kancing sehingga aku tak malu menggunakan baju kenangan untuk berjalan bersamamu?

Siapakah yang meletakkan kebahagiaan pada sebuah luka sehingga aku tak lupa pada jalan menuju rindu?

“Cara menulis puisi itu ya ditulis,” ujar Sapardi Djoko Damono dalam kegiatan Festival Literasi Uhamka yang diselenggarakan oleh HIMA PBSI di UHAMKA (24/03). Tips menulis itu disampaikan dengan cara yang sangat sederhana. Menurutnya, menulis puisi bukanlah kegiatan yang dipelajari di ruang-ruang kelas, namun lebih pada berapa banyak buku yang dibaca oleh seorang penyair. 

“Mana ada penyair Indonesia yang lahir dari kurikulum?” Tegasnya seraya menyindir bahwa pembelajaran bahasa Indonesia harusnya lebih banyak pada proses membaca dan menulis, bukan pada hafalan terhadap struktur bahasa.

Senada dengan Sapardi, Hasan Aspahani yang juga bertindak sebagai pembicara dalam acara tersebut menyampaikan bahwa proses pembacaan yang baik terhadap puisi akan memunculkan kreativitas dalam menulis puisi. Salah satu puisi yang dapat dijadikan sebagai model berlatih adalah puisi Aku Ingin karya Sapardi. Menurutnya puisi itu sangat lengkap baik metafor maupun permainan bunyinya. 

Hasan yang belum lama menerima hadiah hari puisi 2016, juga mengatakan bahwa puisi-puisi Sapardi telah membuka jalan bagi kepenyairannya. Sebaliknya, Sapardi merendah dengan menyatakan bahwa kini penyair-penyair muda memberi harapan baru dalam persoalan pengungkapan bahasa puisi yang cendrung kaya, ujarnya seraya membandingkan puisinya dengan kumpulan puisi Norman Erikson Pasaribu, Segius Mencari Bachus. 

katarak 23Masalah penglihatan umumnya terjadi pada manula, hal yang sama terjadi kepada Bapak saya. Bapak saya berumur 84 tahun menurut KTP, namun sebetulnya bisa lebih. Sudah beberapa tahun terakhir penglihatannya terganggu, namun pada tahun kemari ia mulai mengeluh bahwa mata sebelah kanannya sudah tidak dapat melihat. Ketika dibawa ke faskes 1 yakni Klinik Tugu, dokter menduga hal tersebut adalah katarak. Oleh karena itu, dokter tersebut menyarankan untuk melakukan operasi katarak. Dengan bekal surat rujukan dokter tersebut langkah pertama untuk operasi katarak dimulai.

Untuk mendaftar di RSUD Depok sebagai faskes lanjut adalah melampirkan hal-hal berikut:

  1. Surat rujukan dokter
  2. Fotokopi KTP
  3. Fotokopi kartu BPJS
  4. Fotokopi akte keluarga

Semua berkas tersebut harus digandakan sehingga nanti diserahkan ke bagian pendaftaran sebanyak 2 rangkap. Selain keempat hal tersebut, Anda harus memberikan kartu pasien jika pasien lama atau formulir pendaftaran jika Anda belum pernah berobat ke RSUD Depok.

Cara Mendaftar

Untuk mendaftarkan pasien di RSUD sebetulnya ada dua cara, pertama dengan SMS Gathway. Cara melakukan pendaftarannya dapat dilihat di sini. Namun cara ini sering gagal dengan tidak dibalas oleh operatonya. Cara kedua yang lebih pasti adalah mengambil nomor antrian pendaftaran. Umumnya para calon pasien datang setelah subuh untuk mengambil artian, mengingat semua poli kadang menerima jumlah pasien yang terbatas, belum lagi dipotong oleh jumlah pasien yang berhasil SMS gathway. Untuk menghindari nomor antrian yang habis, maka perlu dipertimbangkan untuk datang semakin awal.

Jika Anda datang setelah subuh, di meja pintu utama RSUD sudah ada beberapa orang yang mendata untuk setiap poli, sampaikanlah keperluan Anda untuk menuju poli mata, dan Anda akan mendapatkan nomor antrian untuk mendapatkan nomor antrian pendaftaran.

Sekitar pukul 6, semua calon pasien dibariskan sesuai dengan nomor antrian dan kemudian ditunjuk satu persatu untuk mengambil nomor antrian pendaftaran. Pendaftaran dimulai pukul 7.15. itu artinya, Anda harus menunggu sekitar satu jam setelah mendapatkan nomor antrian pendaftaran. Sebaiknya waktu tersebut Anda gunakan untuk sarapan pagi, karena perjalanan berobat masih lama.

Tunggulah di depan meja pendaftaran yang menyediakan kursi yang cukup banyak, namun karena terlalu banyak pasien maka kadang Anda menunggu dalam keadaan berdiri. Agar mempercepat proses pendaftaran, Anda siapkan semua berkas pendaftaran dengan baik agar memudahkan petugas.

Setelah nama dipanggil, Anda mungkin menunggu sekitar 5-10 menit untuk mendapatkan nomor antrian poli. Dengan mendapatkan nomor antrian poli ini Anda dapat menunggu di depan poli masing-masing. Biasanya suster memulai pemeriksaan tensi dan menimbang berat badan pukul 9.  Tak lama berselang memanggil satu persatu pasien.

Kita akan bertemu dengan dr. Lieska. Dokternya sangat ramah, ia akan memeriksa dengan detil dan menanggapi semua keluhan. Jika memang benar-benar mengidap katarak ia akan menanyakan apakah kita bersedia dilakukan tindakan operasi. Jika Ya, ia akan mempersiapkan semua berkas rujukan yang terdiri dari,

  1. Rujukan ke Pemeriksaan Darah
  2. Rujukan ke Radiologi
  3. Rujukan ke Spesialis Penyakit Dalam
  4. Rujukan ke Anestesi (Diberikan esok harinya oleh dokter Spesialis Penyakit Dalam)

Pada hari itu juga Anda dapat menuju laboratorium untuk pemeriksaan darah dan radiologi. Di labolatorium Anda cukup memberikan surat rujukan dokter Lieska dan kartu berobat. Tunggu beberpa menit, pasien akan diambil darah. Setelah itu, Anda ke radiologi. Lakukan hal serupa, berikan surat rujukan dan kartu berobat. Tak lama Anda dipanggil untuk memberikan kertas keterangan yang berisi pasien akan diperiksa di Lab. Radiologi. Serahkan ke loket dua untuk dibilling. Dari sana tertera jumlah biaya yang akan dikeluarkan untuk cek di Radiologi. Anda tak perlu membayar. Cukup memberikan kertas billing tersebut ke Lab. Radiologi. Tak lama pasien diperiksa untuk difoto Rontgent.

Kedua hasil pemeriksaan tersebut dapat diambil pukul 4. Namun saya sarankan sebaiknya diambil esok hari pukul 8. Demikian juga jika Anda diharuskan oleh dokter Lieska menebus obat, berikan resep ke klinik dan ambil esok hari.

Semua proses tersebut kurang lebih selesai pukul 13.00. Sebelum pulang, berikan surat Rujukan Anda ke kantor BPJS untuk diperpanjang, biasanya sampai 7 bulan.

Hari kedua, Anda pergi ke Spesialis Penyakit Dalam. Lakukan antrian yang sama mulai pukul lima. Siapkan berkas yang sama yang telah digandakan. Hanya saja tambahkan dengan rujukan ke Spesialis Penyakit Dalam. Semua di rangkap ganda. Jangan lupa, Anda juga harus mengambil hasil cek darah di labolatorium dan hasil dari Radiologi.

Sebelum ke poli penyakit dalam, suster akan mengecek tensi darah dan berat badan. Setelah itu, menyuruh pasien untuk pemeriksaan EKG. Semua berkas, baik dari labolatorium, radiologi, dan EKG diberikan kepada dokter Spesialis Penyakit Dalam. Jika hasilnya baik, langsung dirujuk ke poli anestesi di hari berikutnya. Apa yang dilakukan hari ini memakan waktu yang kurang lebih sama. Kemungkinan pukul 13.00 selesai.

Dihari ketiga, kita akan menuju poli anestesi. Lakukan antrian pukul lima. Siapkan semua berkas yang sama sebanyak dua rangkap dan tidak lupa melampirkan surat rujukan untuk poli anestesi. Di poli ini kita akan menandatangani pernyataan kesediaan untuk dilakukan tindakan serta akan diperiksa oleh dokter. Jika hasilnya bagus, akan diberikan jadwal oleh poli mata untuk menentukan jadwal operasi. Kita juga akan diberikan sebuah kertas yang menunjukkan waktu operasi kita untuk kemudian kita berikan kepada bagian informasi agar dijadwalkan.

Demikian langkah-langkah untuk melakukan operasi katarak. Semua langkah tersebut jika menggunakan BPJS tidak ada satupun yang dipungut biaya, ya kecuali parkir.

Bukan Perempuan

bukan-perempuanAku bukan perempuan. Tetapi mengapa kau menciumiku? Aku tidak sedang bermimpi. Tetapi ini tak dapat kupercaya dengan akal sendiri. Aku masih pura-pura terlelap ketika seseorang mulai menciumiku, memelukku bagai sebuah boneka yang tak berdaya. Ingin kuberontak. Tapi entah mengapa aku tak bisa. Aku takut. Takut menghadapi kenyataan bila orang yang memperlakukanku dengan begitu hina ini adalah seseorang yang amat aku kagumi.

“Kau sudah terbangun?” ia membisiku.

Aku terdiam. Hatiku berdetak lebih cepat. Rasa takut menghantuiku. Tidak salah lagi. Aku mengenal suara ini. Ini suara Ardi. Tidak salah lagi.

“Tenang saja. Kau akan nyaman bersamaku. Aku akan memelukmu. Kau pasti kedinginan ya? Malam ini memang angin laut begitu kencang,” lanjutnya. Aku masih terdiam. Aku hanya ingin malam ini cepat selesai. Tetapi Ardi malah memelukku dengan pelukan yang lebih kencang.

Mataku kupejam dalam-dalam. Ini pasti mimpi. Aku ingin ini hanya terjadi dalam mimpi. Tapi, ah… Sentuhan Ardi terasa begitu nyata begitu pula dengan ciumannya. Berusaha membangkitkan nafsu purbawi. Tapi aku tak memedulikannya.

“Mengapa kau diam saja? Malam ini begitu indah. Kau buka matamu, lihatlah dari balik jendela. Bulan bercahaya dengan sempurna. Langit cerah. Bukalah matamu, ini akan menjadi malam yang indah,” ia masih mendawai kemudian membelai kepalaku dengan sesekali menciumiku. Aku muak. Ingin berontak. Tapi lagi-lagi aku tak berdaya, aku tahu siapa yang memelukku. Aku tahu benar siapa yang memperlakukanku dengan hina ini. Seorang santri yang sangat pintar. Mendapat nilai selalu mumtaz[1], mahir dalam berbahasa Arab dan Inggris dengan fasihnya, dan dinobatkan sebagai santri teladan.

Dan kini, aku berada dalam pelukannya. Ah, sungguh aku tak pernah berpikir kedekatanku dengannya akan berakhir seperti ini. Aku memang selalu belajar banyak hal dengannya. Hingga keberadaanku di dalam ruangan ini pun karena niatku untuk belajar bersamanya. Tetapi, mengapa Ardi berubah?

Aku tak mendapatkan jawaban apa-apa selain tubuh Ardi yang terus-menerus mengamitku.

***

Pagi-pagi aku hanya terpekur di depan kamarku. Aku memikirkan kejadian semalam. Hatiku rasanya terpukul. Pergumulan semalam telah membuatku merasa sebagai makhluk paling hina. Tuhan pasti tahu, karena Allah Maha Mengetahui. Ah, aku tak sanggup memikirkan dosa itu. Sesak sekali dadaku. Ingin kumenangis. Tapi aku bahkan tak dapat mengeluarkan air mata.

Aynal Ihsan?[2]” tanya temanku Ridwan yang kemudian membuyarkan lamunanku.

Ma kuntu bi ‘arif,[3]jawabku singkat.

Wah, fasih sekali bahasamu. Biasanya juga jawab ma fi[4],” ejek Ridwan.

“Kau seperti tidak tahu saja. Diakan dekat dengan Ardi, santri kelas akhir itu,” timpal teman Ridwan. Entah mengapa hatiku sesak mendengar nama Ardi disebut-sebut. Rasanya aku ingin enyahkan nama itu dari muka bumi ini.

“Oh, ya. Pantas kamu jadi pintar begini. Kalau ketemu Ihsan nanti beritahu ia mudif.[5] Kami mau ke masjid dulu, ada bersih-bersih masjid. Ok?” lanjut Ridwan kemudian.

Aku hanya menganggukan kepalaku dan kembali terpekur dengan lamunanku. Tapi tak lama, dari kejauhan aku lihat Ardi berjalan menuju ke arah kamarku. Aku segera masuk ke dalam. Aku tak mau bertemu dengannya. Aku beri tahu temanku untuk tidak memberi tahu keberadaanku dan aku bersembunyi di balik lemari.

Aku lihat dari jendela, Ardi tampak kecewa dan pergi meninggalkan kamarku. Tak lama berselang, temanku datang padaku.

“Wah beruntung sekali kau! Kau dipilih mewakili pondok untuk ikut lomba pidato bahasa Arab. Nanti malam disuruh ke diwan[6]. Kau akan dilatih oleh orang yang paling hebat di pondok ini!” terangnya dengan suara menggebu-gebu.

Tetapi sebaliknya denganku. Tubuhku terasa lemas. Karena aku tahu, orang itu adalah Ardi.

“Ada apa? Mukamu mengapa cemas begitu? Takut kalah? Ah, itu biasa. Menang kalah dalam lomba itu biasa.”

Aku hanya tersenyum kecil dan menundukan kapalaku. Dia tak tahu, orang yang dibanggakannya itu adalah orang yang paling hina bagiku. Lebih hina dari hewan manapun! Aku menggerutu. Ah, datangkah aku nanti malam? Entah mengapa, aku merasa sesak di dadaku makin bertambah.

***

Aku terbangun ketika kurasakan tubuhku terasa berat seperti ada yang menindih. Aku segera sadar. Bahwa seseorang telah memelukku dan tidur tepat di atas tubuhku. Aku tahu orang itu adalah Ardi.

Aku teringat, pukul dua belas malam aku masih berlatih pidato dengannya. Saat itu masih ada teman-temanku yang lain. Tapi sekarang, aku tak tahu. Aku tertidur mungkin saat latihan dan yang lain telah pulang.

Ardi masih tertidur. Nampak nyenyak sekali bahkan ketika aku pura-pura berpaling dan membiarkan tubuh setengah telanjang itu tergeletak di antara kitab-kitab. Aku menatap miris. Entah berapa lama. Sedih pada nasibku, perih sekali. Seperti ada yang menusuk. Tajam sekali mengiris hati.

Ya, Allah… sampai kapan aku harus terus begini? Berikan jalan yang terbaik bagiku, hatiku membatin.

Ah, rasanya aku ingin berhenti dari pesantren ini. Berlari dari kenyataan pahit ini. Tapi aku tak tega pada Bapak. Telah susah payah Bapak membiayaiku hingga aku telah lima tahun di pondok ini. Aku tahu, Bapak membiayai semua ini dengan meminjam uang ke mana-mana. Tak tega rasanya, bila aku memupuskan impiannya begitu saja apalagi aku hanya tinggal satu tahun lagi di sini. Dan aku yakin, ini hanya masalah waktu.

***

“Pidatomu itu bagus sekali. Pantas kamu juara,” puji seorang perempuan. Ia juga utusan pesantren kami dari pondok putri yang kini berada dalam sebuah bis yang sama.

“Terima kasih. Kau juga. Aku yakin seharusnya kau juara satu. Tapi sayang jurinya banyak yang tuli,” jawabku.

Kami tertawa.

“Kau menyindirku?”

“Tidak, aku serius.”

Perempuan itu bernama Shaleha. Entah mengapa aku merasa jatuh hati padanya. Sepanjang perjalanan dari Surabaya ke Sumenep yang lebih dari empat jam itu menjadi tak terasa. Tapi entah mengapa Ardi melirikku berkali-kali. Cemburukah ia padaku?

***

Jumat ini seperti menjadi jumat terakhir bagi kyai kami, ia duduk di antara kami para santrinya. Aku lihat berkali-kali Kyai Mustofa terbatuk-batuk. Banyak yang menduga penyakitnya itu akan membawanya kepada kematian. Sudah banyak isyarat yang ditunjukan kyai, misal saja dengan berkali-kali menyebut agar manjaga pesantren ini.

Semua sudah tahu, kyai anti dokter. Menurutnya, kesembuhan hanya datang dari yang memberi penyakit. Itu sudah menjadi watak Kyai Mustofa. Meski anak-anaknya sudah berkali-kali menganjurkan untuk membawa ke dokter. Tapi Kyai Mustofa bersikeras untuk tidak berobat.

“Anak-anakku…,” suara Kyai Mustofa terpotong dengan batuk-batuknya yang membuat tubuh tua itu bergoncang-goncang. Meski dalam keadaan seperti itu, kyai tampak masih berusaha menjawab pertanyaan santrinya.

“Orang yang baik itu hanya untuk orang baik Nak. Telah jelas dalam surat An-Nur[7] hal itu dipaparkan. Jadi tidak mungkin ada seorang mukmin menikahi seorang pelacur,” terang Kyai Mustofa.

Kami semua menunduk. Termasuk temanku yang bertanya. Mungkin dalam hatinya, segala pikiran tengah berkecamuk sebab temanku itu mencintai seorang yang kini telah hamil tiga bulan karena menjadi pelacur.

“Jika kalian ingin mendapatkan istri yang shalehah, maka kalian harus menjadi seorang yang shaleh terlebih dahulu…” suara kyai terdengar agak serak dan begitu berat. Tak lama kyai mengakhiri ceramahnya pagi itu.

Ketika keluar masjid. Dalam hati kubertanya pada diriku sendiri. Aku bukan orang baik, dapatkah aku mendapatkan istri yang baik?

***

Abah menginginkanku cepat mendapatkan penggantinya. Abah mau, aku cepat menikah. Aku berharap, kamu yang menjadi suamiku.

Demikian kutipan surat yang aku terima saat aku bersiap-siap menyapu halaman kamar yang kotor. Aku terima surat itu dengan segala ketakjubanku. Pertama, surat itu dari Shaleha; perempuan yang mampu menggetarkan hatiku. Kedua, Shaleha adalah anak Kyai Mustofa yang sungguh aku tak mengira sebelumnya. Ketiga, Shaleha memilihku menjadi pendampingnya. Ini lebih dari suatu mimpi yang indah. Aku tak pernah membayangkannya. Tetapi entah mengapa surat itu malah membebani diriku. Sebab, pantaskah aku menjadi suami Shaleha?

Aku ingat pergumulanku dengan Ardi. Aku terlalu hina untuk menjadi seorang suami dari anak kyai. Terlalu hina untuk menjadi generasi penerus dari pesantren yang begitu besar namanya ini. Bukan tidak mampu, tapi aku malu. Malu pada kehinaan yang memeras hatiku hampir dalam setiap sujudku.

Lama aku berpikir. Cinta yang bermekaran di hatiku, harumnya bercampur dengan busuknya diriku. Aku sungguh tak tahan pada keadaan seperti ini. Pada akhirnya aku memutuskan salah satu keputusan terberat dalam hidupku. Menolak tawaran Shaleha.

***

Aku sungguh tak mengira kalau pada akhirnya Shaleha memilih Ardi untuk menjadi suaminya sedang Ardi begitu bangga bercerita padaku.

“Kyai Mustofa memanggilku. Ia berniat menjodohkanku dengan Shaleha,” terang Ardi. Aku muak mendengar kata-kata itu. Aku menatap Ardi dengan tatapan yang begitu benci.

“Mengapa? Kau cemburu?” nada suaranya seperti mengejekku.

“Tenang saja. Aku akan tetap mencintaimu,” bisiknya di telingaku. Aku geram. Sangat geram dan ingin menghajar mukanya.

“Kau itu tak pantas untuk Shaleha!” bentakku padanya. Tapi Ardi malah tersenyum dan pergi meninggalkanku seperti tak mendengar kata-kataku.

Aku segera menghubungi Shaleha.

“Kau ingin menikah dengan Ardi?” tanyaku.

“Iya,” jawabnya di seberang telfon sana.

“Kau jangan pilih dia. Pilih saja yang lain. Ada banyak lelaki yang lebih baik dari dirinya. Jangan pilih Ardi!” terangku berusaha menyakinkan Shaleha.

“Memang kenapa?” tanyanya heran.

“Dia itu…,” aku ragu ingin mengungkapkan semua kehinaan ini.

“Dia itu apa?” Shaleha mendesakku. “Dia itu lebih baik darimu bukan? Kau bahkan tak peduli pada nasibku,” Shaleha terdengar terisak.

“Bukan itu masalahnya.”

“Lantas apa? Aku tak butuh penjelasanmu.”

Telfon ditutup. Aku berusaha menghubungi kembali tapi tak diangkat. Aku putus asa.

***

“Ardi itu begitu beruntung mendapatkan Shaleha. Anak Kyai Mustofa itu selain cantik, juga sangat pintar,” ujar salah seorang temanku, entah siapa.

“Tapi Ardi itu memang yang terbaik di pesantren ini. Ardi memang yang paling pantas mendapatkannya,” ujar yang lain.

“Tentu saja karena dia yang paling pintar dan paling layak dipanggil Kyai.”

Entah mengapa hatiku menjadi begitu sesak. Aku ingin berteriak. Ingin sekencang-kencangnya. Agar semua orang tahu bahwa Ardi itu tidak lebih dari kaum Nabi Luth! Seorang homo yang hanya suka pada lelaki.***

Catatan:

Cerpen ini merupakan cerpen karya Syarif Hidayatullah yang meraih juara I dalam Lomba Menulis Cerita Pendek Antar Mahasiswa Se-Indonesia yang diselenggarakan oleh STAIN Purwokerto Tahun 2010. Diterbitkan dalam antologi cerpen Bukan Perempuan (Yogyakarta: Obsesi Press, 2010) dan dimuat kembali dalam antologi tunggal bertajuk Bukan Perempuan (Jakarta: Qalam Media Group, 2011).

[1] Predikat setara dengan cumlude dari bahasa Arab

[2] Dimana hisan

[3] Aku tak tahu

[4] Tidak ada. Dalam bahasa arab penggunaan kata ini tidak tepat karena tidak memiliki kaedah yang benar

[5] Menerima tamu

[6] Kantor (bahasa Arab)

[7] Lihat ayat tiga. Berikut kutipan artinya: Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.

 

Gelang

Kalau bukan dipaksa mertuanya, mungkin Farah tak akan pernah datang ke tempat pengajian ini. Lihat saja, semuanya hanya ibu-ibu yang mungkin menginjak umur lanjut usia. Tapi, baginya menghormati permintaan mertua sama saja menghormati kedua orang tuanya. Tentu saja, karena ia masih ingat betul bagaimana kedua orang tuanya menyerahkan dirinya kepada Bu Asih, orang tua Jamal, lelaki yang dikasihinya itu.

Beberapa hari terakhir ini memang Bu Asih sakit, badan Bu Asih panas dan mukanya tampak begitu pucat. Makanya kemudian Farahlah yang disuruh hadir untuk datang ke Majlis Taklim.

Baginya, pengajian Majlis Taklim tak jauh berbeda dengan arisan. Hanya saja, ibu-ibu itu masih mengaji Al-Quran dan sesekali mendengarkan ceramah ustadz maupun ustadzah yang sengaja diundang. Karena jauh di luar itu, ibu-ibu itu selalu saja memamerkan dirinya atau mungkin keluarganya.

“Anak saya baru diterima di UI lho!” ujar seseorang.

“Gaji anak saya sebulan bisa tiga juta. Bayangkan Bu? Sebulannya saya dikasih lima ratus ribu, enak tidak Bu?” lanjut yang lain tak kalah sengitnya.

“Biar hanya mantu, Kasim itu berbakti sekali padaku, tak jarang ia memberikan sepatu atau baju baru,” kata yang lain.

Kalau sudah begini Farah jadi pusing. Makanya ia tak mau ambil bagian dalam omongan-omongan yang tak sesuai dengan forumnya ini. Setidaknya, bukankah ini Majlis Taklim? Seharusnya kita menuntut ilmu bukan malah menelanjangi ilmu yang kita dapat dengan mengumbar riya, ujub atau bahkan ghibah seperti yang ibu-ibu pengajian itu lakukan. Farah menjadi begitu muak.

Namun, akhirnya Farah tidak tahan dengan Bu Haji yang duduk di sampingnya itu, sejak awal Farah mengaji, ia tak henti memamerkan gelangnya.

“Ini harganya mahal lo Bu! Masnya murni, dari Mekkah al-mukarromah pula. Coba lihat Bu!” ujarnya terus. Farah masih tak menggubrisnya.

Namun, Bu Haji itu seakan tak patah arang begitu saja. Ia masih saja terus menyerocos.

“Ini dari calon memantu saya. Wah, calon menantu saya itu bukan main tampannya, baik hati pula.”

Farah mulai tidak tahan, ia pun memandang gelang emas yang sedari tadi diperlihatkan di hadapannya itu. Bu Haji tampak puas, tapi kemudian kecewa setelah Farah berkata.

“Saya tahu, itu gelang mahal. Saya percaya pada Ibu, calon mantu ibu tampan. Tapi ingat lho Bu! Tak semua yang mahal itu bagus dan tak semuanya yang indah itu di dalamnya mutiara.”

Mungkin karena merasa terseinggung, Bu Haji langsung pergi meninggalkannya dengan muka masam. Farah hanya tersenyum memandangnya. Dalam hati Farah merasa sungkan karena telah berkata sedemikian kasarnya. Farah jadi merasa bersalah. Tapi akhirnya farah memutuskan untuk kembali melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda beberapa saat tadi, yakni malafalkan kalam Allah.

***

Minggu yang lalu Farah sengaja tak hadir ke Majlis Taklim, penyakit Bu Asih semakin parah, berkali-kali orang tua itu mengeluarkan isi dalam perutnya. Tampak begitu payah sekali keadaan Bu Asih sehingga untuk meninggalkan barang sejenak pun Farah tidak tega. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk tidak mengaji minggu lalu.

Karena Bu Asih masih sakit, tetapi tak terlalu parah seperti minggu lalu, maka Farah akhirnya memutuskan kembali mengaji. Namun, sesampainya di Majlis Taklim, ibu-ibu memandang aneh ke arah diri Farah. Entah apa yang terjadi. Namun seperti biasa Farah tetap tak peduli hingga pada akhirnya seorang ibu yang Farah kenal cukup akrab datang menghampirinya.

“Kamu mencuri gelang?” tanyanya pelan.

“Mencuri?” Farah malah balik bertanya seakan tidak percaya.

“Bu Haji menuduhmu mencuri! Karena tidak ada yang tahu gelang itu, selain kamu!” ujarnya lagi.

Farah malah memandangnya heran. Bagaimana aku bisa mencuri? Untuk apa aku mencuri? Gaji suamiku sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi hasil menulisku, tentu saja menambah pemasukan keluarga. Kalaupun kemarin mertuaku harus banyak ke dokter. Semua biayanya hasil dari honorarium menulisku cukup menutupinya. Lantas untuk apa aku mencuri? Ujar Farah dalam hati.

“Jangan dekat-dekat. Ada pencuri!” bisik seseorang yang mungkin sengaja agak dikeraskan agar Farah mendengar bisikan itu. Namun Farah berusaha tak menggubrisnya.

“Awas gelangmu nanti hilang,” ujar yang lain, suara itu terdengar sama seperti suara yagn lain.

“Mungkin juga kalungmu,” ujar yang lain menimpali.

“Hati-hatilah,” lanjut yang lain.

Bisik-bisik para ibu di Majlis Taklim itu pada akhirnya menyakiti perasaan Farah. Ingin sekali Farah menjelaskan, namun mereka seakan tak peduli dan memandang sinis terlebih dahulu. Ya Allah bantulah hambamu ini menjelaskan semua ini, ujar Farah di dalam hati.

Ia pandang Bu Haji yang baru masuk, namun Bu Haji tak segera menghampirinya. Menurut cerita tetangga yang kini duduk di sampingnya itu, kemarin ia teriak-teriak menyebut nama Farah, sambil mencak-mencak bahwa Farahlah yang mencuri gelang seharga tiga juta setengah itu.

Namun entah mengapa kini Bu Haji malah duduk memojok dan tak berkata sedikitpun. Mungkin Bu Haji malu karena kehadiran Farah. Tentu saja Farah dapat membaca itu di raut wajahnya yang tadi sempat berbenturan. Tapi kenapa malu? Apakah dia sudah tahu hal yang sebenarnya terjadi bahwa gelang itu bukan Farah yang mencurinya? Kalau hal itu terjadi, Farah amat bersyukur. Terlebih ia tidak mau Bu Asih mendengar perkara ini, karena bisa saja hal ini membuat sakit Bu Asih bertambah parah, hal itulah yang tidak diinginkan Farah.

Seorang ustadzah yang diundang sudah memulai ceramahnya. Suaranya menggaung ke seluruh penjuru ruangan. Namun, tetap saja sebagian ibu-ibu masih saja asyik menceritakan cincin barunya, kerudung indahnya, cucu-cucunya yang cantik dan pintar dan entah masih banyak lagi yang lainnya. Semakin banyak Farah mendengarnya, semakin mual ia pada mereka.

“Hendaknya kita menjaga mulut kita. Semakin banyak kita bicara, bisa saja semakin banyak dosa kita. Kenapa saya bilang demikian? Sebab saat ini, banyak yang kita ucapkan adalah kesombongan, kebohongan atau bahkan fitnah maupun ghibah. Ingat Bu! Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,” ujar ustadzah itu membungkam mulut ibu-ibu yang sedari tadi bicara. Sebagian mungkin merasa tersinggung dan bersalah, sehingga tertunduk begitu saja setelah mendengar kata-kata itu. Kata-kata ustadzah tadi tidak ubahnya seperti mata pisau yang telak menusuk ulu hati mereka.

“Bukan mustahil, mulut kitalah yang pada akhirnya membawa kita ke neraka. Ingat, ke nerakah! Untuk itu, marilah jaga mulut kita! Ucapkanlah kalimat thoyyibah, biar berbuah pahala. Karena mulut pulalah yang bahkan kelak dapat membawa kita ke surga!” lanjut ustadzah itu.

Ibu-ibu masih diam. Khusuk mendengarkan. Tanpa sengaja Farah memandang Bu Haji. Di pipi perempuan tambun itu penuh air mata. Entah apa yang terjadi padanya hingga pipinya menjadi begitu basah, melunturkan bedak tebalnya. Namun Farah berusaha tak menggubris kejadian itu, Farah memfokuskan diri untuk mendengarkan kembali kata-kata ustadzah sambil sesekali berdoa semoga dirinyalah salah satu penghuni surga-Nya. Karena tujuan hidup adalah ibadah dan jalan satu-satunya menuju surga adalah ibadah. Farah berdecak kagum dengan ustadzah itu, mudah-mudahan mampu menyadarkan ibu-ibu di sini.

***

Pertemuan selanjutnya, Farah tak melihat Bu Haji datang ke Majlis Taklim. Namun, tetap saja pengajian ini ramai dengan perkataan-perkataan yang tak Farah harapkan. Farah hanya mengaji di sudut seperti biasa. Hingga akhirnya Farah mendengar kisah Bu Haji dari mulut tetangganya.

“Kau tak bersalah,” ujarnya mengawali pembicaraan.

“Memang ada apa?” tanya Farah kembali.

Kemudian tetangga itu bercerita tentang Bu Haji yang tertipu oleh calon mantunya itu. Ternyata yang mencuri gelang adalah calon mantunya, atau mungkin tepatnya mengambilnya kembali setelah ia juga mencuri beberapa cincin dan gelang emas milik Bu Haji. Selain itu, sekitar tiga juta lebih uangnya juga ikut amblas.

Farah seperti tak lagi mendengar kata-kata tetangganya itu, ia hanya mengingat kembali bagaimana air mata Bu Haji jatuh. Apakah air mata itu yang kelak membawa Bu Haji ke surga?

Entahlah, Farah hanya membaca kembali kalam-Nya, semakin dalam ia membaca, semakin teguh ia menjadi alif-Nya.