Feeds:
Pos
Komentar

Gelang

Kalau bukan dipaksa mertuanya, mungkin Farah tak akan pernah datang ke tempat pengajian ini. Lihat saja, semuanya hanya ibu-ibu yang mungkin menginjak umur lanjut usia. Tapi, baginya menghormati permintaan mertua sama saja menghormati kedua orang tuanya. Tentu saja, karena ia masih ingat betul bagaimana kedua orang tuanya menyerahkan dirinya kepada Bu Asih, orang tua Jamal, lelaki yang dikasihinya itu.

Beberapa hari terakhir ini memang Bu Asih sakit, badan Bu Asih panas dan mukanya tampak begitu pucat. Makanya kemudian Farahlah yang disuruh hadir untuk datang ke Majlis Taklim.

Baginya, pengajian Majlis Taklim tak jauh berbeda dengan arisan. Hanya saja, ibu-ibu itu masih mengaji Al-Quran dan sesekali mendengarkan ceramah ustadz maupun ustadzah yang sengaja diundang. Karena jauh di luar itu, ibu-ibu itu selalu saja memamerkan dirinya atau mungkin keluarganya.

“Anak saya baru diterima di UI lho!” ujar seseorang.

“Gaji anak saya sebulan bisa tiga juta. Bayangkan Bu? Sebulannya saya dikasih lima ratus ribu, enak tidak Bu?” lanjut yang lain tak kalah sengitnya.

“Biar hanya mantu, Kasim itu berbakti sekali padaku, tak jarang ia memberikan sepatu atau baju baru,” kata yang lain.

Kalau sudah begini Farah jadi pusing. Makanya ia tak mau ambil bagian dalam omongan-omongan yang tak sesuai dengan forumnya ini. Setidaknya, bukankah ini Majlis Taklim? Seharusnya kita menuntut ilmu bukan malah menelanjangi ilmu yang kita dapat dengan mengumbar riya, ujub atau bahkan ghibah seperti yang ibu-ibu pengajian itu lakukan. Farah menjadi begitu muak.

Namun, akhirnya Farah tidak tahan dengan Bu Haji yang duduk di sampingnya itu, sejak awal Farah mengaji, ia tak henti memamerkan gelangnya.

“Ini harganya mahal lo Bu! Masnya murni, dari Mekkah al-mukarromah pula. Coba lihat Bu!” ujarnya terus. Farah masih tak menggubrisnya.

Namun, Bu Haji itu seakan tak patah arang begitu saja. Ia masih saja terus menyerocos.

“Ini dari calon memantu saya. Wah, calon menantu saya itu bukan main tampannya, baik hati pula.”

Farah mulai tidak tahan, ia pun memandang gelang emas yang sedari tadi diperlihatkan di hadapannya itu. Bu Haji tampak puas, tapi kemudian kecewa setelah Farah berkata.

“Saya tahu, itu gelang mahal. Saya percaya pada Ibu, calon mantu ibu tampan. Tapi ingat lho Bu! Tak semua yang mahal itu bagus dan tak semuanya yang indah itu di dalamnya mutiara.”

Mungkin karena merasa terseinggung, Bu Haji langsung pergi meninggalkannya dengan muka masam. Farah hanya tersenyum memandangnya. Dalam hati Farah merasa sungkan karena telah berkata sedemikian kasarnya. Farah jadi merasa bersalah. Tapi akhirnya farah memutuskan untuk kembali melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda beberapa saat tadi, yakni malafalkan kalam Allah.

***

Minggu yang lalu Farah sengaja tak hadir ke Majlis Taklim, penyakit Bu Asih semakin parah, berkali-kali orang tua itu mengeluarkan isi dalam perutnya. Tampak begitu payah sekali keadaan Bu Asih sehingga untuk meninggalkan barang sejenak pun Farah tidak tega. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk tidak mengaji minggu lalu.

Karena Bu Asih masih sakit, tetapi tak terlalu parah seperti minggu lalu, maka Farah akhirnya memutuskan kembali mengaji. Namun, sesampainya di Majlis Taklim, ibu-ibu memandang aneh ke arah diri Farah. Entah apa yang terjadi. Namun seperti biasa Farah tetap tak peduli hingga pada akhirnya seorang ibu yang Farah kenal cukup akrab datang menghampirinya.

“Kamu mencuri gelang?” tanyanya pelan.

“Mencuri?” Farah malah balik bertanya seakan tidak percaya.

“Bu Haji menuduhmu mencuri! Karena tidak ada yang tahu gelang itu, selain kamu!” ujarnya lagi.

Farah malah memandangnya heran. Bagaimana aku bisa mencuri? Untuk apa aku mencuri? Gaji suamiku sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi hasil menulisku, tentu saja menambah pemasukan keluarga. Kalaupun kemarin mertuaku harus banyak ke dokter. Semua biayanya hasil dari honorarium menulisku cukup menutupinya. Lantas untuk apa aku mencuri? Ujar Farah dalam hati.

“Jangan dekat-dekat. Ada pencuri!” bisik seseorang yang mungkin sengaja agak dikeraskan agar Farah mendengar bisikan itu. Namun Farah berusaha tak menggubrisnya.

“Awas gelangmu nanti hilang,” ujar yang lain, suara itu terdengar sama seperti suara yagn lain.

“Mungkin juga kalungmu,” ujar yang lain menimpali.

“Hati-hatilah,” lanjut yang lain.

Bisik-bisik para ibu di Majlis Taklim itu pada akhirnya menyakiti perasaan Farah. Ingin sekali Farah menjelaskan, namun mereka seakan tak peduli dan memandang sinis terlebih dahulu. Ya Allah bantulah hambamu ini menjelaskan semua ini, ujar Farah di dalam hati.

Ia pandang Bu Haji yang baru masuk, namun Bu Haji tak segera menghampirinya. Menurut cerita tetangga yang kini duduk di sampingnya itu, kemarin ia teriak-teriak menyebut nama Farah, sambil mencak-mencak bahwa Farahlah yang mencuri gelang seharga tiga juta setengah itu.

Namun entah mengapa kini Bu Haji malah duduk memojok dan tak berkata sedikitpun. Mungkin Bu Haji malu karena kehadiran Farah. Tentu saja Farah dapat membaca itu di raut wajahnya yang tadi sempat berbenturan. Tapi kenapa malu? Apakah dia sudah tahu hal yang sebenarnya terjadi bahwa gelang itu bukan Farah yang mencurinya? Kalau hal itu terjadi, Farah amat bersyukur. Terlebih ia tidak mau Bu Asih mendengar perkara ini, karena bisa saja hal ini membuat sakit Bu Asih bertambah parah, hal itulah yang tidak diinginkan Farah.

Seorang ustadzah yang diundang sudah memulai ceramahnya. Suaranya menggaung ke seluruh penjuru ruangan. Namun, tetap saja sebagian ibu-ibu masih saja asyik menceritakan cincin barunya, kerudung indahnya, cucu-cucunya yang cantik dan pintar dan entah masih banyak lagi yang lainnya. Semakin banyak Farah mendengarnya, semakin mual ia pada mereka.

“Hendaknya kita menjaga mulut kita. Semakin banyak kita bicara, bisa saja semakin banyak dosa kita. Kenapa saya bilang demikian? Sebab saat ini, banyak yang kita ucapkan adalah kesombongan, kebohongan atau bahkan fitnah maupun ghibah. Ingat Bu! Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,” ujar ustadzah itu membungkam mulut ibu-ibu yang sedari tadi bicara. Sebagian mungkin merasa tersinggung dan bersalah, sehingga tertunduk begitu saja setelah mendengar kata-kata itu. Kata-kata ustadzah tadi tidak ubahnya seperti mata pisau yang telak menusuk ulu hati mereka.

“Bukan mustahil, mulut kitalah yang pada akhirnya membawa kita ke neraka. Ingat, ke nerakah! Untuk itu, marilah jaga mulut kita! Ucapkanlah kalimat thoyyibah, biar berbuah pahala. Karena mulut pulalah yang bahkan kelak dapat membawa kita ke surga!” lanjut ustadzah itu.

Ibu-ibu masih diam. Khusuk mendengarkan. Tanpa sengaja Farah memandang Bu Haji. Di pipi perempuan tambun itu penuh air mata. Entah apa yang terjadi padanya hingga pipinya menjadi begitu basah, melunturkan bedak tebalnya. Namun Farah berusaha tak menggubris kejadian itu, Farah memfokuskan diri untuk mendengarkan kembali kata-kata ustadzah sambil sesekali berdoa semoga dirinyalah salah satu penghuni surga-Nya. Karena tujuan hidup adalah ibadah dan jalan satu-satunya menuju surga adalah ibadah. Farah berdecak kagum dengan ustadzah itu, mudah-mudahan mampu menyadarkan ibu-ibu di sini.

***

Pertemuan selanjutnya, Farah tak melihat Bu Haji datang ke Majlis Taklim. Namun, tetap saja pengajian ini ramai dengan perkataan-perkataan yang tak Farah harapkan. Farah hanya mengaji di sudut seperti biasa. Hingga akhirnya Farah mendengar kisah Bu Haji dari mulut tetangganya.

“Kau tak bersalah,” ujarnya mengawali pembicaraan.

“Memang ada apa?” tanya Farah kembali.

Kemudian tetangga itu bercerita tentang Bu Haji yang tertipu oleh calon mantunya itu. Ternyata yang mencuri gelang adalah calon mantunya, atau mungkin tepatnya mengambilnya kembali setelah ia juga mencuri beberapa cincin dan gelang emas milik Bu Haji. Selain itu, sekitar tiga juta lebih uangnya juga ikut amblas.

Farah seperti tak lagi mendengar kata-kata tetangganya itu, ia hanya mengingat kembali bagaimana air mata Bu Haji jatuh. Apakah air mata itu yang kelak membawa Bu Haji ke surga?

Entahlah, Farah hanya membaca kembali kalam-Nya, semakin dalam ia membaca, semakin teguh ia menjadi alif-Nya.

 

Pendahuluan

Kemampuan berbahasa adalah kemampuan menggunakan bahasa. Kemampuan itu terlihat di dalam empat aspek keterampilan. Keempat aspek itu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Kemampuan mendengarkan dan membaca disebut kemamampuan reseptif sedangkan kemampuan berbicara dan menulis dinamakan kemampuan produktif. Kemampuan reseptif dan kemampuan produktif dalam berbahasa merupakan dua sisi yang saling mendukung, saling mengisi, dan saling melengkapi. Seseorang yang ingin mengembangkan kemampuan berbicara dan menulis, mestilah banyak mendengar dan membaca.

 

Menulis termasuk aspek kegiatan berbahasa yang dianggap sulit. Hal itu dikeluhkan oleh banyak orang. Peserta didik di pendidikan dasar dan menengah, mahasiswa di pendidikan tinggi, dan bahkan orang-orang yang sudah menamatkan perguruan tinggi pun mengeluhkan sulitnya menulis. Akibat keluhan itu akhirnya menjadi opini umum, bahwa menulis itu memang sulit. Apakah memang menulis itu sulit? Inilah pertanyaan yang perlu dijawab sebenarnya.[1]

Menulis seperti halnya kegiatan berbahasa lainnya, merupakan keterampilan. Setiap keterampilan hanya akan diperoleh melalui berlatih. Berlatih secara sistematis, terus menerus, dan penuh disipilin merupakan resep yang selalu disarankan oleh praktisi untuk dapat atau terampil menulis. Tentu saja bekal untuk berlatih bukan hanya sekedar kemauan, melainkan juga ada bekal lain yang perlu dimiliki. Bekal lain itu adalah pengetahuan, konsep, prinsip, dan prosedur yang harus ditempuh dalam kegiatan menulis. Jadi, ada dua hal yang diperlukan untuk mencapai ketrampilan menulis yakni pengetahuan tentang tulis-menulis dan berlatih untuk menulis karena menulis merupakan sebuah keterampilan berbahasa yang terpadu, yang ditujukan untuk menghasilkan sesuatu yang disebut tulisan.

 

Menulis bukan pekerjaan yang sulit melainkan juga tidak mudah. Untuk memulai menulis, setiap penulis tidak perlu menunggu menjadi seorang penulis yang terampil. Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untuk mempraktikkannya tidak cukup sekali dua kali. Frekuensi latihan menulis akan menjadikan seseorang terampil dalam bidang tulis-menulis.[2]

Sebagai motivasi bahwa orang-orang yang sukses dari aktivitas menulis cukup baanyak, sebagai contoh JK Rowlin, seorang janda miskin yang saat ini telah menjadi orang paling kaya nomer 3 di dunia karena novelnya laris di pasaran. Kemudian Margaret Mitchell menulis hanya sekali seumur hidupnya, yaitu Gone with the Wind, suatu karya sastra yang spektakuler. Bahkan Margaret Mitchell memulai menulis novel itu ketika usia 50 tahun.

Dengan menulis kita meninggalkan monumen dalam kehidupan ini bahkan ketika kita menulis karya kita akan abadi walau kita telah meninggal dunia. Untuk itu saat ini mulai dengan memiliki buku catatan yang mencatat hal-hal menarik yang kita temui di jalan, di kantor atau di rumah. Langkah berikutnya mencoba mengelola emosi kepada teman, dosen, atasan maupun pasangan dalam bentuk kalimat, puisi  maupun prosa. Maka kita akan terbiasa untuk menulis dan mengasah ketajaman kemampuan menulis kita.

Pengertian

 Menurut Jago Tarigan (1995:117) menulis berarti mengekpresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan. Sarana mewujudkan hal itu adalah bahasa. Isi ekspresi melalui bahasa itu akan dimegerti orang lain atau pembaca bila dituangkan dalam bahasa yang teratur, sistematis, sederhana, dan mudah dimengerti. Menulis bukan sesuatu yang diperoleh secara spontan, tetapi memerlukan usaha sadar “menuliskan” kalimat dan mempertimbangkan cara mengkomunikasikan dan mengatur (Donn Byrne,1988:1)

Sejalan dengan itu, menurut Lado (1964:14) menulis adalah meletakkan simbol grafis yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain. Jadi, orang lain dapat membaca simbol grafis itu, jika mengetahui bahwa itu menjadi bagian dari ekspresi bahasa. SemI (1990:8)juga mengatakan bahwa menulis pada hakikatnya merupakan pemindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang bahasa.

Menurut Gere (1985:4), menulis dalam arti komunikasi ialah menyampaikan pengetahuan atau informasi tentang subjek. Menulis berarti mendukung ide. Byrne (1988: 1), mengatakan bahwa menulis tidak hanya membuat satu kalimat atau hanya beberapa hal yang tidak berhubungan, tetapi menghasilkan serangkaian hal yang teratur, yang berhubungan satu dengan yang lain, dan dalam gaya tertentu. Rangkaian kalimat itu bisa pendek, mungkin hanya dua atau tiga kalimat, tetapi kalimat itu diletakkan secara teratur dan berhubungan satu dengan yang lain, dan berbentuk kesatuan yang masuk akal. Crimmon (1984.191), berpendapat bahwa menulis adalah kerja keras, tetapi juga merupakan kesempatan untuk menyampaikan sesuatu tentang diri sendiri mengkomunikasikan gagasan kepada orang lain, bahkan dapat mempelajari sesuatu yang belum diketahui.

Lebih lanjut Rusyana (1984:191), memberikan batasan bahwa kemampuan menulis atau mengarang adalah kemampuan menggunakan pola-pola bahasa dalam tampilan tertulis untuk mengungkapkan gagasan atau pesan. Kemampuan menulis mencakup berbagai kemampuan, seperti kemampuan menguasai gagasan yang dikemukakan, kemampuan menggunakan unsur-unsur bahasa, kemampuan menggunakan gaya, dan kemampuan menggunakan ejaan serta tanda baca.[3]

Dengan demikian maka menulis merupakan suatu proses kreatif yang banyak melibatkan cara berpikir divergen (menyebar) daripada konvergen (memusat) (Supriadi, 1997). Menulis tidak ubahnya dengan melukis. Penulis memiliki banyak ide, gagasan, pendapat, pikiran, perasaan, serta obsesi yang akan dituliskannya. Walaupun secara teknis ada kriteria-kriteria yang dapat diikutinya, tetapi wujud yang akan dihasilkan itu sangat bergantung pada kepiawaian, imajinasi, dan kreativitas penulis dalam mengungkapkan gagasan. Jadi, keterampilan menulis adalah salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang mesti dimiliki dan dikuasai oleh seorang guru bahasa, karena keterampilan ini merupakan keterampilan yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana keterampilan lainnya yaitu menyimak, berbicara, dan membaca.

 

Tujuan Pembelajaran Menulis

Tujuan pengajaran setiap mata pelajaran dapat diklasifikasikan atas tiga aspek, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Setiap mata pelajaran atau bagiannya tentu saja memiliki karakteristik yang berbeda. Titik berat tujuannya pun juga berbeda-beda. Mata pelajaran bahasa Indonesia misalnya dapat menitikberatkan pada keterampilan tanpa mengabaikan segi kognitif dan afektifnya.

Pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan diharapkan: (1) siswa dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbukan penghargaan terhadap hasil karya dan hasil intelektual bangsa sendiri, (2) guru dapat memusatkan perhatian pada pengembangan kompetensi bahasa siswa dengan menyediakan keragaman kegiatan berbahasa dan sumber belajar, (3) guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan siswanya, (4) orang tua dan masyarakat terlibat secara aktif dalam pelaksanaan program di sekolah, (5) sekolah dapat menyusun program pendidikan sesuai dengan keadaan siswa dan sumber belajar sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah/sekolah.

Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia (termasuk di dalamnya pembelajaran menulis) di SD berdasarkan standar isi adalah agar peserta didik memiliki kemampuan :

  1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
  2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara
  3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
  4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan  intelektual, serta kematangan emosional dan sosial
  5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
  6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Dalam standar kompetensi lulusan Sekolah Dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia pada aspek menulis, diharapkan peserta didik memiliki kompetensi melakukan berbagai jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk, surat, pengumuman, dialog, formulir, teks pidato, laporan, ringkasan, parafrase, serta berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun.

Tujuan Menulis

 

Seseorang termotivasi menulis salah satunya karena memiliki tujuan objektif yang harus dipertanggungjawabkan kepada publik atau pembacanya.Karena tulisan adalah sarana komunikasi yang efektif dapat menjangkau masa yang lebih luas. Maka tujuan menulis adalah sebagai berikut.

 

  1. Menginformasikan segala sesuatu, baik itu fakta, data maupun peristiwa termasuk pendapat dan pandangan terhadap fakta, data dan peristiwa agar khalayak pembaca memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru tentang berbagai hal yang dapat terjadi di muka bumi ini.
  2. Membujuk; melalui tulisan seorang penulis mengharapkan pula pembaca dapat menentukan sikap, apakah menyetujui atau mendukung yang dikemukakan. Penulis harus mampu membujuk dan meyakinkan pembaca dengan menggunakan gaya bahasa yang persuasif. Oleh karena itu, fungsi persuasi dari sebuah tulisan akan dapat menghasilkan apabila penulis mampu menyajikan dengan gaya bahasa yang menarik, akrab, bersahabat, dan mudah dicerna.
  3. Mendidik adalah salah satu tujuan dari komunikasi melalui tulisan. Melalui membaca hasil tulisan wawasan pengetahuan seseorang akan terus bertambah, kecerdasanterus diasah, yang pada akhirnya akan menentukan perilaku seseorang. Orang-orang yang berpendidikan misalnya, cenderung lebih terbuka dan penuh toleransi, lebih menghargai pendapat orang lain, dan tentu saja cenderung lebih rasional.
  4. Menghibur; fungsi dan tujuan menghibur dalam komunikasi, bukan monopoli media massa, radio, televisi, namun media cetak dapat pula berperan dalam menghibur khalayak pembacanya. Tulisan-tulisan atau bacaanbacaan “ringan” yang kaya dengan anekdot, cerita dan pengalaman lucu bisa pula menjadi bacaan penglipur lara atau untuk melepaskan ketegangan setelah seharian sibuk beraktifitas.
  5. Seorang guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang menulis. Karena menulis merupakan keterampilan produktif dan ekpresif. Konsep dasar dan tujuan menulis menjadi salah satu faktor pembelajaran bahasa. Demikan juga halnya seorang guru, agar pembelajaran menulis bahasa Indonesia di kelas dapat meningkat, salah satu caranya adalah guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang konsep dan tujuan menulis.

 

Manfaat Menulis
Kemampuan menulis diperlukan semua lapangan pekerjaan. Misalnya seorang dokter perlu menuliskan resep obat bagi pasiennya. Seorang polisi perlu menuliskan detil suatu insiden berupa sebuah laporan penyelidikan atau introgasi untuk digunakan dalam persidangan. Seorang sekretaris perlu menuliskan surat atau laporan untuk disimpulkan kepada pemimpin perusahaan. Seorang direktur perlu menuliskan memori, hasil evaluasi, atau instruksi. Seorang kontraktor perlu menuliskan suatu perincian dana pembangunan sebuah pekerjaan secara lengkap dan teliti agar mendapatkan kesempatan memenangkan suatu tender proyek. Sampai munculnya pendapat bahwa keberhasilan suatu jabatan atau pekerjaan ditenttukan oleh kemampuan yang bersangkutan berkomunikasi secara efektif, khususnya komunikasi tulis. Adapun manfaat menulis dapat kita lihat dari berbagai segi yaitu.

  1. Secara psikologis menulis sangat bermanfaat dan bisa membuat kita sehat bahkan mampu membuat kita untuk mampu mengontrol diri. Melepaskan segala persoalan hidup.
  2. Secara metodologis menulis bermanfaat untuk melatih kita berpikir secara teratur untuk melakukan suatu tindakan yang sesuai yang dikehendaki, bahkan untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
  3. Secara filosofis bermanfaat untuk melatih kita berpikir secara radikal atau berpikir secara mendalam.
  4. Secara pendidikan mampu mempengaruhi kita untuk melakukan proses belajar. Maka sesering kali kita menulis atau seberapa banyak kita menulis, maka sesering itu pula kita telah melakukan proes pendidikan atau proses belajar.

 

Berdasarkan hal tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa manfaat keterampilan menulis dari berbagai segi dan bidang pekerjaan sangat dibutuhkan oleh seseorang, apalagi bagi seorang guru. Untuk itu, perlu diperhatikan bahwa sekurang-kurangnya, ada tiga komponen yang tergabung dalam perbuatan menulis, yaitu: (1) penguasaan bahasa tulis, yang akan berfungsi sebagai media tulisan, meliputi: kosakata, struktur kalimat, paragraf, ejaan, pragmatik, dan sebagainya; (2) penguasaan isi karangan sesuai dengan topik yang akan ditulis; dan (3) penguasaan tentang jenis-jenis tulisan, yaitu bagaimana merangkai isi tulisan dengan menggunakan bahasa tulis sehingga membentuk sebuah komposisi yang diinginkan, seperti esai, artikel, cerita pendek, makalah, dan sebagainya.

Meningkatkan Keterampilan Menulis

Untuk meningkatkan keterampilan menulis di kalangan pelajar, perlu diketahui faktor penyebab menurunnya kemampuan menulis, di antaranya:

a) Faktor Internal (dari dalam) yaitu faktor yang berasal dari diri kita sendiri atau timbul secara spontan dari hati nurani kita.

Macam-macam faktor internal yang mempengaruhi keterampilan menulis yaitu:
1) Kurangnya minat menulis para pelajar
2) Kesulitan menuangkan ide
3) Malas membaca, jika seseorang sudah tidak tertarik untuk membaca maka sulit

b) Faktor Eksternal (dari luar) yaitu faktor yang berasal dari luar atau lingkungan sekitar. Kita sebagai makhluk sosial tidak akan lepas dari interaksi dengan sesama,baik langsung maupun dengan alat komunikasi lainnya seperti: handphone,surat,

Upaya-upaya meningkatkan keterampilan menulis

Untuk meningkatkan keterampilan menulis sebenarnya tidak sulit, tetapi hanya membutuhkan ketelatenan dan kiat-kiat, diantaranya :

  1. harus banyak membaca. Karena dengan membaca kita dapat menuangkan ide-ide yang kita miliki ke dalam sebuah karya.
  2. Melatih kemampuan menulis agar dapat menghasilkan karya yang baik dan benar.
  3. Mempelajari kaidah-kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan mempelajari kaidah-kaidah penulisan tersebut kita dapat memahaminya dan bisa langsung mempraktekannya ke dalam tulisan yang kita buat.
  4. Mempublikasikan hasil tulisan yang kita buat, seperti media elektronik dan cetak. Agar kita dapat mengetahui seberapa besar kemampuan kita.
  5. Selalu percaya diri dengan apa yang kita tulis. Jika kita tidak percaya dengan apa yang kita tulis maka kita tidak akan puas dengan hasilnya.

Selain itu, ada enam jurus yang bisa dilakukan agar seseorang semakin terampil menulis dan piawai merangkai kata. Berikut ini enam jurus yang bisa dipraktekkan.

Pertama, punya tradisi membaca buku.

Pater Bolsius SJ, seperti dikutip Wishnubroto Widarso dalam bukunya Pengalaman Menulis Buku Non-Fiksi pernah berucap, “If you don’t read, you don’t write”. Jikalau engkau tak (punya kebiasaan) membaca, engkau tak bisa menulis.

Jose Daniel Parera dalam Konggres Bahasa ke-5 di Jakarta mengatakan, banyak-banyaklah Anda membaca, biarkan ia mengendap dalam benak Anda, suatu saat pemahaman Anda semakin luas, dan akan tiba saatnya Anda harus menulis.

Hernowo, dalam bukunya Mengikat Makna menyatakan, ibarat Anda buang hajat besar lantaran kekenyangan, seseorang akan gampang mengungkapkan apa saja yang diingininya lewat tulisan. Jadi, membacalah sebanyak-banyaknya, suatu ketika hasrat menulis akan timbul pada diri Anda secara alami. Dan pengetahuan yang luas yang Anda dapatkan dari membaca akan memudahkan Anda untuk menuangkannya ke dalam tulisan.

Kedua, membaca alam dan peristiwa kehidupan.

Membaca tak semata-mata membaca buku, tapi juga membaca alam. Fenomena alam akan menjadi inspirasi sebagai bahan tulisan. Termasuk, membaca alam adalah membaca peristiwa kehidupan. Di panggung kehidupan ini ada banyak peristiwa yang bisa digali untuk bahan penulisan.

Ketiga, mempunyai blog.

Ibarat pelari, perlu jogging harian. Penulis juga begitu, memerlukan media untuk menuliskan ide-ide yang bekerjapan dan lalu lalang setiap harinya. Maka, buku harian (saat ini bisa digantikan oleh blog/website pribadi) merupakan media yang tepat untuk itu. Milikilah buku harian, atau buatlah blog di internet atau buatlah akun di citizen media seperti Kompasiana, lalu tulislah informasi yang Anda peroleh dan ide-ide Anda setiap hari. Hal itu akan berguna untuk mengasah ketrampilan menulis dan melatih kepekaan kepada kata-kata.

Keempat, mencintai bahasa.

Bahasa adalah alat komunikasi. Dari bahasa, indikasi dari tingkat intelektualitas seseorang akan tampak. Apakah dia seorang yang memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi atau tidak. Kekayaan kosakata-lah yang membedakaannya. Karenanya, cintailah bahasa. Buka-bukalah kamus Bahasa Indonesia. Ternyata ada banyak kata yang bagus yang dapat kita gunakan dalam tulisan kita, tapi selama ini kita belum mengetahuinya karena itu kita tidak menggunakannya.

Kelima, hobi meneliti.

Minat meneliti merupakan sarana yang akan semakin meningkatkan kedalaman dan luasnya jangkauan tulisan kita. Ia akan menjadi inspirasi yang hebat untuk bahan tulisan kita. Menurut Eka Budianta, sebelum menulis Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa, YB Mangunwijaya mendalami masyarakat Maluku dan pola hidup Maritim di sana. Begitu juga novel Para Priyayi Umar Kayam, yang ditulis dengan mengadakan berbagai penelitian dan dukungan perguruan tinggi di Amerika Serikat.

Ke-enam, suka diskusi.

Diskusi merupakan ajang tukar pendapat. Dalam diskusi akan banyak pendapat dari luar diri kita yang dapat menimbulkan letikan ide atau inspirasi untuk bahan tulisan kita.

Itulah enam jurus yang bisa dicoba, untuk mengasah ketrampilan menulis dan melejitkan kepiawaian kita dalam merangkai kata atau kalimat. Ingatlan selalu ‘petuah’ Prof. Dr. Floyd G. Arpan yang mengatakan, “Kecakapan menulis tak akan begitu saja jatuh dari langit. Tapi kecakapan itu baru bisa dicapai dengan jalan berlatih”.[4]

Berbagai Kegiatan Menulis

Keterampilan menulis dapat diklasifikasikan berdasarkan dua sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang tersebut adalah kegiatan atau aktivitas dalam melaksanakan keterampilan menulis dan hasil produk menulis itu. Klasifikasi keterampilan menulis berdasarkan sudut pandang kedua menghasilkan pembagian produk menulis atas empat kategori, yaitu: karangan narasi, eksposisi, deskripsi, dan argumentasi.

Berdasarkan dua acuan tersebut di atas dapat disusun jenis-jenis kegiatan dalam pembelajaran keterampilan menulis tersebut dengan susunan dari yang mudah menuju kepada yang sukar adalah sebagai berikut.

  • Menyusun karangan bersama
  • Menyusun kembali karangan yang diacak
  • Menyelesaikan cerita tertulis
  • Meringkas (sinopsis) bacaan
  • Reka cerita gambar
  • Memerikan atau mendeskripsikan sesuatu
  • Mengembangkan judul
  • Menulis surat
  • Menyusun dialog
  • Menyusun laporan
  • Menyusun iklan, slogan, poster, dan spanduk
  • Meresensi buku
  • Menyusun karangan ilmiah

Uraian jenis-jenis kegiatan menulis di atas menunjukkan kepada guru bahasa Indonesia ada banyak pilihan dalam merencanakan pembelajaran keterampilan menulis, di bawah ini dijelaskan secara singkat jenis-jenis tulisan berdasarkan isi tulisan.

Menulis Deskripsi

Deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata atas suatu benda, tempat, suasana atau keadaan. Seorang penulis deskripsi melalui tulisannya mengharapkan pembaca dapat melihat, mendengar, mencium bau, mencicipi dan merasakan hal yang sama dengan penulis. Deskripsi pada dasarnya merupakan hasil dari pengamatan melalui panca indera yang disampaikan dengan kata-kata.

Menulis Narasi

Narasi pada dasarnya adalah karangan atau tulisan yang berbentuk cerita.    Seperti kalau orang bercerita tentang “mengisi liburan sekolah”, “mendaftarkan diri ke sekolah”, “pengalaman berkemah di hutan”, “kecelakaan lalu lintas di jalan raya”, atau “pertandingan olahraga”. Cerita itu tentunya didasarkan pada urut-urutan suatu kejadian atau peristiwa. Di dalam peristiwa itu ada tokoh, mungkin tokoh itu adalah penulis sendiri, teman penulis, atau orang lain, dan tokoh itu mengalami masalah atau konflik. Bisa saja dalam cerita itu menghadirkan satu konflik atau serangkaian konflik yang dihadapi oleh tokoh dalam ceritamu itu. Jadi, dalam sebuah narasi terdapat tiga unsur pokok,  yaitu : peristiwa,  tokoh, dan  konflik.  Ketiga unsur itu  diramu menjadi satu dalam sebuah jalinan yang disebut alur atau plot. Dengan demikian, narasi adalah cerita berdasarkan alur.  Sering juga narasi diartikan sebagai cerita yang didasarkan pada kronologi waktu.

Menulis Eksposisi

Eksposisi/paparan merupakan tulisan hasil peninjauan terhadap suatu hal. Penyampaian gagasan dilakukan secara analitis kronologis waktu maupun ruang. Tulisan berjenis eksposisi biasanya merupakan bagian dari karangan ilmiah. Penulisan eksposisi dilakukan dengan cara menyusun kerangka karangan yang memuat kata-kata kunci yang didukung oleh penjelasan-penjelasan, contoh-contoh, ilustrasi, maupun bukti.

Menulis Argumentasi

Argumentasi dibentuk dari kata argumen yang berarti alasan. Paragraf argumentasi adalah paragraf yang bertujuan untuk menyatakan kebenaran dengan didukung argumen atau alasan yang sesuai. Termasuk dalam bentuk ini adalah tulisan yang bertujuan mengajak, membujuk, dan mempengaruhi orang lain. Argumentasi sering pula dibedakan dengan persuasi yang lebih bertujuan membujuk atau mempengaruhi orang lain, sementara argumentasi diartikan sebagai tulisan yang isinya bersifat menyakinkan suatu hal kepada orang lain terhadap suatu hal.

Paragraf argumentasi dapat disusun dengan pola sebab-akibat. Artinya, paragraf tersebut diawali dengan kalimat utama yang merupakan sebab dan diikuti oleh beberapa akibat sebagai kalimat penjelasnya. Sebaliknya, paragraf argumentasi juga dapat disusun dengan pola akibat-sebab yang berarti paragraf tersebut diawali dengan akibat yang merupakan kalimat utama dan diikuti oleh beberapa sebab sebagai kalimat penjelasnya.

 

Pendekatan Pengajaran Menulis: Tradisional dan Proses

 Pembelajaran menulis dengan pendekatan tradisional lebih menekankan pada hasil berupa tulisan yang telah jadi, tidak pada apa yang dikerjakan pembelajar ketika menulis. Pembelajar berpraktik menulis, mereka tidak mempelajari bagaimana cara menulis yang baik. Temuan penelitian mengenai menulis menyebabkan bergesernya penekanan pembelajaran menulis dari hasil (tulisan) ke proses menulis yang terlibat dalam menghasilkan tulisan. Peran pengajar dalam pembelajaran menulis dengan pendekatan proses tidak hanya memberikan tugas menulis dan menilai tulisan para pembelajar, tetapi juga membimbing pembelajar dalam proses menulis (Tompkins, 1990: 69).

Perbedaan antara pendekatan tradisional dan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran menulis bahasa Indonesia bagi penutur asing tingkat lanjut sebagaimana dikemukakan Tompkins (1990: 70) dapat dilihat pada bagan berikut.

Pendekatan Tradisional dan Keterampilan Proses dalam Menulis

No. Komponen Pendekatan Tradisional Pendekatan Proses
1 Pilihan Topik Tugas menulis kreatif yang spesifik diberikan oleh pengajar Pembelajar memilih topik sendiri, atau topik-topik yang diambil dari bidang studi lain
2 Pembelajaran Pengajar hanya sedikit atau tidak memberikan pelajaran.

Pembelajar diharapkan menulis sebaik-baiknya

Pengajar mengajar pembelajar mengenai proses menulis dan mengenai bentuk-bentuk tulisan
3 Fokus Berfokus pada tulisan yang sudah jadi Berfokus pada proses yang digunakan pembelajar ketika menulis
4 Rasa Memiliki Pembelajar menulis untuk pengajar dan kurang merasa memiliki tulisan sendiri Pembelajar merasa memiliki tulisan sendiri.

 

5 Pembaca Pengajar merupakan pembaca utama Pembelajar menulis untuk pembaca yang sesungguhnya
6 Kerja Sama Hanya sedikit atau tidak ada kerja sama Pembelajar menulis dengan bekerja sama dan berbagi tulisan yang dihasilkan masing-masing dengan teman-teman satu kelompok/kelas
7 Draft Pembelajar menulis draft tunggal dan harus memusatkan pada isi sekaligus segi mekanik (ejaan, tanda baca, tata tulis) Pembelajar menulis draft kasar (outline) untuk menuangkan gagasan dan kemudian merevisi dan menyunting draft ini sebelum membuat hasil akhir
8 Kesalahan Mekanik Pembelajar dituntut untuk menghasilkan tulisan yang bebas dari kesalahan Pembelajar mengoreksi kesalahan sebanyak-banyaknya selama menyunting, tetapi tekanannya lebih besar pada isi daripada segi mekanik
9 Peran Pengajar Pengajar memberikan tugas menulis dan menilainya jika tulisan sudah jadi Pengajar mengajarkan cara menulis dan memberikan balikan selama pembelajar merevisi dan mengedit/menyunting
10 Waktu Pembelajar menyelesaikan tulisan dalam satu jam pelajaran Pembelajar mungkin menghabiskan waktu tidak hanya satu jam pelajaran untuk mengerjakan setiap tugas menulis
11 Evaluasi Pengajar mengevaluasi kualitas tulisan setelah tulisan selesai disusun Pengajar memberikan balikan selama pembelajar menulis, sehingga pembelajar dapat memanfaatkannya untuk memperbaiki tulisannya. Evaluasi berfokus pada proses dan hasil.

 

            Dari kedua pendekatan pengajaran menulis seperti tertera pada bagan di atas dapat diketahui kelemahan dan keunggulannya. Pada pendekatan tradisional, pengajar memberikan topik tulisan dan setelah pembelajar mengerjakan tugas tersebut selama setengah atau tiga per empat jam (satu jam pelajaran), pengajar mengumpulkan pekerjaan pembelajar untuk dievaluasi.[5]

 

Langkah-Langkah Pembelajaran Menulis dan Langkah-Langkah Menulis

 

  1. Langkah-Langkah Pembelajaran Menulis

Raimes menguraikan seperangkat pedoman pembelajaran menulis. Pedoman ini didasarkan pada prinsip-prinsip yang mencakup pertimbangan tujuan, teori, konten (isi), fokus, silabus, bahan, metodologi, kegiatan, dan evaluasi. Prinsip-prinsip tersebut dipraktikkan oleh guru dalam pembelajaran menulis di kelas. Agar dalam praktik menghasilkan manfaat belajar yang optimal, maka guru harus terus-menerus dan sistematis merekam, merenungkan, dan menganalisis apa yang telah dilakukan di dalam kelas. Guru juga dapat menggunakan pengalaman reflektif sebagai dasar untuk memperbaiki praktik pembelajaran mereka.

Menurut Raimes ada sepuluh langkah dalam perencanaan pembelajaran menulis dan dalam membantu guru untuk merencanakan pembelajaran menulis. Kesepuluh langkah tersebut sebagai berikut.

 

  1. Tujuan dan Sasaran

Di dalam merencanakan pelatihan menulis hendaknya guru dapat memastikan tujuan-tujuan yang akan dicapai. Hal ini agar pembahasan tidak terlalu luas sehingga siswa dapat memahami dan menerima pembelajaran menulis dengan baik. Dalam pembelajaran menulis kreatif, maka guru harus menentukan tujuan bahwa dalam pembelajaran tersebut siswa dapat mengetahui dan dapat menulis jenis-jenis tulisan. Dengan tujuan tersebut maka guru dalam membelajarkan menulis kreatif dapat menjelaskan dan mengarahkan siswa agar paham dan dapat menulis kreatif misalnya menulis surat pribadi, menulis buku harian, atau dalam menarasikan teks wawancara. Dengan kata lain, langkah pertama dalam pembelajaran menulis adalah menentukan tujuan pembelajaran dan indikator-indikatornya.

 

  1. Prinsip-Prinsip Teori

Setelah merumuskan tujuan pembelajaran, langkah selanjutnya adalah memilih teori yang akan digunakan. Pemilihan teori ini tentu saja yang berkaitan dengan materi pelajaran. Dalam pembelajaran menulis kreatif teori yang digunakan dan harus dikuasai siswa antara lain tentang menulis kreatif, jenis-jenis tulisan, dan langkah-langkah menulis. Guru harus memberi pemahaman siswa tentang teori-teori tersebut dengan jelas sehingga siswa dapat memahami dengan baik.

 

  1. Perencanaan Konten

Langkah ketiga dalam perencanaan dan pembelajaran menulis adalah perencanaan konten. Maksud perencanaan konten tersebut yaitu dalam pembelajaran menulis di kelas guru menggunakan pengalaman pribadi, isu-isu sosial dan budaya, sastra, atau isi dari bidang studi lain sebagai tema atau topik tulisan. Di dalam pembelajaran bahasa terutama pembelajaran menulis yang merupakan salah satu keterampilan berbahasa, guru harus aktif memberikan informasi-informasi lain baik dari bidang bahasa maupun dari bidang kajian ilmu lain. Hal ini agar siswa lebih banyak mendapat informasi, gagasan, dan ide. Jadi, agar siswa dapat menulis maka siswa perlu topik yang memungkinkan mereka untuk menghasilkan ide-ide, menemukan bentuk-bentuk agar sesuai dengan ide-ide, dan berani mengambil resiko. Artinya bahwa sebelum menulis siswa harus mempunyai ide yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan.

 

  1. Elemen

Langkah keempat adalah menimbang elemen. Menulis terdiri dari banyak bagian sehingga perlu mempertimbangkan mana yang akan menjadi yang paling penting seperti konten, organisasi, orisinalitas, gaya, kelancaran, akurasi, atau bentuk tulisan yang digunakan. Elemen yang dimaksud adalah bagian-bagian dari yang akan ditulis baik itu topik, tema, diksi, gaya bahasa, dan lain sebagainya. Tema yang dapat diambil bisa tentang sosial, budaya, pendidikan, atau tema-tema umum lainnya. Dalam pembelajaran menulis kreatif guru boleh saja menentukan tema, tetapi siswa juga bisa mencari tema bebas sesuai yang diinginkan. Tema-tema bebas tersebut misalnya tentang keluarga, pendidikan, sosial, alam, budaya, kesehatan, politik, dan tema-tema lainnya sesuai dengan perkembangan dan usia siswa.

 

  1. Silabus

Setelah memutuskan konten dan bobot elemen adalah bagaimana akan mengatur isi dan pengalaman belajar di dalam kelas. Isi dan pengalaman belajar tersebut menjadi dasar organisasi silabus dalam pembelajaran menulis dari tradisional ke modern dan inovatif, yaitu struktural (pada tingkat awal), fungsional, topikal, situasional, keterampilan dan proses, serta tugas. Oleh karena itu, langkah selanjutnya adalah mengembangkan silabus. Dengan adanya silabus dalam praktik pembelajaran, Richards menunjukkan sebuah “kombinasi pendekatan yang sering digunakan” (1990, hlm 9-10); apa yang mereka gunakan dan dalam proporsi apa tergantung pada siswa, tujuan, prinsip-prinsip teoritis, dan kendala kelembagaan. Dalam mengembangkan silabus guru hendaknya mengacu pada kurikulum yang berlaku. Silabus digunakan sebagai acuan guru dalam membelajarkan pembelajaran menulis di kelas. Silabus disusun sesuai dengan kelas dan tingkat perkembangan siswa yang berisi standar kompetensi dan kompetensi dasar.

 

  1. Bahan

Langkah yang keenam adalah pemilihan bahan. Guru dalam memilih bahan atau topik belajar dapat melalui video, perangkat lunak, dan buku. Bahan-bahan tersebut harus sesuai dengan tujuan, prinsip, isi, dan bobot yang telah diputuskan agar tidak terjadi penyimpangan atau kesalahan. Jika akan menggunakan buku, teks, atau artikel sebagai bahan belajar maka harus memperhatikan topik, jenis penulisan, peluang, dan instruksi dalam metode menghasilkan ide, instruksi pada prinsip-prinsip organisasi tulisan, kesempatan untuk kolaborasi, hal-hal yang harus direvisi, dan dalam mengoreksi dan mengedit. Selain melalui hal-hal tersebut, guru atau siswa juga dapat mencari bahan dari internet, berita, koran, majalah, atau media lainnya. Dalam memilih bahan guru harus berhati-hati dan menyesuaikan dengan perkembangan siswa. Guru jangan sampai memilih bahan yang kurang sesuai dengan perkembangan siswa karena dapat memberi efek yang kurang baik.

 

  1. Bermain Peran

Dalam merencanakan suatu pelajaran atau pelatihan, guru cenderung berpikir tentang apa yang akan mereka lakukan, apa yang harus disajikan dalam pelajaran, bagaimana cara memimpin diskusi di kelas dan sebagainya. Ada banyak pembicaraan teoretis tentang kelas yang berpusat pada siswa dan guru. Artinya bahwa guru tidak hanya berperan sebagai guru, tetapi juga berperan sebagai siswa. Itulah mengapa pentingnya siswa bagi guru dalam menulis jurnal reflektif mengajar. Secara tidak langsung guru juga pernah menjadi siswa, sehingga guru dapat mengerti kondisi dan kemampuan siswa. Oleh karena itu, agar guru lebih dekat dan mampu memahami siswa lebih jauh guru tidak hanya berperan sebagai guru, tapi juga berperan sebagai siswa.

 

  1. Jenis dan Metode Umpan Balik

Pertama, dalam kasus kelas besar tidak setiap tulisan harus diperbaiki atau bahkan dilihat oleh guru. Siswa dapat melakukan penulisan jurnal, umpan balik untuk membaca atau menulis bebas di mana tujuannya adalah untuk menghasilkan ide-ide sehingga meningkatkan kelancaran akurasi. Kedua, siapa pun yang memiliki berbagai metode fisik menanggapi komentar atau percakapan dengan penulis, umpan balik dengan perangkat lunak komputer, menggunakan fitur-fitur seperti kemampuan “comment” dan “redlining” (menulis kembali); umpan balik seperti rekaman suara; atau tanggapan tertulis. Ketiga, memilih jenis dalam memberi umpan balik dengan memperhatikan waktu dan ukuran kelas. Keempat, guru dan siswa perlu menyepakati tujuan umpan balik.

 

 

  1. Evaluasi

Guru menggunakan tes dan tes esai kalimat untuk mengevaluasi siswa. Mereka menggunakan hasil tes ini di samping kuesioner untuk mengetahui atau mengevaluasi kesuksesan mereka sendiri sebagai guru. Salah satu bentuk evaluasi dalam pembelajaran menulis sebenarnya membantu menggabungkan evaluasi siswa dan evaluasi program penggunaan portofolio. Portofolio tersebut kemudian dievaluasi. Portofolio ini mengarahkan siswa untuk merevisi dan untuk menyajikan karya terbaik mereka. Portofolio berisi kumpulan tulisan mulai dari awal semester sampai akhir. Dengan portofolio baik guru maupun siswa dapat mengetahui perkembangan keterampilan menulisnya. Portofolio juga dapat menambah nilai siswa selain nilai tes semester.

 

  1. Refleksi

Sasaran, isi, teori, silabus, bahan, kegiatan, umpan balik dan evaluasi adalah substansi yang dapat direncanakan dalam pembelajaran menulis. Guru hendaknya selalu belajar dari pengalaman dalam pembelajaran menulis di kelas agar kesalahan atau kekurangan dalam pembelajaran tidak terulang lagi. Pengalaman merupakan hal yang sangat penting bagi guru. Guru yang sudah berpengalaman akan lebih mudah dalam mengajar di kelas, baik dalam pembelajaran menulis atau pembelajaran yang lainnya. Artinya pengalaman merupakan hal yang penting dalam mendukung proses pembelajaran. Kualitas seorang guru juga dapat ditentukan dari pengalamannya.

Berdasarkan kesepuluh langkah dalam pembelajaran menulis menurut Raines dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menulis harus melalui tahap-tahap tertentu. Hal ini diperkuat dengan pendapat Seow yang menyakan bahwa proses penulisan di kelas dapat ditafsirkan sebagai sebuah program pengajaran yang memfasilitasi siswa dengan serangkaian pengalaman belajar yang direncanakan untuk membantu mereka memahami sifat penulisan disetiap poin.

 

  1. Langkah-Langkah Menulis

Seow menyatakan bahwa proses menulis sebagai kegiatan kelas menggabungkan empat tahap dasar menulis, yaitu: perencanaan, penyusunan (menulis), merevisi (redrafting) dan mengedit (editing). Ada tiga tahap lain yang diberikan oleh guru kepada siswa, yaitu menanggapi (berbagi), mengevaluasi, dan pascamenulis. Proses penulisan di dalam kelas sangat terstruktur karena memerlukan pembelajaran yang tertib dan harus melalui proses. Guru merencanakan kegiatan kelas yang tepat yang mendukung pembelajaran keterampilan menulis yang spesifik pada setiap tahap. Pengalaman belajar yang direncanakan untuk siswa dapat diuraikan sebagai berikut.

 

1)   Perencanaan (Pramenulis)

Pramenulis adalah setiap kegiatan di kelas yang mendorong siswa untuk menulis. Pada tahap ini siswa mengumpulkan ide-ide tentatif (belum pasti dan dapat berubah) dan mengumpulkan informasi untuk menulis. Untuk memberikan pengalaman belajar maka siswa melakukan tahap-tahap berikut ini.

 

(a)     Brainstorming

Dalam kegiatan ini siswa berkelompok dan saling menuangkan ide-ide tentang topik yang dibahas. Ide yang dituangkan siswa secara spontan sehingga ide-ide tersebut asli atau murni dari siswa.

 

(b)     Clustering

Pada tahap ini siswa membentuk kata-kata yang terkait dengan stimulus yang diberikan oleh guru. Kata-kata dilingkari dan kemudian dihubungkan dengan garis-garis untuk menunjukkan kelompok jelas. Clustering adalah strategi yang sederhana namun kuat: “karakter visual tampaknya merangsang aliran asosiasi … dan sangat baik bagi siswa yang tahu apa yang ingin mereka katakan tetapi tidak bisa mengatakan itu.” (Proett 1986, p.6). Setelah siswa menuangkan ide-idenya, selanjutnya siswa merangkai kata-kata yang sesuai dengan tema atau ide yang akan ditulis. Misalnya ide siswa tentang pertanian maka siswa menentukan kata-kata yang akan digunakan yang berkaitan seperti panen raya, pascapanen, agrobisnis, hama, dan lain-lain.

 

(c)      Menulis Bebas Secara Cepat

Dalam waktu terbatas satu atau dua menit masing-masing siswa secara bebas dan cepat menuliskan kata-kata tunggal dan frasa tentang topik. Batas waktu membuat pikiran para penulis berdetak dan berpikir cepat. Menulis bebas yang cepat dilakukan ketika kelompok brainstorming tidak mungkin karena sifat pribadi topik tertentu memerlukan strategi yang berbeda. Kata-kata yang akan digunakan dalam bidang pertanian tersebut kemudian dijadikan frasa untuk membantu siswa dalam mengembangkan topik tersebut menjadi sebuah karangan atau tulisan. Setelah itu siswa menulis sebisanya dari frasa-frasa yang telah disusun menjadi kalimat-kalimat. Dalam tahap ini dalam menulis siswa belum dituntut tentang organisasi isi, diksi, sistematika tulisan, keruntutan kalimat, dan lain-lain. Pada intinya siswa menulis sebisanya dari kata atau frasa yang telah disusun sebelumnya.

 

(d)     Pertanyaan-Pertanyaan

Pada tahap ini siswa membuat pertanyaan mengapa, apa, dimana, kapan, dan bagaimana tentang topik. Selain itu, ide untuk menulis dapat diperoleh dari sumber multimedia (misalnya, bahan cetak, video, film), serta dari wawancara langsung, diskusi, survei, dan kuesioner. Siswa akan lebih termotivasi untuk menulis ketika diberi berbagai cara untuk mengumpulkan informasi selama pramenulis. Pada tahap ini siswa harus sudah paham terhadap apa yang akan mereka tulis. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dibuat secara urut agar tulisan yang akan dibuat sistematis dan runtut.

 

2)   Drafting

Setelah cukup mengumpulkan ide-ide pada tahap perencanaan usaha pertama dalam menulis, yaitu menyusun draft atau kerangka tulisan. Penyusunan draft ini untuk memudahkan penulis (siswa) menuangkan ide-idenya yang lebih sistematis sehingga tulisan yang dihasilkan akan lebih mudah dipahami.

 

3)   Responding

Menanggapi tulisan siswa baik oleh guru maupun oleh teman memiliki peran sentral dalam keberhasilan pelaksanaan proses penulisan. Tanggapan dapat lisan atau tertulis setelah siswa menyusun draft pertama dan sebelum mereka melanjutkan untuk merevisi. Kegagalan dalam pembelajaran menulis di sekolah disebabkan karena tahap menanggapi dilakukan di tahap akhir ketika guru secara bersamaan merespon dan mengevaluasi dan bahkan mengedit tulisan siswa, sehingga memberikan kesan tidak ada lagi yang harus dilakukan.

 

4)   Revising

Ketika siswa merevisi, mereka meninjau teks-teks mereka berdasarkan umpan balik yang diberikan dalam tahap menanggapi. Mereka menguji kembali apa yang ditulis untuk melihat seberapa efektif mereka telah berkomunikasi (menyampaikan pesan kepada pembaca). Merevisi tidak hanya memeriksa kesalahan bahasa (pengeditan). Hal ini dilakukan untuk meningkatkan isi secara umum dan organisasi gagasan sehingga maksud penulis dapat disampaikan ke pembaca.

 

5)   Editing

Pada tahap ini siswa memperbaiki teks atau tulisan mereka saat mereka mempersiapkan draft akhir untuk dievaluasi oleh guru. Mereka mengedit karya mereka sendiri atau rekan mereka seperti tata bahasa, ejaan, tanda baca, diksi, struktur kalimat, dan akurasi dari materi tekstual pendukung seperti kutipan, contoh, dan sejenisnya. Tahap ini harus dilakukan dengan teliti agar kesalahan yang dilakukan dapat diperbaiki sehingga tulisan yang dihasilkan dapat lebih optimal.

 

6)   Evaluating

Hubungan penting antara penyusunan dan revisi yaitu menanggapi yang sering menjadi perbedaan besar untuk jenis tulisan yang akan diproduksi. Dalam mengevaluasi harus berdasarkan aspek analitis (berdasarkan aspek tertentu dari kemampuan menulis) atau holistik (berdasarkan pada penafsiran efektivitas umum). Agar efektif, kriteria evaluasi harus dibuat dan diketahui siswa sebelumnya. Mereka harus memperhatikan interpretasi keseluruhan tugas, pengembangan relevansi, organisasi ide, format atau tata letak, tata bahasa dan struktur, ejaan dan tanda baca, kesesuaian kosa kata, dan kejelasan komunikasi.

 

7)   Pascamenrulis

Pascamenulis merupakan kegiatan kelas antara guru dan siswa setelah selesai menulis. Pascamenulis meliputi penerbitan, berbagi, membaca di depan kelas, mengubah tulisan untuk pertunjukan panggung atau menampilkan tulisan pada majalah dinding sekolah atau bahkan pada majalah atau surat kabar. Bagi guru atau siswa yang suka menulis dan tulisannya berhasil diterbitkan adalah suatu kebanggaan. Dengan diterbitkannya tulisan tersebut maka dapat orang lain sehingga orang tersebut menjadi tahu.

Berkaitan dengan tahap-tahap proses menulis, Tompkins (dalam Wagiran dan Doyin 2005:7) menyajikan lima tahap, yaitu: 1) pramenulis; 2) pembuatan draft; 3) merevisi; 4) menyunting; dan 5) berbagi (sharing). Tompkins juga menekankan pada tahap-tahap menulis tidak merupakan kegiatan yang linear. Proses menulis bersifat nonlinear, artinya merupakan putaran berulang.

Langkah pertama adalah tahap pramenulis. Pada tahap ini, pembelajar menulis melakukan kegiatan sebagai berikut: a) menulis topik berdasarkan pengalaman sendiri; b) melakukan kegiatan-kegiatan latihan sebelum menulis; c) mengidentifikasi pembaca tulisan yang akan mereka tulis; d) mengidentifikasi tujuan kegiatan menulis; dan e) memilih bentuk tulisan yang tepat berdasarkan pembaca dan tujuan yang telah mereka tentukan.

Langkah kedua adalah tahap pembuatan draft. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan oleh pembelajar menulis adalah a) membuat draft kasar, dengan berbekal apa-apa yang telah dipersiapkan pada tahap pramenulis, pembelajar mulai menuliskan gagasan. Pada saat menuliskan gagasan pembelajaran menulis perlu menentukan target waktu yang akan dipergunakan untuk menulis. b) Lebih menekankan isi daripada tata tulisan, pada tahap penyusunan draft, penulisan lebih ditekankan pada pencurahan gagasan dan kelengkapan isi tulisan. Pengaturan tata tulis dan penggunaan bahasa hendaknya diabaikan kecuali yang muncul secara spontan.

Langkah ketiga adalah tahap merevisi, yang perlu dilakukan oleh pembelajar menulis pada tahap merevisi, yaitu: a) berbagi tulisan dengan teman-teman (kelompok); b) berpartisipasi secara konstruktif dalam diskusi tentang tulisan teman-teman sekelompok atau sekelas; c) mengubah tulisan dengan memperhatikan reaksi komentar baik dari pengajar maupun teman; dan d) membuat perubahan yang substantif pada draft pertama dan draft berikutnya, sehingga menghasilkan draft akhir.

Langkah keempat adalah tahap menyunting. Pada tahap menyunting ini, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain yaitu: a) membetulkan kesalahan bahasa tulisan sendiri, mulai menggunakan ejaan, pilihan kata penggunaan kalimat, sampai pengembangan paragraf; b) membetulkan kaidah tata tulis yang meliputi kaidah penulisan paragraf, penulisan judul, penomoran, kaidah, kaidah pengutipan, dan kaidah-kaidah lain yang diatur secara teknis; c) mengoreksi dan menata kembali isi tulisan, baik dari segi sistematika, kelogisan, ketajaman pembahasan, kelengkapan isi; dan d) berbagi dengan teman untuk saling memberikan koreksi.

Terakhir dalam proses menulis adalah langkah kelima, yaitu tahap berbagi (sharing) atau publikasi. Pada tahap ini, pembelajar menulis dapat melakukan hal-hal yaitu a) memublikasikan (memajang) tulisan dalam suatu bentuk tulisan yang sesuai, atau b) berbagi tulisan yang dihasilkan dengan pembaca yang telah mereka tentukan dalam forum diskusi atau seminar.

Berdasarkan uraian pendapat di atas jelas bahwa menulis merupakan suatu proses karena harus melewati tahap-tahap. Dalam pembelajaran menulis siswa dituntut untuk dapat menguasai dari masing-masing tahap menulis agar dapat menulis dengan hasil yang baik. Oleh karena itu, dalam pembelajaran menulis guru juga harus dapat mengarahkan siswa dalam mengerjakan tahap-tahap menulis tersebut dengan baik.

 

Proses Editing

Ada tujuh langkah menulis menurut Seow. Dari ketujuh langkah tersebut salah satunya adalah editing. Langkah editing merupakan langkah dalam menulis untuk memperbaiki kesalahan, baik tanda baca, penggunaan huruf atau penggunaan istilah, atau kesalahan pengetikan. Hal ini karena ketidaktepatan gramatikal mempengaruhi kualitas tulisan siswa. Oleh karena itu, guru perlu membantu siswa dalam mengedit atau memperbaiki tulisan mereka serta mengembangkan keterampilan menulisnya. Ferris kemudian menjelaskan tiga tahap pendekatan untuk mengajarkan keterampilan mengedit yang dapat membantu siswa menjadi editor tulisan mereka sendiri.

Mengedit bertujuan untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan gramatikal, leksikal, dan mekanik sebelum mengirimkan atau menerbitkan produk terakhir yang ditulis. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengajarkan cara mengedit tulisan pada siswa sebagai berikut.

 

  1. Asumsi Filosofis

Menurut Ferris prinsip-prinsip dalam proses editing, yaitu:

  1. siswa dan guru harus fokus pada pola utama kesalahan untuk memperbaiki setiap kesalahan tunggal (Bates, Lane, Lange, 1993),
  2. karena tidak semua siswa membuat kesalahan yang sama, maka perlu diperintahkan untuk mengedit kesalahan sebanyak mungkin, dan
  3. fokus kesalahan yang paling sering dan umum (mencampuri komperhensif teks) dan stigmatisasi (menyebabkan evaluasi negatif dari penutur asli) (Bates, Lane, Lange, 1993; Hendrickson, 1980).

 

  1. Proses Editing

 

Tahap 1: Fokus pada Bentuk

Siswa menganggap bahwa mengedit itu membosankan atau tidak penting atau mereka menjadi tergantung pada guru untuk mengoreksi pekerjaan mereka. Sebuah langkah penting dalam mengajari siswa untuk menjadi editor yang baik adalah untuk meyakinkan mereka tentang perlunya dilakukan editing. Untuk meningkatkan kesadaran pentingnya editing tersebut, Ferris menggunakan kalimat atau esai pendek yang mengandung berbagai masalah pengeditan. Mereka tidak hanya menemukan dan memperbaiki kesalahan, tetapi mendiskusikan bagaimana kesalahan ini menghambat pemahaman mereka terhadap teks atau tulisan yang dibaca, seperti pada tiga contoh berikut.

Orang tua saya selalu memberi saya banyak cinta.

– Sekolah adalah tempat di mana saya belajar hal-hal seperti membaca dan menulis.

– Saya suka kopi, di sisi lain, saya juga suka teh.

Bagian yang dicetak miring dari tiga kalimat mengandung kesalahan penulisan umum, masing-masing kata jamak dihilangkan, kesalahan verba, dan disalahgunakan frasa transisi. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat menyebabkan masalah dalam pemrosesan teks dan pemahaman.

Strategi lain yang digunakan Ferris dalam meyakinkan siswa tentang pentingnya mengembangkan keterampilan editing adalah dengan memberi tugas esai diagnostik dan kemudian menyediakan umpan balik tertulis tentang ide-ide mereka, informasi rinci tentang masalah dalam mengedit, dan indikasi dari nilai yang diperoleh atas kemampuan menulis mereka. Memberikan nilai akhir langsung oleh mereka bisa memotivasi mereka sendiri.

 

Tahap 2: Mengenali Jenis Kesalahan Besar

Penelitian menunjukkan bahwa fokus pola kesalahan bukan pada individu, tetapi yang paling efektif adalah bagi guru dan siswa, sehingga pada tahap ini siswa dilatih untuk mengenali berbagai jenis kesalahan. Kategori kesalahan tersebut dapat bervariasi, tergantung pada kebutuhan siswa, tetapi dipilihkan jenis kesalahan yang sering terjadi yang bersifat umum. Ferris membiarkan siswa berlatih mengidentifikasi kesalahan contoh esai yang ditulis siswa dan kemudian mencari kesalahan sebelum proses editing. Tampaknya benar bahwa lebih mudah untuk menemukan kesalahan pekerjaan orang lain daripada sendiri. Latihan dalam mengenali pola-pola kesalahan siswa membantu penulis lain menjadi lebih sadar akan masalah yang sama dalam tulisan mereka sendiri.

 

Tahap 3: Praktik Mengedit Sendiri

Pada tahap akhir Ferrish meminta siswa untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan dalam draft esai siswa mereka sendiri dan orang lain. Siswa juga disuruh menyimpan data hasil kesalahan selama satu semester untuk mengetahui kesalahan mereka dalam kategori yang berbeda sehingga mereka dapat mengamati kemajuan mereka sendiri.[6]

 

Hubungan Membaca dan Menulis

 Jika membaca adalah proses membuka jendela dunia, melihat wawasan yang ada dan menjadikannya sebagai khazanah pribadi, maka menulis adalah proses menyajikan kembali khazanah tersebut kepada masyarakat luas. Anda bisa menggabungkan sebuah khazanah dengan khazanah yang sudah dimiliki sebelumnya.

Sangat sulit bagi seseorang untuk menulis sesuatu yang di luar dirinya. Di luar apa yang pernah dia miliki sebelumnya. Seseorang harus memiliki sesuatu terlebih dahulu sebelum bisa memberikan kepada orang lain. Seseorang harus memiliki wawasan terlebih dahulu sebelum terampil dalam membaginya kepada orang lain.

Dengan demikian membaca mau tidak mau adalah proses yang harus dijalani oleh orang yang berkeinginan untuk bisa menulis. Jika selama ini Anda kesulitan menulis dan selalu berhenti pada kalimat atau paragraf pertama, bisa jadi penyebabnya karena terlalu sedikit stok informasi yang Anda miliki sebelumnya. Anda harus menambah stok tersebut agar proses menulis menjadi lancar.

Manfaat Membaca Bagi Keterampilan Menulis

Begitu besar manfaat membaca untuk mengasah keterampilan menulis seseorang. Berikut saya mencoba menyajikannya buat Anda:

  • Membaca memperluas wawasan
  • Membaca membantu melihat sudut pandang yang berbeda
  • Membaca membantu Anda belajar teknik menulis yang dipakai oleh orang yang lebih berpengalaman
  • Membaca membuat ide Anda melimpah
  • Membaca menjadikan otak dan pikiran Anda aktif
  • Membaca merangsang terbentuknya informasi baru di sistem daya ingat yang siap dipanggil kapan saja
  • Membaca membuat jalan pikiran Anda menjadi lebih lentur
  • Membaca memperkaya kosa kata, pilihan kalimat, dan cara penyajian yang bisa Anda pakai dalam menulis
  • Membaca membuat Anda mampu menganalisa, menghubungkan informasi yang terserak, dan melihat benang merah dari sebuah persoalan
  • Membaca membuat Anda punya bahan yang banyak untuk menuliskannya kembali

Dan masih banyak manfaat lain jika kita berusaha meneruskan daftar tersebut.

Rajin Membaca, Aktif Menulis

Begitu banyak contoh di sekitar kita yang menunjukkan bagaimana orang yang gemar membaca cenderung memiliki keterampilan menulis yang baik.

Buya Hamka adalah orang yang rajin membaca. Beliau juga dikenal sebagai pembaca cepat. Maka tidak heran pula jika beliau bisa menghasilkan banyak karya.

Rhenald Kasali – tokoh pemasaran Indonesia – adalah orang yang aktif membaca. Dengan demikian sangat mudah buat beliau untuk terus menulis tren terbaru dan prediksi tentang peta pemasaran di masa yang akan datang.

Yodhia Antariksa, seorang blogger produktif yang banyak menulis artikel bernas seputar strategi manajemen, mampu berbuat demikian karena punya kebiasaan membaca buku setiap petang.

Membangun Tradisi Membaca dan Menulis

Untuk itu, sudah saatnya membangun kembali tradisi membaca dan menulis. Inilah kontribusi yang bisa diberikan untuk menjadikan bangsa ini lebih maju.

Coba hitung waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi, aktif bertukar status dan komentar di Facebook, atau berkicau di Twitter. Ambil separuh dari waktu yang dihabiskan itu untuk membaca buku-buku berkualitas. Maka dalam tempo 1 bulan saja, sudah menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya.

Lewat kebiasaan membaca, bisa melatih keterampilan menulis. Punya kacamata yang mampu melihat berbagai sudut pandang. Punya amunisi kata dan kalimat yang siap dituliskan. Dan akan punya pikiran yang lebih jernih dan sehat.[7]

 

Kesimpulan

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis. Memperoleh pesan adalah proses pemaknaan yang berkaitan dengan proses berpikir atau nalar.

            Secara umum tujuan membaca adalah untuk mendapatkan informasi. Untuk itu diperlukan keterampilan. Keterampilan membaca hakikatnya adalah keterampilan intelektual. Untuk mencapainya melalui kegiatan pembelajaran. Karakteristik pembelajaran membaca memiliki tingkatan dan tingkatan paling tinggi adalah keterampilan membaca yang bersifat pemahaman.

Keterampilan membaca dapat dikembangkan dengan memilih bahan pembelajaran membaca yang tepat dan dilaksanakan dengan metode yang tepat pula.

Bila pengembangan keterampilan membaca tercapai secara optimal akan sangat membantu dalam mengembangkan keterampilan menulis.

Menulis pada dasarnya merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Untuk mengembangkan keterampilan menulis diperlukan langkah-langkah dan tahapan-tahapan. Pada pembelajaran menulis guru hendaknya mampu mengarahkan setiap tahapan menulis dengan baik dan tepat, sehingga siswa benar-benar paham dan tulisan yang dihasilakan baik. Guru juga harus pandai dalam memilih dan menggunakan pendekatan dalam proses pembelajaran menulis. Selain memilih pendekatan yang tepat, guru juga harus pandai memilih dan menggunakan media pembelajaran sehingga pembelajaran menulis dapat berjalan efektif. Baik siswa maupun guru hendaknya aktif dalam mencari informasi atau ide-ide untuk menulis agar tulisan yang dibuat semakin berkembang. Dengan semakin berkembangnya tulisan yang dibuat maka keterampilan menulis siswa dapat meningkat secara signifikan.

Keberhasilan menulis ditentukan oleh banyak faktor begitu juga dengan keberhasilan pembelajaran menulis. Hal ini dikarenakan menulis bukanlah hal yang mudah dan merupakan suatu proses. Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untuk mempraktikkannya tidak cukup sekali dua kali. Frekuensi latihan menulis akan menjadikan seseorang terampil dalam bidang tulis-menulis.Oleh karena itu, jika ingin berhasil dalam menulis maka harus sering berlatih, berlatih, dan berlatih.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arsanti, Meilan,S. Pd., Pengembangan Keterampilan Menulis Kreatif dengan Pendekatan Berbasis Genre dan Pemanfaatan Media Web Blog, Artikel Program Pascasarjana, Unes

Depdiknas. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Depdiknas.

Fathan, Abu, Enam Jurus Terampil Menulis, Piawai Merangkai Kata, http://media.kompasiana.com/new-media/2012/01/07/enam-jurus-terampil-menulis-piawai-merangkai-kata/

Kamidjan. 1996. Teori Membaca. Surabaya: JPBSI FPBS IKIP Surabaya.

Kurniawan, KhaerudinModel Pengajaran Menulis Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Tingkat Lanjut, FBS Universitas Negeri Yogyakarta

Nurhadi. 1987. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: Sinar Baru dan YA3 Malang.

Nuttal., Christine. 2005. Teaching Reading Skills: In a Foreign Language. Oxford: Macmillan.

 

Noer, Muhammad, Gemar Membaca, Terampil Menulis, Artikel pada http://www.muhammadnoer.com/2011/11/gemar-membaca-terampil-menulis/

 

Pandawa, Nurhayati, dkk. 2009. Pembelajaran Membaca. Jakarta: Depdiknas

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional N0. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk

Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. J akarta: Depdiknas.

Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, Modul Bahasa Indonesia Keterampilan Menulis, Bahan Belajar Pendidikan dan Pelatihan Pasca-Uji Kompetensi Awal bagi Guru Kelas, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012

 

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Membaca: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

 

Zuchdi, Darmiyati. (1997). “Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Proses”, Karya Ilmiah disajikan dan dibahas pada Senat Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Yogyakarta tanggal 15 November 1996 (tidak dipublikasikan). Yogyakarta: IKIP.

 

[1] Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, Modul Bahasa Indonesia Keterampilan Menulis, Bahan Belajar Pendidikan dan Pelatihan Pasca-Uji Kompetensi Awal bagi Guru Kelas, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012

[2] Khaerudin Kurniawan, Model Pengajaran Menulis Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Tingkat Lanjut, FBS Universitas Negeri Yogyakarta

 

[3] Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, op cit, hal. 4

[4] Abu Fathan, Enam Jurus Terampil Menulis, Piawai Merangkai Kata, http://media.kompasiana.com/new-media/2012/01/07/enam-jurus-terampil-menulis-piawai-merangkai-kata/

[5] Khaerudin Kurniawan, Model Pengajaran Menulis Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Tingkat Lanjut, FBS Universitas Negeri Yogyakarta

[6] Meilan Arsanti, S. Pd., Pengembangan Keterampilan Menulis Kreatif dengan Pendekatan Berbasis Genre dan Pemanfaatan Media Web Blog, Artikel Program Pascasarjana, Unes

[7] Muhammad Noer, Gemar Membaca, Terampil Menulis, Artikel pada http://www.muhammadnoer.com/2011/11/gemar-membaca-terampil-menulis/

 

Kadang mengajarkan sastra ke anak suka sulit, apalagi menyuruh mereka menulis puisi. Respons yang muncul biasanya tidak mengenakkan. Hal ini karena mereka memang tidak terbiasa memproduksi sebuah karya, atau dalam hal ini menulis puisi.

Untuk itu, strategi yang menarik mutlak diperlukan oleh seorang guru dalam mengajarkan puisi. Ada banyak teknik sebetulnya, namun dalam kesempatan kali ini kita akan membahas puisi akrostik.

 

APA ITU AKROSTIK?

Akrostik merupakan teknik menulis puisi yang menjabarkan singkatan kata tertentu. Singkatan ini bisa berbentuk apa saja. Misalnya, dari kata benda, kata sifat, maupun kata kerja.

Perhatikan contoh puisi berikut ini:

 

IMPIANKU

 

Dalam mimpiku aku berbaju putih

Orang-orang sangat membutuhkan tanganku

Karena aku mampu mengetahui penyakit dan mengobatinya

Tiap hari aku melakukan kebaikan

Enaknya bisa seperti itu

Rasanya ingin cepat menjadi dewasa

 

Dalam puisi ini, kata Doker di awal baris menunjukkan bagaimana cara menulis puisi akrostik ini. Setiap kata dalam kata Dokter diberi kepanjangan.

 

MANFAAT

Di antara manfaat yang bisa didapat dengan teknik menulis puisi akrostik ini adalah:

  1. Membuat siswa kreatif dalam berpikir
  2. Siswa terlatih untuk memaksimalkan kosakata yang dimilikinya
  3. Siswa dapat menulis puisi dengan menyenangkan karena tertantang memenuhi setiap baris puisi tersebut.

 

KEKURANGAN DAN KELEBIHAN

Tentu dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan teknik akrostik ini memiliki kekurangan dan kelebihan. Untuk kekurangannya adalah (1) siswa bisa saja jenuh jika tidak didampingi dan dimotivasi dengan baik oleh guru (2) guru harus lebih aktif menjadi fasilitator, dan (3) siswa yang memiliki kosa kata yang sedikit akan kesulitan. Kelebihan dari teknik ini adalah (1) siswa mampu menulis puisi jauh lebih cepat, (2) pembelajaran lebih menarik dari teknik menulis puisi konvensional, dan (3) siswa akan jauh lebih fokus dalam menulis puisi.

PURE LOVE

Mungkin istilah ini sering kita dengar, pure love atau cinta suci. Namun kita sendiri bingung untuk menerjemahkan kata ini dalam relita sosial kita. Hal ini mungkin menjadi rumit setelah kita mendengar arti cinta yang diselewengkan. Sex bebas, adalah salah satu penafsiran miring yang kadang-kadang menjadi tolak ukur untuk menakar sejauh mana cinta itu sendiri. Tentu saja hal ini jauh dari apa yang dimaksud dengan pure love. Lantas, apa yang dimaksud dengan pure love?

Bagi seorang muslim, penafsiran cinta tidak berhenti kepada seseorang yang kita kasihi. Cinta juga berarti cinta kita kepada Allah. Cinta inilah yang sebetulnya mengajari kita pada arti pure love itu sendiri.

Sejak awal Allah telah mengajari kita untuk bercinta, bagaimana kita menilai sesuatu untuk kemudian kita cintai. Tauhid memiliki makna agar kita tidak mendua, agar kita selalu percaya pada apa yang kita cintai. Kata-kata indah dalam cinta adalah syahadat yang berarti pengakuan yang maknanya kemudian berubah menjadi janji setelah kita ada di dalamnya.

Cinta kepada Allah adalah cinta yang gaib. Sebab objek yang kita cintai tidaklah berbentuk fisik bahkan kita tidak pernah melihatnya, namun cinta itu terus ada dan tumbuh dalam hati kita. Hal ini juga mengisyaratkan kita bahwa tidaklah cinta diukur dengan keindahan fisik, tidak juga dengan cantik. Cinta merupakan iman, di mana keyakinan dan kepercayaan melahirkan kesetiaan.

Saat cinta telah menjadi iman, segala cobaan akan dilewati dengan kesabaran. Selalu ada kesetiaan dan jauh dari pengkhianatan. Saat seperti inilah kita harus benar-benar bijak dalam menghadapi cinta. Meski kita bukan Tuhan, namun kejujuran, kasih sayang dan segala sifat yang ditiupkan-Nya ke dalam diri kita merupakan bekal kita untuk bisa menjaga cinta. Cinta suci yang didambakan hamba-hamba ilahi.

Mungkin inilah yang sebaiknya dijadikan pertimbangan bagi mereka yang ingin berkeluarga, memilih calon pasangan hidup hendaknya dengan pure love di mana keimanan menjadi dasar dari cinta yang akan dan terus tertanam dalam diri kita. Semoga Allah tetap menunjukan hidayah-Nya kepada kita. Amien..

 

GambarJudul Buku     :    Udah Putusin Aja!

Penulis            :    Felix Y. Siauw

Visual              :    Emeralda Noor Achni

Kategori          :    Non Fiksi

Penerbit           :    Mizania

Kota Terbit     :    Bandung

Harga              :    Rp. 59.000,-

Felix Yanwar Siauw adalah seorang Islamic Inspirator yang pada awalnya bukanlah seorang muslim. Pria kelahiran Palembang, 31 Januari 1984 lahir dahulu berada di lingkungan keluarga Katholik Tionghoa. Kegelisahan dan pencariannya akan Tuhan dan nilai-nilai ketuhanan akhirnya menuntunnya untuk menjadi seorang muslim ketika ia menjalani masa kuliah di Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB). Ustad Felix bertemu dengan sang istri di IPB, menikah di tahun ke empatnya menjadi muallaf dan saat ini beliau dikaruniai 3 putra dan putri.

Felix Yanwar Siauw juga seorang ustad sekaligus penulis buku dengan gaya kiasan twitternya dan karya-karya motivasional dan sejarah yang inspiratif. Karya-karyanya yang best seller antara lain, Beyond The Inspiration (April 2010), Muhammad Al-Fatih (Agustus 2011), How To Master Your Habits (Maret 2012), Udah Putusin Aja! (Februari 2013), Yuk Berhijab! (Juni 2013). Buku-bukunya ini laris manis di pasaran, selain mengandung motivasi juga mengandung banyak ilmu yang bermanfaat bagi pembaca.

Udah Putusin Aja!, salah satu buku best seller karya Felix Y. Siauw. Melihat covernya saja, buku ini sudah terlihat berbeda dari buku yang lain. Warna pink begitu mencolok dan dominan. Hal tersebut nampaknya cukup wajar jika melihat segmen dan target buku ini memang kalangan remaja. Terlebih lagi remaja putri. Ditambah lagi, buku ini merupakan sebuah graphic book. Di dalamnya berisi cukup banyak hiasan grafis dan rangsangan visual yang menarik. Hampir di setiap lembar halaman.

Dengan sangat apik dan gaya tulisan selayaknya membaca kicauan di twitter, Felix Y. Siauw menuntun kita untuk tidak salah kaprah dengan gaya namanya cinta. Bahasanya sangat renyah dan sarat ilmu tanpa terkesan menggurui. Argumennya masuk akal dan masuk di hati. Terkadang lembut memberikan kita pemahaman, sering juga menusuk tanpa ragu membeberkan kesalahan dan mengangkat kebenaran. Salah satunya adalah, “Tau nggak, “cuma” itu kata yang berbahaya. Karena semua kemaksiatan awalnya juga “cuma”. Selingkuh itu awalnya, ya “cuma” teman. Hamil itu juga awalnya “cuma” pegangan.”(hlm.49).

Dan dengan gayanya yang “blak-blakan”, beliau memasukkan sebuah pesan elektrik yang masuk ke e-mailnya di halaman awal buku pesan ini dari seorang wanita yang curhat kepada beliau, menurut saya kisah tersebut terlalu vulgar namun ustad memberikan contoh konkret akan masalah-masalah dan dampak yang ditimbulkan ketika pacaran.

Buku ini berujar tentang cinta, cinta sebagai fitrah manusia yang selayaknya tidak dikotori dengan perbuatan-perbuatan yang tidak seharusnya. Bahwa cinta adalah pemberian Allah dan karunia-Nya. Allah menanamkan rasa cinta pada jiwa kita sebagai bentuk dari rasa cinta-Nya kepada kita agar kita berpikir tentang-Nya. Hal-hal kecil yang sering disepelekan namun mengotori makna cinta itu sendiri, serta alasan-alasan yang sering digunakan para pasangan yang sedang berpacaran sebagai pembenaran atas perbuatan mereka juga dijabarkan dan disanggah dalam buku ini.

Salah satunya yaitu: “Saya nggak bisa bayangin. Gimana bisa pernikahan tanpa pacaran? Kan nggak saling mengenal? Lha yang sudah kenal aja bisa cerai, apalagi yang nggak pacaran?emanganya kita beli kucing dalam karung?” (hlm. 110)

Buku setebal 180 halaman ini bukan hanya membahas alasan-alasan mengapa kita tidak boleh menjalin hubungan yang tidak seharusnya dengan orang yang bukan mahram, tapi juga memberi solusi untuk menjalankannya agar tidak terjadi “galau”. Selain solusi bagi yang belum siap untuk menikah agar meninggalkan proses pacaran, dipaparkan pula solusi tentang bagaimana cara membuat hubungan yang tidak halal menjadi halal, tentunya bagi orang-orang yang sudah siap untuk melakukannya.

Tampilan buku ini sangatlah menarik, selain karena buku ini full color, isinya juga bukan dengan teks yang panjang-lebar seperti buku-buku lain, tetapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang menarik dan kalimat-kalimat singkat namun mengena saat dibaca. Dengan penampakan seperti ini, apalagi warna covernya yang pink, buku ini seolah hanya ditujukan bagi para remaja putri. Padahal buku ini juga cocok dibaca oleh kaum Adam, agar mereka mengerti bagaimana seharusnya bertindak dan tidak berprasangka buruk kepada para perempuan yang ingin menjaga jarak dengan lelaki yang bukan mahramnya. Di dalamnya juga berisi kisah – kisah yang mengispirasi dan menjadi cermin untuk anak muda generasi Islam.

Buku ini tidak sekedar provokasi untuk mengakhiri pacaran, tetapi berisikan pengetahuan yang dalam. Ringan, tetapi nilai-nilai Islam sebagai dasar menjalani cinta dapat kita temukan di buku ini.

Kelugasan yang berpadu dengan kejenakaan menjadi keunggulan buku ini tampilan warna merah jambu yang cerah, menjadi penarik agar pembaca segera merasakan nuansa cinta sebagian tema yang dibicarakan buku ini. Sebagian pelengkap, terdapat pula ilustrasi-ilustrasi menarik yang di buat oleh Emeralda Noor Achni, termasuk ilustrasi Ustad Felix, yang akan membuat pembaca seakan sedang beriteraksi langsung dengan penulis. Ilustrasi imutnya menjadi ‘senjata’ yang membuat pembahasannya terasa lebih ‘bersahabat’ pancaran versus menikah menjadi tema yang dijelaskan dengan gamlang dan tidak kaku. Jika buku tentang pacaran lainnya kebanyakan menjelaskan lewat rahasia, kalau buku ini ada selipan dialog yang digambarkan dengan bentuk komik sehingga remaja yang membacanya lebih mudah menyerap pesan yang disampaikan.

Kedinamisan tampilan di dalamnya dapat menjadi kekurangan dari buku ini, apabila pembaca tidak mengerti urutan dari tulisan yang ada. Adapun hal lain yang kurang dari buku ini adalah tidak ada daftar pustaka sebagai rujukan, index, dan glosarium. Mungkin penerbit melupakannya karena ini buku untuk remaja dan mengira remaja tidak memerlukannya. Semoga pada ketik ulang berikutnya sudah disertakan.

Udah Putusin Aja!, sebab apapun namanya, kelak akan bersaksi seluruh bagian tubuh di hadapan Allah. Karenanya, sedari dini mari kita mendidik cinta, mengajarnya agar ia bersemi dalam taat, bukan direndahkan oleh maksiat. Ajarkan cinta agar ia benar hingga membuat pemiliknya terhormat, bukan nista yang ditanggung karena terbuai cinta yang terlaknat.

Udah Putusin Aja! pantas menjadi koleksi Anda, dan rasakan sendiri isi buku ini.

Ditulis oleh: Anita Putri Lesmana

Judul               : Tak Sempurna

Editor              : Fahd Djibran dan Bondan Prakoso & Fade2Black

Penerbit           : Kurniaesa Publishing

Harga              : Rp 46.000,00

Tebal Buku      : i x 245 halaman

Tahun Terbit    : 2013

ISBN               : 978-602-7618-15-2

Gambar Karya sastra adalah hasil sebuah perenungan yang mendalam dari seorang pengarang dengan media bahasa. Pengarang menuangkan pikiran, perasaan, pengalaman, ide-ide, dan semangat keyakinan dan kepercayaannya yang diekspresikan ke dalam sebuah karya sastra. Karya sastra mampu memberikan kesadaran dan pengalaman batin bagi pembacanya. Menurut Sumardjo dan Saini (1991: 10), pengalaman manusia merupakan akumulasi yang utuh karena meliputi kegiatan pikiran, nalar, kegiatan perasaan, dan khayal. Kenyataan adalah sesuatu yang dapat merangsang atau menyentuh kesadaran manusia, baik yang ada dalam dirinya, maupun yang ada di luar dirinya.

Dunia pendidikan atau dunia sekolah merupakan dunia yang sangat kompleks yaitu miniatur kehidupan manusia. Pendidikan membutuhkan sebuah sistem yang dapat mengatur jalannya pendidikan dengan baik. Sistem pendidikan yang tak ramah anak, hanya akan menciptakan generasi-generasi robot, yaitu penurut namun tanpa kecerdasan kreativitas dan kecerdasan moral. Akhirnya generasinya akan tergelincir dengan melakukan korupsi, seks bebas, tindak kekerasan dan kejahatan. Keadaan ini tergambar dari novel karya Fahd Djibran dan Bondan Prakoso & Fade2Black yang berjudul Tak Sempurna.

Tak sempurna ini bercerita tentang sistem pendidikan yang salah yang ada di suatu kota di Indonesia. Sebuah kota yang anak-anaknya tumbuh tanpa memperoleh kasih sayang dari keluarganya karena mayoritas mereka tumbuh dari keluarga broken home. Akan tetapi, mereka tetap bisa merasakan sekolah. Namun, sekolah hanya dijadikan tempat “penitipan anak” bagi orang tua yang sibuk atau “tempat pembuangan anak” bagi orang tua yang tak peduli pada mereka dan ajang adu gengsi.

Dalam cerita ini, ada seorang anak yang bernama Rama Aditya Putra, yang biasa dipanggil Rama. Dia bersekolah di SMA Lazuardi. Saat di sekolah, dia menemukan hal-hal yang seharusnya tidak ditemukan di sekolah, seperti; berkata-kata kotor, guru-guru munafik, menonton video porno, seks bebas, narkoba, minum-minuman keras, dan sebagainya dapat mereka lakukan dengan bebas tanpa ketahuan guru dan orang tua. Selain itu, mereka juga  dididik untuk berkelahi oleh senior-seniornya agar mereka dapat melawan musuh saat tawuran antarsekolah. Di sinilah mereka tidak pernah menghargai guru atau orang yang lebih tua sehingga mereka bisa melawan orang-orang yang lebih tua dari dirinya tanpa segan dan merasa bersalah.

SMA Lazuardi sering sekali melakukan tawuran dengan SMK Citra Bangsa yang penyebabnya hanya hal-hal kecil, seperti: saling mengejek antarpelajar yang berbeda sekolah, rebutan wanita,dan hal lainnya. Menurut mereka tawuran ini sebagai wujud mempertahankan harga diri. Walaupun tawuran ini sering sekali memakan korban. Namun, hal ini tidak membuat mereka jera. Masing-masing sekolah ada seorang siswanyanya yang meninggal saat tawuran berlangsung. Mereka terus memiliki rasa dendam antarsekolah sehingga tawuran terus terjadi dan tidak bisa dihindari.

Sampai suatu ketika kedua sekolah itu mengadakan rekonsiliasi, yaitu semacam perjanjian untuk berdamai antarsekolah. Meskipun sudah dilakukan hal seperti itu, tawuran pun masih tetap terjadi. Akhirnya, antarsekolah membuat keputusan jika siswanya masih ada yang melakukan tawuran akan dikeluarkan dari sekolah dengan tidak hormat dan polisi akan menindaknya secara tegas sesuai hukum yang berlaku. Semoga peristiwa ini bisa membuat para siswa jera.

Cerita ini memberikan pesan kepada para pembaca khususnya para peserta didik bahwa untuk mempertahankan harga diri tidak dengan berkelahi atau tawuran antarpelajar sebab dengan berkelahi atau tawuran tidak ada untungnya dan tidak menyelesaikan masalah, bahkan hanya menimbulkan masalah-masalah baru dan menciptakan musuh yang banyak. Seharusnya peserta didik tidak menyelesaikan suatu masalah dengan emosi dan jangan sampai emosi menguasai diri kita sehingga kita melakukan hal-hal asusila. Masalah yang terjadi diselesaikan dengan kepala dingin dan memikirkan risiko-risiko yang akan terjadi agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.  Inilah tugas para pendidik untuk dapat mampu menanamkan ilmu agama yang baik kepada peserta didik agar mereka  memiliki moral dan akhlak yang baik juga.

Kelebihan dari novel ini, dilihat dari segi fisiknya yaitu: cover buku yang menarik, sebab gambar covernya seragam sekolah yang berdarah dengan maksud menggambarkan isi dari cerita novel tersebut yaitu terjadinya tawuran yang menyebabkan para siswa luka-luka bahkan sampai meninggal. Tulisan dan lembaran-lembaran kertas utuh dan jelas (tidak ada bagian yang hilang). Dilihat  dari segi isinya, alur yang digunakan dalam cerita ini jelas karena ceritanya saling berkesinambungan antara bagian pertama ke bagian selanjutnya, “Aku tak ingin bel tanda pelajaran berakhir membunyikan babak permulaan sebuah “peperangan” (hal. 47). Di bagian selanjutnya menceritakan risiko dari tawuran “kehilangan satu kaki benar-benar tak pernah kubayangkan sebelumnya” (hal. 89), di bagian selanjutnya juga menyatakan penyesalan atas perilaku yang telah dilakukannya yaitu tawuran “Rama bener-bener nyesel dan Rama pengen minta maaf sama mama” (hal. 107). Gaya bahasa yang digunakan dalam cerita ini gaya bahasa anak muda sehingga mudah dipahami oleh para pembaca.

Hal yang menarik dari cerita ini juga terlihat dari  isi ceritanya, menceritakan realita yang terjadi dalam pendidikan masa kini mengenai tawuran, seks bebas, tidak menghargai orang yang lebih tua, memakai narkoba, dan lain sebagainya. Semua itu dapat dilakukan dengan bebas tanpa ada guru atau orang tua yang mengetahuinya.  Oleh sebab itu, sistem pendidikan harus diperbaiki agar tidak menciptakan generasi penerus yang hancur yaitu dengan tidak memiliki moral yang baik. Jika sudah dapat menciptakan sistem pendidikan dan para pendidik yang baik maka akan memperoleh generasi penerus yang baik juga.

Selain itu, latar/setting yang digunakan dalam cerita ini juga jelas dan detail. Khususnya, latar waktu dalam cerita ini disertai dengan tanggal, pukul, atau bahkan tahun “14 September 2011, setahun lalu, salah satu teman kami, Andri terbunuh di jalan ini, Jalan Bypass…” (hal.63).  Sudut pandang yang digunakan dalam cerita ini yaitu orang pertama sebagai tokoh utama karena dia menceritakan dirinya sendiri dan menggunakan kata ganti aku, “sekarang, mungkin semua  yang kuceritakan ini terdengar berlebihan” (hal.13). Akan tetapi, ada beberapa hal yang membuat cerita ini kurang lengkap yaitu tidak menceritakan mengenai akhir dari cerita ini, apakah para siswa jera untuk tidak tawuran lagi  sehingga pembaca tidak mengetahui perasaan dari akhir cerita ini. Dalam cerita ini, pengarang menggunakan bahasa anak muda, sehingga muncul kata-kata yang kotor atau kasar, seperti: “tai, lo!” (hal. 67), “Anjing! Chibabanx udah deket!”.

Cerita ini memiliki tingkat keterbacaan yang cukup tinggi sebab mudah dipahami oleh para pembaca. Selain itu juga bahasa yang digunakan oleh pengarang bahasa anak muda sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Cerita ini menceritakan tentang realita yang terjadi dalam sistem pendidikan saat ini sehingga para siswa dapat  melakukan pergaulan bebas, narkoba, para pendidik yang memaksa para siswa untuk menjadi apa yang para guru inginkan, mereka tidak diberikan kebebasan untuk mempunyai mimpi dan harapan sesuai dengan keinginan mereka, “pak guru, bu guru! Saya  ingin menciptakan pohon baru. Pohon yang tidak dipunyai oleh siapapun” (hal. 42). “Tidak boleh kamu hanya boleh menanam pohon yang benihnya telah kami siapkan” (hal. 43). Setelah peristiwa itu, siswa tersebut menjadi generasi yang hancur sebab dia tidak mempunyai pohon impian sesuai apa yang dia inginkan.

Cerita ini cocok dibaca oleh para orang dewasa, khususnya orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan agar mereka dapat memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia dan menciptakan generasi penerus yang baik moralnya, akhlaknya, dan berkualitas dalam segala hal. Selain buku ini cocok dibaca untuk orang dewasa, buku ini juga cocok digunakan oleh para remaja agar ia dapat mengambil banyak pelajaran yang diceritakan di dalam buku ini.  Dengan membaca cerita ini dijamin pembacanya akan merasa ikut terbawa dalam situasi yang mencekam dan dapat memetik banyak manfaat dari ceritanya. Selamat membaca!!

Ade Hikmat

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Pascasarjana Uhamka, Jakarta

Abstak

Kegiatan menulis adalah upaya dalam mengaktualisasikan diri setiap individu. Penelitian tindakan kelas ini ingin melihat meningkatkan kemampuan menulis paragraph siswa SMA dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Introduction. Keberhasilan model pembelajaran problem based introduction memberikan manfaat yang sangat besar untuk meningkatkan kemampuan menulis paragraf. Kemampuan tersebut dapat dicapai jika di antara siswa dalam kelompok tersebut kooperatif untuk melakukan pemecahan masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran problem based introduction sangat besar untuk meningkatkan kemampuan menulis paragraf.

Kata Kunci: menulis paragraph, problem based Introduction, PTK.

Untuk mengunduh artikel karya Dr. Ade Hikmat, M. Pd. ini, dapat mengklik di sini.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.