Tips Menulis

PARAGRAF PEMBUKA, PARAGRAF PENENTU CERITA

Pada awal oktober 2004 saya menghadiri Jambore Sastra yang bertempat di pantaiLombang. Sebuah pantai yang ada di Sumenep. Acara itu begitu semarak dengan kedatangan sejumlah sastrawan yang berasal dari Madura dan Surabaya. Salah satunya adalah M. Shoim Anwar. Cerpenis yang berasal dari kota pahlawan ini sedikit menjelaskan tentang proses kreatifnya dalam pembuatan cerpen.
Ketika itu ia bilang, ia hampir dalam setiap cerpennya beberapa kali menggantiparagraf pembuka. Karena ia merasa paragraf pembuka pada cerpennya masih kurang. Bayangkan ia membuat 5 atau bahkan lebih hanya untuk membuat paragraf pembuka pada cerpennya. Sebuah usaha yang cukup keras.
“Paragraf pembuka menentukan baik tidaknya sebuah cerpen,” begitu ujarnya.
Bagaimana membuat paragraf pembuka agar bisa menarik? Ini adalah sebuah pertanyaan yang membutuhkan usaha yang keras.
Dalam satu kesempatan, ibu Asma Nadia pernah bilang kepada saya tentang pentingnya paragraf pembuka. Ia memberi sedikit masukan kepada saya tentang bagaimana membuat paragraf pembuka. Salah satunya adalah dengan membuat diskripsi-diskripsi yang menggantung dengan maksud agar pembaca bertanya-tanya.
Bagaimana yang menggantung itu? Berikut saya mengambil paragraf pembuka dari cerpen Indra tranggono yang berjudul Malaikat Kecil. Meskipun tubuhku telah rapat pukulan Bapak, masih saja pukulan demi pukulan itu kuterima. Teriakan dan tangisan minta ampunku pun gagal meredam amarahnya. Dengan wajah beringas menumpahkan sumpah serapah penuh aroma alkohol, Bapak terus menghajarku…
Dari kalimat di atas kita sudah bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Sang Aku dipukul oleh bapaknya? Salah apakah Sang Aku sehingga bapaknya tidak puas memukul walaupun di sekujur tubuh Sang Aku sudah babak belur? Apakah ia membuat kesalahan yang besar sehingga teriak ampunan Sang Aku tidak didengarkan olehnya?
Begitulah, hanya lewat satu paragraf sudah membuat otak para pembaca bertanya-tanya dan ingin terus mengikuti ceritanya hingga akhir. Inilah peran penting sebuah paragraf pembuka yang sering disebut sebagai lead.
Selain lewat diskripsi, kalian juga bisa membuat pembaca penasaran lewat percakapan tokoh cerita yang ada dalam cerita kalian. Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak minta tolong dengan suara yang lantang. “Tolong! Tolong!” hingga berkali-kali. Dan pembaca akan segera menebak-nebak cerita yang kalian buat lewat pertanyaan-pertanyaan yang terbentuk dari otaknya sendiri. Siapa yang minta tolong? Kenapa…? Apakah…? bagaimana..? dsb.
Bila kalian ingin mengikuti sebuah lomba atau kalian ingin mengirim naskah kalian ke media ternama. Paragraf pembuka inilah yang akan menjadi angel-nya kalian. Karena dalam banyak lomba, para juri lebih memilih membaca hanya pada paragraf pembukanya saja karena saking banyaknya naskah yang masuk untuk dibaca dan disleksi. Begitupun halnya dengan media ternama. Untuk Kompas saja setiap minggunya hampir sepuluh atau lebih naskah yang masuk ke meja redaksi.
Maka dari itu, benahi cerita kalian sekarang juga. Lihat paragraf pembukanya. Dan kirimlah karya kalian sekarang juga!

Iklan

5 thoughts on “PARAGRAF PEMBUKA, PARAGRAF PENENTU CERITA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s